Thursday, 15 March 2018

Aunt Julia and the Scriptwriter, Mario Vargas Llosa

Apa konflik cinta terbesar yang kerap terjadi antara pria dan wanita ? Yang sering ada mungkin masalah perbedaan suku, agama, dan budaya. Hal-hal macam itu biasanya kerap menjadi ganjalan bagi kelangsungan hubungan asmara dua orang muda mudi, atau pria dan wanita dari berbagai usia. Mario Vargas Llosa kali ini membagi pengalaman kisah cintanya yang bisa dibilang cukup tak biasa juga bagi siapapun saya rasa.

Seorang seorang penulis skrip tak pernah menyangka jika ia kelak akan jatuh  hati pada bibinya sendiri. Berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, pada akhirnya pun sang penulis kemudian memutuskan menikah dengan sang bibi (meskipun tak sekandung). Jelas hal  itu bukan lagi kisah cinta yang terjal, melainkan namun sudah menjadi sebuah aib. Bukan saja  bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya, sebagaimana semua drama itu tersaji sepanjang cerita dalam novel ini.

Marito, sang protagonis, memilih untuk memberontak demi cintanya. Dalam hal ini, terkadang kecurigaan saya kian menjadi. Bahwasanya seseorang yang sedang dimabuk asmara akan melakukan hal-hal diluar nalar manusia normal. Dalam konteks kali ini tentu sebuah hasrat untuk menikahi perempuan yang dicintainya yakni sang bibi. Mungkin semua hal itu akan terdengar begitu naif pada akhirnya, apalagi bagi seorang mahasiwa hukum di Peru yang tengah memiliki mimpi meniti karirnya kepenulisannya di Perancis.


Dalam karya ini Mario Vargas Llosa mungkin bisa menjadi semacam penasehat bagi siapapun tanpa memandang gender. Ketika otoritas pemerintahan setempat tak memungkinkan menjalankan upacara pernikahan, Marito (panggilan untuk Mario kecil) memutuskan  melangsukankan pernikahan di sebuah desa yang memungkinnya mewujudkan hal itu.  Disana ada sebuah celah kecil di dalam hukum untuk merealisasikan kisah cinta mereka itu. Tentu kisah ini akan menjadi sebuah kisah yang langka. Siapapun bisa menjadikannya sebuah pelajaran dari berbagai sisi.

Mario Vargas Llosa seolah memperlihatkan sebuah kenyataan jika setiap manusia bisa saja jantuh cinta dengan siapapun.  Dengan perempuan yang lebih tua darinya atau lelaki yang lebih muda dari dirinya. Perkara hati memang tak pernah bisa ditebak.  Hampir mustahil memperkirakan kapan perasaan itu datang, dan perilaku orang-orang yang sedang jatuh hati memang kadang memicu berbagai akal untuk memuluskan segala rencana gila mereka, hingga  tak jarang hal itu membuat siapapun bisa membuatnya mengambil sebuah keputusan nekat. Pada akhirnya novel ini membawa saya kemana-mana. Sebuah kisah cinta tanpa sedikitpun mencoba mengumbar bualan klise yang kelewat manis.

D S







No comments:

Post a Comment