Monday, 29 January 2018

Kabar dari Seorang Kawan

Pagi ini saya mendapat kiriman cerita pendek dari seorang kawan. Sebuah kisah tentang keseharian seorang manusia melihat hal-hal sederhana di sekitarnya . Kisah ini kan membawa pembacanya melihat realita masyarakat di jalan raya, hingga trotoar kota pesisir yang terik dibakar sinar mentari.

Tanpa perlu panjang lebar lagi, perkenalkan sebuah karya cerita pendek dari Joshua Valentino berjudul "Kali Ini, Kursi Penonton Jadi Pilihan" yang bisa dibaca pada tautan ini >> https://medium.com/@jessejoshua/pada-kesempatan-ini-aku-memilih-jadi-penonton-saja-karena-kursi-mumpung-tersedia-2ab9084e4872

Selamat membaca

Wednesday, 17 January 2018

Contemporary African Short Stories

Suatu hari saya bercita-cita ingin mengunjungi benua Afrika. Tak ada spesifik kemana destinasinya, yang penting menginjakan kaki disana, kemudian menimati segala yang ada.  Tentu kalau bisa tanpa ancaman keamanan dari segala ancaman situasi politik.

 Sembari menunggu siapa tahu angan-angan itu terwujud,  secara tak sengaja  saya menemukan sebuah buku kumpulan cerita-cerita pendek para penulis dari benua Afrika yang disunting oleh Chinua Achebe. Sontak buku ini memuaskan hasrat terpendam saya untuk melihat benua Afrika, meskipun baru dari dalam bentuk sembilan belas cerita pendek dari para penulis asal benua afrika ini.

Kisah dari penulis Zimbabwe, Daniel Mandishona, menceritakan negerinya tak ubahnya negri yang terbuang,  porak poranda, oleh perang berkepanjangan dalam cerita pendeknya berjudul A Waste Land. Sang narator "aku" harus menanggung penderitaan yang ditimbulkan oleh perang tersebut. Ia melihat Pamannya depresi setelah kembali dari perantauan. Tak lama berselang ia memutuskan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Tak lama sang ayah menyusul mengakhiri hidupnya, setelah terlilit hutang yang tak mampu ia lunasi. Ironisnya hal itu terjadi tepat satu hari setelah kemerdekaan. Perang itu merenggut kehidupan bangsanya. Hal tampaknya ingin disampaikan Daniel Mandishona dalam kisahnya. Ia satu dari sembilan belas penulis dari benua Afrika lainnya yang mencoba menyuarakan kisah mereka.

Sebuah kisah menarik lainnya berjudul Weaverdom milik Tijan. M Sallah asal Gambia tentang sekelompok burung penenun (manyar). Tentu itu sebuah metafora, sebagaimana kelompok burung itu diumpamakan wujud kehadiran kolonialisasi. Dari Somalia ternyata juga memiliki kisah mistisnya sendiri. Kisah milik Saida Hagi-Dirie Herzi  berjudul Government by Magic Spell menceritakan sebuah kisah tentang perempuan yang dikuasai sosok gaib serupa "Jin". Hal itu membuat gempar satu desa. Orang pintar di desa setempat mengatakan ada sesuatu yang merasuki dirinya.

Kisah-kisah lain dalam enam belas kisah lainnya juga akan memberikan perspektif yang berbeda bagi siapapun yang menikmatinya.  Mereka mencurahkan betapa kemiskinan, perang berkepanjangan, penjajahan dan berbagai isu global lainnya amat menyengsarakan, hingga menguji batas kewarasan tertinggi hidup mereka.









Sunday, 14 January 2018

Pengalih Bahasa

Saya gemar menyaksikan wawancara beberapa pengalih bahasa dari penulis-penulis yang saya sukai. Sering kali saya penasaran dengan apa yang terjadi selama proses penerjemahan itu berjalan ; bagaimana sang penerjemah harus berkali-kali meyakinkan sang empunya karya ; ingin melihat langsung seperti rupa asli penerjemah yang hasil karyanya biasa saya baca dalam bentuk buku.

Di Amerika Selatan, nama Gregory Rabassa bukan nama yang asing lagi hasil terjemahannya. One Hundred Years of Solitude  dan The Incredible and Sad Tale of Innocent Erendira and Her Heartless Grandmother karya Gabriel Garcia Marquez, serta The Mulatta and Mister Fly karya Miguel Asturias merupakan sebagian karyanya yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Dari tanah Hungaria, nama Ottilie Mulzet dan George Szirstes menjadi sosok penting dalam penerjemahan karya Laszlo Krasnahorkai. Dua karya Laszlo yakni Satantango  dan  The Melancholy  of Resistence adalah dua buku yang benar-benar membuat saya kagum terhadap penulis yang satu ini. Siapapun akan terhisap kedalam kalimat-kalimat panjang dalam semesta Laszlo.  Atmosfir cerita yang cukup depresif, serta aliran narasi yang puitis sekaligus dramatis membuat saya tak bisa membayangkan jika karya itu tak ditangani dengan baik oleh pengalih bahasa yang tepat. Sama halnya dengan Seiobo There Below yang diterjemahkan sama baiknya oleh Ottilie Mulzet.

Dari tanah air, saya juga tak bisa membayangkan jika Man Tiger (terjemahan Lelaki Harimau) tak diterjemahkan oleh Labodalih sembiring dan Beauty is a Wound (terjemahan Cantik itu Luka) tak diterjemahkan oleh Annie Tucker, mungkin saya masih belum bisa  mengenal karya-karya Eka Kurniawan saat itu, karena situasi yang masih belum memungkinkan saya untuk menikmati karya-karyanya dalam bahasa ibu saya. Disitulah saya merasa amat beruntung menemukan karya-karya terjemahan dari kedua penerjemah karya Eka.

Peran pengalih bahasa ini sangat berpengaruh besar pada akhirnya,karena ia bukan saja bertugas menerjemahkan, sekaligus menuliskan ulang karya itu ke bahasa baru dengan segala tingkat kerumitannya masing-masing. Gabriel Garcia Marquez mengaku ia amat mengagumi La Metamorfosis (The Metamorphosis) karya Franz Kafka yang diterjemahkan Borges, dan sama halnya dengan siapapun pasti akan merasa amat beruntung (seperti halnya saya yang saat itu menemukan Man Tiger) jika menemukan sebuah karya dari entah berantah yang telah diterjemahkan dengan apik. Ini sebuah rasa terimakasih untuk para penerjemah yang bukunya selama ini telah saya nikmati.

Kekaguman saya itu mendorong saya untuk menantang diri sendiri untuk menerjemahkan beberapa karya penulis favorit saya. Iseng-iseng saja, dan saya tahu ini sebuah percobaan awal serta beresiko. Namun jika Borges saja melakukannya, mengapa saya tidak. Seperti halnya Eyang Pram yang menerjemahkan Tolstoy, serta Eka yang menerjamahkan Steinbeck.

14-01-2018