Wednesday, 18 July 2018

Robinson Crusoe, Daniel Defoe

Tak ada hari yang cukup menyebalkan, ketimbang basah kuyub di siang bolong seusai diguyur air oleh segerombol orang tak dikenal di jalanan. Entah mengapa tak ada rasa amarah yang meledak setelah insiden itu, meskipun jika kelak berjumpa lagi, tentu hasrat untuk menghadiahi mereka dengan beberapa bogem mentah tak akan pernah sirna.

Mungkin kesialan itu masih belum setara jika dibandingkan dengan  kegilaan Robinson Crusoe dalam petualangannya. Buku itu menghantui pikiran saya dalam beberapa hari terakhir. Ditambah lagi nasib pengarangnya yang mesti bergulat dengan penagih hutang semasa hidupnya, hingga memutuskan menulis sebuah karya fiksi. Hal itu kemudian semacam mereduksi kekesalan saya dan kesialan yang menghampiri saat itu. Perlahan-lahan semburan air plus botol air mineral yang dilemparkan dari kaca jendela mobil itu tak berarti apa-apa. Kisah milik Daniel Defoe itu menggema panjang dalam ingatan saya beberapa hari terakhir ini dan mungkin dalam waktu  yang panjang.

Ini sebuah kisah petualangan seorang pria bernama Robinson Krautzer, yang kemudian lebih akrab dikenal sebagai Robinson Crusoe,memutuskan keluar dari rumah seusai bersitegang dengan keluarganya. Ia memulai kehidupan barunya tanpa pernah terbesit pun pikiran tentang  hal-hal gila yang kelak menghampiri perjalanannyan dan kelak ia sendiri yang mengambil alih narator cerita ini.

Kisah yang dibuat dalam bentuk jurnal ini, dituliskan lengkap dengan tanggal, serta hari-harinya. Kejadian-kejadian ia ceritakan kembali dengan sederhana, terkadang menyelipkan humor gelap yang terasa getir. Dalam perjalanan yang ia tempuh  selama hampir bertahun- tahun bertualang, Robinson Crusoe merasakan perjalanan mengarungi lautan ganas yang hampir merenggut nyawanya, bertarung melawan kanibal, sebelum akhirnya ia terdampar di Trinidad.

Cara bercerita Robinson Crusoe yang menggunakan narator sudut pandang  orang pertama, membuat semua detail terasa lebih dekat dan intens.  Buku ini memang dipublikasikan hampir tiga ratus tahun yang lalu, dan entah mengapa rasanya masih akan tetap asik untuk ditengok kembali. Bahwasanya dalam hidup ini, tak akan pernah ada yang tahu kegilaan macam apa yang kelak menghampirisebagaimana Robinson Crusoe dalam kisah petualangannya.

Membaca buku ini pada akhirnya membuat saya sedikit berpikir, bahwasanya sebuah ketidak beruntungan yang menghampiri bisa menjadi hal yang istimewa untuk diingat, dan tak perlu diambil pusing kemudian. Semua itu pada akhirnya tak lebih dari petualangan penuh kegilaan sebagaimana kisah milik Daniel Defoe akan terus terngiang hingga kapanpun.

D S

No comments:

Post a Comment