Monday, 10 December 2018

La Strada che va in citta


(Diterjemahkan dari Novel La Strada che va in citta )
(Karya : Natalia Ginzburg)



Jalan yang Menuju ke Kota



<< Kerja orang bodoh akan menjadi pekerjaan yang menyiksa, karena mereka tidak tahu jalan yang menuju ke kota.>>

          Il nini pernah tinggal bersama kami semenjak ia masih kecil. Ia anak dari sepupu ayahku. Dia tidak lagi memiliki orangtuanya dan harus tinggal bersama kakeknya, tetapi kakeknya menyukainya dengan sapu dan membuatnya melarikan diri dan mendatangi kami.Sampai sang kakek wafat dan kemudian kami mengatakan kepadanya bahwa dia selalu bisa tinggal di rumah.
          Tanpa Il Nini  kami lima bersaudara.



(Bersambung)


Thursday, 6 December 2018

Melancholy of Resistance, László Krasznahorkai

           Beberapa hari lalu, saya melihat sebuah wawancara László Krasznahorkai dengan salah satu stasiun televisi Jerman.  Dalam wawancara itu ia membicarakan karya terbarunya, dan itu satu-satunya hal yang saya mengerti dalam acara itu karena jelas tak memahami bahasa kedua pembicara. Bagi saya melihat dia sehat dan bugar saja sudah cukup membuat senang. Di usianya yang memasuki enam setengah dekade, tak banyak perubahan dari kondisi fisik dirinya sejak pertama kali saya mendengar namanya dan membaca  karya pertamanya Satantango. 
             Dalam setiap wawancaranya, ia kerap menegaslkan hanya ingin mennulis "satu buku saja". Satantango berungkali dia sebut menjadi buku itu, namun untungnya itu tak terjadi sehingga masih terus ada kesempatan untuk membaca buku-buku baru darinya dan belum lama saya memutuskan tuk membaca kembali  novel kedua miliknya, Melancholy of Resistance.
           Kisah yang menceritakan sebuah kehadiran sirkus paus di pusat kota.  Dari awal novel ini hendak menceritakan sebuah mimpi buruk. Semacam dendam yang tak kunjung pulih, walau telah dipulihkan oleh obat bernama waktu. Hal itu memang berlalu, tetapi tidak kunjung sebagai mana bunyi epigraf di awal cerita "It passes, but it does not pass away".
          Beberapa kritikus menyebutnya sebuah kisah komedi apokaliptik; beberapa menyebutnya novel surealistik. Seperti novel Laszlo sebelumnya, plot cerita sedikit lebih jelas terlihat, namun tetap dengan aliran narasi panjang.  Laszlo masih peduli dengan alur cerita cerita yang sistematis, dan lebih mengedepankan "kebiasaan unik" yang jarang ditemukan dalam novel-novel kebanyakan.
         Kisah dibuka dengan perjalanan pulang Nyonya Plauf setelah menerima sebuah kabar pembatalan yang membuatnya harus mengambil jalur kereta yang dipenuhi oleh orang-orang kelas bawah yang berbeda dengan dirinya. Di sebuah kota yang dinamis, penuh dengan begitu banyak pendatang, si tokoh utama Nyonya Eszter dan Suaminya berperang dengan kehidupan dan semua sisi gelap hidup mereka.
         Bila di novel pertama Laszlo lekat dengan sebuah penantian, maka di novel keduanya ini ia ingin memberikan sebuah mimpi buruk yang tak kunjung pergi. Hal itu terus menerus menghantui, tanpa bisa dibantah.

D S

Thursday, 29 November 2018

Duel Berbalas Fiksi

            Beberapa minggu terakhir ini, perhatian saya tertuju kepada dua penulis yang saling "beradu karya"  satu dan yang lainnya.  Sabda Armandio dan Dea Anugrah menghadirkan sebuah keseruan dalam beradu kisah di sebuah media online dalam sebuah konten berbalas fiksi.

