Monday, 5 February 2018

The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoevsky

Saya sempat merasa ragu untuk menulis jurnal atas pembacaan buku yang satu ini. Pasalnya, buku ini cukup menguji kesabaran dalam sembilan ratus halaman di dalamnya. Setelah menyelesaikannya pun, saya rasa apa yang dipaparkan Dostoevsky dalam kisah ini amat menekan.  Ada drama keluarga, kisah kriminal, nilai-nilai keagamaan, perdebatan moralitas dan kisah masing-masing tokoh yang membuat saya kian sepakat untuk menyebut buku ini sebuah mahakarya dari sang penulis. Saya pun tahu diri melihat keterbatasan saya menyelami pemikiran sang penulis. Paling tidak, satu bulan saya tak terbuang percuma menikmati dua belas buku, dengan  puluhan karakter di dalamnya. Penggambaran psikologis setiap karakter di dalamnya menawarkan sebuah sudut pandang lain melihat sebuah cerita, namun saking banyaknya karakter dalam buku ini jelas memberi dampak, salinan tokoh pada secarik kertas yang amat banyak, pada tempo cerita yang berjalan lambat. Sosok Alexei digambarkan bak seorang pahlawan oleh sang narator, dan bisa dikatakan ia sosok yang paling beriman ketimbang saudaranya yang lebih tua yang justru seorang ateis. Alosya (panggilan akrab Alexei dalam kultur setempat) bisa dibilang tokoh yang cukup menonjol dalam kisah ini meskipun saya juga tak bisa berhenti membayangkan lekuk tubuh Katarina Ivanovna digambarkan cantik nan menawan oleh sang narator. Bisa dikatakan penggambaran tokoh yang kuat seperti ini yang membuat Dostoevsky berbeda diantara penulis rusia lainnya. Semua detail tokoh itu seolah mengingatkan jika tak pernah ada manusia yang seratus persen baik dan juga sebaliknya. Sebulan ini terasa seperti plesir panjang. Pulang kembali ke St.Petersburg, namun kali ini ditemani oleh sang penulis.   Dan yang pasti, akan ada pembacaan kedua dan kali berikutnya, karena saya yakin kisah ini akan tetap menyenangkan untuk menyimak kisah Karamazov Bersaudara.





No comments:

Post a Comment