Saturday, 10 February 2018

The Incredible and Sad Tale of Innocent Eréndira and Her Heartless Grandmother, Gabriel Garcia Marquez

"Erendira sedang memandikan neneknya ketika angin kemalangan mulai berhembus" . Begitu kira-kira novel ini dibuka. Erendira, bocah perempuan polos belum genap berumur empat belas tahun itu tak menyadari jika dirinya  akan berhadapan dengan sebuah kemalangan yang tak terelakan. Salah satu kemalangan itu adalah neneknya sendiri.

Erendira benar-benar tak punya pilihan untuk melawan nasibnya. Di saat anak-anak seusianya bisa menikmati kebebasan untuk waktu bermain bersama teman-temannya, ia justru harus melewati hari-harinya bersama nenek kandung tak berhati, yang lebih rupanya amat menyerupai penyihir tua yang jahat seperti dalam dongeng anak-anak umumnya.

Mungkin benar adanya jika dunia itu kejam, saking kejamnya hal itu harus tiba lebih awal bahkan terlalu awal untuk Erendira, ketika secara tak sengaja ia lupa menutup jendela kamarnya, hal itu menyebabkan kecelakaan mengerikan di rumah neneknya. Dari situlah kemalangan Erendira kian menjadi.

Semilir angin yang berhembus menghela halus Erendira, berbanding terbalik dengan kehidupan menghantamnya kian keras hari demi hari. Ia tak bisa mengelak dalam perbudakan yang membelunggu hidupnya. Tak ada sosok yang lebih malang dari seorang bocah yang harus menjadi budak bagi neneknya sendiri. Bisa dikatakan jika ia adalah simbol kemalangan, jika tak bisa dibilang korban kerasnya kehidupan yang kejam.  Dalam hidup ini kesalahan kecil akan mengantarkan siapapun pada kemalangan tanpa akhir.

Novella yang dibuat tahun 1972 ini lebih dari sekedar kisah drama keluargan antara cucu dan neneknya. Ada kisah cinta terselubung di dalamnya, hingga  kisah kriminal yang dramatis. Kecenderungan Gabo pada kata-kata puitis dalam kisahnya, benar-benar mengantarkan pada satu kesimpulan. Pada akhirnya angin kemalangan itu tampaknya tak pernah bisa sirna di dalam sebuah kehidupan.

D.S


No comments:

Post a Comment