Friday, 30 March 2018

Kafka on The Shore, Haruki Murakami

Sudah cukup lama saya tak membaca buku-buku Murakami. Seingat saya ada dua buku Murakami yang yang telah saya baca berkali-kali dan selalu menyenangkan untuk dibaca kembali. Salah satunya adalah Kafka On The Shore. Sebuah kisah tentang bocah lima belas tahun  yang memutuskan minggat dari rumah dan tinggal di sebuah perpustakaan. Kau bisa menyebutnysebuah karya picaraesque jika melihat banyak elemen-elemen itu dalam kisah ini.


Sang tokoh utama merupakan bocah lima belas tahun bernama Kafka Tamura, memutuskan minggat dari rumah. Sesederhana itu sebenarnya asal muasal kisah ini bermula. Kemudian masa lalu sang tokoh mengantarkannya pada sebuah pertemuannya dengan wanita yang cukup misterius di sebuah perpustakaan misterius, lagu yang tak kalah misterius, dan perpustakaan yang kelak menjadi persinggahan selama perlariannya. 

Bukan Murakami namanya jika tak membuat semacam perayaan terhadap penulis-penulis panutannya. Kali ini Kafka tampaknya menjadi sosok yang dijadikan elemen (dari judul pun siapapun akan bertanya-tanya) dalam kisah ini. Rasanya penulis kelahiran Ceko yang tersohor itu akan mengangkat alisnya di peristirahatannya saat membaca buku ini.

Yang membuat saya menarik pada novel ini ketika bocah tersebut berkali-kali berada pada sebuah keadaan yang membuatnya mengira jika seorang perempuan misterius yang dijumpainya adalah ibunya. Bagi anak lima belas tahun dengan masa lalu perih seperti Kafka tentu hal ini tak ubahnya sebuah pencarian tanpa henti. Ibu bagi setiap anak adalah cinta pertama yang tak akan bisa terelakan. Hingga kapanpun. Dan Kafka benar-benar berada dalam sebuah pusaran badai kehidupannya sendiri.

Sebesar-besarnya badai dalam kehidupan, musik dan buku memang akan selalu menjadi pemandu hidup seseorang. Setidakny kedua hal itu tak ubahnya virus-virus kecil yang merasuki pikiran yang sedang kalut dengan kejamnya dunia dan lingkungan sekitar. Hasilnya tentu saja sebuah pintu baru yang akan dimasuki. Dalam konteks ini tentu si protagonis, Kafka Tamura.

Yang membuat kisah ini kian menarik adalah beberapa karya film, musik dan buku yang kerap muncul di beberapa adegan. Murakami tampaknya tak sungkan memberikan rekomendasi film klasik karya Francois Truffaut (400 blows), karya sastra klasik timur tengah The Arabian Nights, hingga buku  Ernest Hemingway.

 400 Blows adalah film yang tentang seorang anak laki-laki yang tak mampu menikmati masa-masa kecilnya. Kehidupan Paris yang penuh gemerap kaum borjuis, terlalu awal merenggut masa kecilnya. Tunggu.  Sedikit ada persamaan nasib antara Antoine Doinel dengan Kafka Tamura yang tak memiliki masa kecil yang ideal layaknya bocah-bocah seusia mereka. 

Untuk kesekian kali saya akan mengatakan buku ini tak pernah membosankan. Dengan hampir lebih dari empat ratus delapan puluh halaman didalamnya, selalu ada hal baru yang bisa ditemukan. Berulang-ulang tanpa terasa berlebihan. Mengambil kutipan dalam buku ini "Kau akhirnya akan terlelap. Dan ketika kamu bangun, itu betul. Kau adalah bagian dari sebuah dunia yang baru."

D S

No comments:

Post a Comment