            Karya mereka saling bersaut-sautan saling membalas satu sama lain mulai dari kisah-kisah tentang karburator motor, kucing, persamaan matematika, hingga penyair bodor dan penamaan anjing-anjing peliharaan. Siapapun bisa menikmatinya setiap empat hari atau selang beberapa hari dari setiap kisah yang baru diunggah.

              Baiklah keduanya tidak sedang berkompetisi menjadi yang terbaik, namun boleh lah rasanya menikmati momen ini sebagai sebuah "perang karya" dimana siapapun berkesempatan untuk terlibat sebagai pembaca dari dua penulis ini.
           
              Keduanya bukan saja aktif menghasilkan menulis cerita pendek, namun juga kerap mengalihbahasakan cerita-cerita pendek dari penulis favorit keduanya, sebagaimana beberapa hasil terjemahan kerap mereka unggah di blog masing-masing mereka. Siapapun bisa menikmati terjemahan penulis uruguay hingga Cili, dari Israel hingga Jepang dari kedua kubu yang sedang berbalas karya ini.

               Karya kedua penulis ini juga tak boleh di lewatkan. Bakat Menggonggong adalah kumpulan cerita pendek milik Dea, yang kerap "membebaskan" peran sang narator bicara ngalor ngidul. Di satu sisi, 24 jam bersama Gaspar menghadirkan sebuah kisah detektif yang menawarkan ketegangan dalam merampok toko perhiasan dengan sepeda motor yang namanya diambil dari seorang penulis sekaligus seorang surealis besar Julio Cortazar. Sedangkan Jaroslav Hasek lmuncul dalam salah satu cerita pendek Dea.

              Dea anugrah menghadirkan kegetiran namun dengan cerdik menghadirkan humor tersembunyi dalam kisahnya. Sabda Armandio menawarkan eksperimen serta satir terhadap rekan penulisnya itu. Pada akhirnya kedua penulis ini memang perlu dimasukin dalam daftar buku yang perlu dibaca. Saya masih penasaran membaca kumpulan puisi Misa Arwah sebagaimana saya penasaran membaca buku pertama Sabda berjudul Kamu: Cerita yang tidak  perlu dipercaya. Namun rasa penasaran saya bisa sedikit terobati sembari membaca cerita-cerita mereka.

Ketika artikel ini ditulis Sabda baru saja mengeluarkan sebuah cerpen berjudul "Il Faut D'Abord Durer" milik Dea. Sejauh ini tampaknya belum ada tanda-tanda jika duel akan berakhir, dan saya berharap tak akan berakhir bagi keduanya. Pembaca bisa memilih jagoan mereka  dalam setiap serangan "kisah" dari masing-masing penulis. Ini duel sengit, dan tak mudah untuk menemukan pemenangnya.

Melihat intensitas balas-berbalas yang cukup sengit, pertarungan ini masih akan berlangsung cukup panjang. Selayaknya pertarungan karya fiksi bukan hanya milik  kanon-kanon literatur besar macam rivalitas Vargas Llosa dengan Garcia Marquez, Hemingway dengan Faulkner, atau Tolstoy dengan Dostoevsky, maka kini hal itu hadir antara Sabda Armandio dan Dea Anugrah.


D S

Monday, 19 November 2018

Dónde me lleva la soberbia

(Diterjemahkan cerita pendek Dónde me lleva la soberbia )
(Karya : Adolfo Bioy Casares)

Kemana Arogansi akan membawaku

Aku harus menjaga kebanggaan yang mendorongku untuk meniru Dr. Johnson dan meyakinkanku bahwa tidak ada yang mengintimidasi. Jika tidak ada yang mengintimidasiku, bagaimana aku bisa membenarkan kekosongan dari perapian, di mana itu bergema, menyajikan apa yang harus dibicarakan? Apa yang harus dibicarakan?



