Tuesday, 6 March 2018

Kisah yang Tak Usai

Sial. Saya selalu benci pada perasaan sentimentil ketika akan berhadapan dengan sebuah perpisahan. Brengseknya, hal itu menghinggapi hari-hari saya menjelang sebuah perpisahan dengan seorang kawan. Perpisahan atas sebuah kisah yang tak usai. Petualangan yang harus berakhir karena plot cerita dalam hidupnya telah berubah dan otomatis semuanya pun berubah. Semua terjadi begitu aja. Tiba-tiba dan tak terhindarkan.

Sama halnya dengan kisah The Castle milik Franz Kafka yang juga tak selesai. Ya ya saya tahu, ini akan melipir ke hal lain yang tak berkaitan sama sekali. Tapi dalam perasaan yang  kalut seperti ini, ada yang membuat kedua hal itu lumayan mirip.  Kedua hal itu lambat laun akan bermuara pada sebuah akhir. Dalam kondisi itu saya mencoba menempatkan diri menjadi seorang kawan dan pembaca yang baik. Bagimana pun juga seorang kawan harus saya berusaha memahami kondisi kawannya dan sebagai seorang pembaca juga harus bisa mencoba apapun yang terjadi dengan kisah The Castle yang harus berakhir demikian adanya.

The Castle dimulai dengan seorang tukang ukur tanah yang dibangunkan dari tidurnya, kemudian sekelompok orang yang mengaku memiliki otoritas atas wilayah kastil memerintahkan sang tokoh utama bernama K. untuk melapor kepada pihak kastil. K. kemudian dihadapkan dengan birokrasi yang rumit dan berbelit-belit. Seperti konflik-konflik yang senantiasa muncul dalam kisah-kisah Kafka, sang tokoh dizolimi dengan permasalahan yang tak bisa dihindirinya sekaligus untuk dihadapinya. Kali ini kastil itu menjadi sebuah simbol kekuasaan yang menerornya. Sang tokoh protagonis kali ini membuat saya terus berharap pada sebuah penantian.

Novel ini dipublikasikan di akhir tahun 20an. Tepat ketika kesehatan Kafka sedang memburuk, dan tak lama berselang menutup usianya. Ia berpesan kepada literary executor-nya, Max Brod, untuk memusnahkan seluruh manuskrip dan segala tulisan-tulisan yang pernah ia garap, termasuk kisah ini. Untungnya hal itu tak terwujud. Hingga novel ini bisa berada di tangan saya. Di balik usianya yang sudah berumur enam puluh tahun, dan lembar-lembarnya yang mulai menguning. Ini buku istimewa dari penulis yang juga begitu istimewa.

Dengan akhir kedua kisah ini yang harus berakhir demikian, maka saya mencoba menempatkan diri saya menjadi seorang kawan yang akan selalu mengerti kondisi permasalahan yang dihadapi kawan saya; serta memahami alasan dibalik nasib yang menimpa novel ini. Apapun akhir kedua kisah itu, toh ujung-ujungnya keduanya bermuara menuju sebuah akhir. Dan hingga kapanpun, saya akan selalu menanti untuk mendengar lagi kisah dari kawan saya ini dan tentunya membaca kembali novel ini yang akan mengingatkan saya pada seorang teman dan penulis hebat di masa itu. Maka dalam hal ini, saya akan merindukan kedua hal itu dengan menantikannya.

D S

No comments:

Post a Comment