Monday, 26 February 2018

Karnak Cafe, Naguib Mahfouz

"Di negara kita ada beberapa orang religius. Kepentingan mereka adalah melihat agama mendominasi seluruh ranah kehidupan, filsafat, politik, moralitas dan ekonomi." Sepenggal kalimat dalam novel ini kurang lebih menggambarkan suasana Mesir yang bergejolak oleh perang saat itu.

Judul cerita ini pun sebenarnya diambil sebuah kafe tempat berkumpulnya orang-orang berbagai golongan, sekaligus tempat mencurahkan pemikiran serta keluh kesah mereka. Ketika negara mereka yang sedang mengalami konflik berkepanjangan. Kafe ini menjadi tempat mereka melepas penat, sekaligus berkumpulnya orang-orang terpinggirkan, sambil terus mengharapkan keadilan ditegakkan

Para pemuda yang dianggap memberontak dipenjarakan, dan siapapun mencoba menyuarakan pemikiran yang bersebrangan dengan pemerintah harus bersiap-siap merasakan dinginnya jeruji besi. Penjara tampak menjadi sebuah tempat yang kerap ditonjolkan sepanjang kisah. Persikusi politik di Mesir benar-benar menjadi mimpi buruk yang panjang. Para pemuda tak berhenti menyusun rencana mengakhiri kekejaman penguasa.

Sang pemilik kafe adalah bekas seorang penari terkenal, Qurunfula. Dahulu sosoknya amat dipuja karena profseinya itu, bahkan seorang lelaki sampai rela menjadi pelayan di kafe miliknyaa. Kiranya itu satu dari sekian drama yang terjadi di Karnak. Ada pula para polisi rahasia  berkeliaran disekitarnya. Hingga sepotong kalimat dalam kisah ini akan mampu memberi sebuah pengertian. "Terkadang ada banyak bangsa yang hilang ingatan, namun tidak pernah bertahan selamanya."


D.S

No comments:

Post a Comment