(Tamat)

Monday, 12 November 2018

Historia de un Cigarillo

(Diterjemahkan cerita pendek Historia de un Cigarillos )
(Karya : Felisberto Hernandez)

Untuk Antonio Soto (Boy)


Riwayat Sebatang Rokok


I

             Suatu malam aku mengambil kotak rokok dari dalam sakuku. Semua ini dilakukan hampir secara tak sengaja. Aku tidak menyadari bahwa rokok adalah rokok dan aku akan merokok. Untuk waktu yang lama dia telah memikirkan roh dalam dirinya; dalam roh manusia dalam hubungannya dengan pria lain; dalam roh manusia dalam hubungannya dengan hal-hal, dan aku tidak tahu apakah aku akan berpikir dalam semangat hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Tapi tanpa ingin, dia menatap sesuatu; kotak rokok. Dan sekarang aku menganalisis meninjau ingatanku. Dia ingat itu pertama dia mengancam untuk mengambil satu tetapi hampir menyentuh dengan jarinya. Lalu aku pergi untuk mendapatkan yang lain dan tidak mengambil yang tepat, ambil yang ketiga. Aku teralihkan pada saat mengeluarkan mereka dan aku tidak menyadari ketidakakuratanku. Tetapi kemudian aku berpikir bahwa ketika aku terganggu, mereka dapat menguasai aku sedikit, yang menurut hal kecil mereka, mereka memiliki sedikit semangat secara korelatif. Dan roh cadangan itu, dapat menjangkau mereka untuk melarikan diri, dan bahwa aku mengambil orang lain.


II



Malam yang lain aku berbicara dengan seorang teman. Kemudian aku terganggu dan aku merasakan hal lain tentang rokok. Ketika aku ingin merokok dan aku mengambil salah aku dari mereka, aku berpikir untuk mengambil salah satunya. Tanpa ingin menghindari mengambil salah satu yang rusak di ujungnya meskipun itu tidak akan mempengaruhi sehingga Anda tidak bisa merokok. Kecenderunganku adalah mengambil yang normal. Ketika aku menyadari ini, kukeluarkan rokok yang rusak lebih banyak dari kotak daripada yang lain. Undang rekanku. 
Aku melihat bahwa meskipun itu yang paling mudah untuk menggambar, dia memiliki perasaan yang sama tentang kesatuan yang normal dan lebih suka menggambar yang lain. Itu membuatku khawatir, tetapi ketika kami terus berbicara, aku lupa. Setelah sekian lama aku pergi merokok, dan pada saat mengeluarkan rokok saya ingat. Dengan banyak kejutan saya melihat bahwa yang rusak tidak ada di sana dan berpikir: << Aku akan merokok itu terganggu >> dan aku akan terbebas dari obsesi.


III


Pada malam yang sama di lain waktu ketika aku mengeluarkan kotak itu, aku menemukan yang berikut: rokok yang rusak itu tidak berasap, jatuh ke tanah dan mendatar di bagian bawah kotak. Jadi ketika aku melarikan diri berkali-kali, aku menjadi terobsesi lagi. Aku memiliki keingintahuan yang kuat untuk melihat apa yang akan terjadi jika aku merokok. Aku pergi ke teras, aku mengeluarkan semua yang ada di dalam kotak tanpa yang rusak; Aku masuk ke kamar dan menawarkannya kepada pasanganku , dia adalah satu-satunya dan aku harus merokok "itu". Dia disebut-sebut mengambilnya dan tidak mengambilnya. Dia menatapku dengan senyum. Aku bertanya kepadanya. «Apakah Anda memperhatikan?». Dia menjawabku: «tapi bagaimana aku tidak bisa memberikan akun». Aku kedinginan, tetapi dia segera menambahkan: "Hanya ada satu yang tersisa dan aku akan merokok sendiri". Lalu dia mengambil miliknya dan kami merokok dua paket yang sama.



IV


Keesokan paginya aku ingat bahwa malam sebelumnya aku telah meletakkan rokok yang rusak di meja samping tempat tidur. Meja cahaya tampak berbeda bagiku: aku punya aliansi dan asosiasi aneh dengan rokok itu. Tapi aku ingin bereaksi terhadapku. Aku memutuskan untuk membuka laci meja cahaya dan menghisapnya sebagai salah satu dari banyak. Aku membukanya aku ingin mengambil rokok aku secara alami sehingga jatuh dari tanganku. Aku menjadi terobsesi lagi. Aku bereaksi lagi. Tetapi ketika aku mengambilnya lagi, aku menemukan bahwa itu jatuh di lantai yang basah. Kali ini aku tidak bisa menghentikan obsesiku ; setiap kali menjadi lebih intens ketika mengamati suatu hal aktif yang sekarang terjadi di lantai: rokok menjadi semakin gelap ketika tembakau menyerap air.



Tamat












Tuesday, 6 November 2018

Famiglia, Natalia Ginzburg

Saya berikhtiar untuk membaca lebih banyak penulis perempuan, dengan alasan sederhana saja, yakni mengimbangi bacaan-bacaan yang mayoritas diisi penulis laki-laki. Setelah membacanya, tentu ingin saya pelajari hal-hal yang sekiranya tak pernah saya lihat dan kenal dalam keseharian saya. Sesederhana itu saja perjumpaan dengan  Famiglia  milik Natalia Ginzburg.

Ditengah keisengan saya berburu buku baru yang penulisnya belum pernah saya baca, kali ini ada sebuah penemuan unik. Unik dalam cara berceritanya  tentang kesederhanaan yang tak pernah terlintas di benak saya. Sebuah buku berisi dua novella yang berisikan konflik, serta tragedi dalam suatu hubungan percintaan yang karam atau yang level yang lebih tinggi yakni keluarga.

 "Famiglia"  adalah judul salah satu novella Natalia Ginzburg yang saya pinjam yang mengisahkan kehidupan dua orang mantan kekasih pasca karamnya kisah cinta keduanya. Alih-alih memutuskan beranjak dari pahitnya putus cinta. Keduanya memilih untuk sisa-sisa romansa yang telah telah tebangun masih belum lenyap dari keduanya. Rutinitas ke bioskop, atau sekedar berjumpa satu sama lain masih mereka lakukan.

Makanan dan gastronomi sepertinya menjadi sebuah penanda status sosial kelas menengah kaum Romano. Di atas segalanya, gastronomi adalah sarana komunikasi bagi  sang protagonis, Carmine, yang kemampuannya untuk memahami dan mengekspresikan emosinya sangat buruk, jika tak bisa dibilang menyedihkan


"Bourghesia" berbicara tentang konflik eksistensial dalam kehidupan modern. Sang tokoh utama, Ilaria, ditimpa sebuah tragedi di dalam keluarganya. Sebuah keluarga di kehidupan modern memang tak luput dari konflik internal. Harta seolah tak menjadi penentu utama keutuhan keluarga yang ideal. Masalah eksistensial manusia pada tatanan yang lain memang pelik sebagaimana Ginzburg menggambarkan dalam kisahnya.


Ada semacam perasaan unik yang muncuk seusai selama membaca buku ini. Sejujurnya saya sudah sekian lama mengincar karya penulis yang satu ini. Beberapa kali saya mendengar karyanya diperbincangkan teman-teman saya, namun tetap saja hal itu belum membulatkan niat untuk memulai membaca karyanya. Novella Ginzburg kali ini seolah menggambarkan kehidupan yang didefinisikan dalam perspektif kematian, yang merupakan satu-satunya cara untuk mendefinisikan kehidupan.

D S













Monday, 29 October 2018

Il Sangue

(Diterjemahkan cerita pendek Il Sangue )
(Karya : Cesare Pavese)


Darah


             Kengerianku akan darah dimulai pada hari saat kau mengerti di kerumunan orang-orang yang selalu berbondong-bondong menuju orang-orang yang baru lewat, dan mengelilingi sebuah trem: ada sesuatu di tanah dekat trem dan aku berteriak << Jangan pergi, jangan pergi >> tapi aku tahu bahwa orang mati ditutupi mereka dengan kain tenda. Keluar seorang wanita pucat, didampingi oleh seorang penjaga, dan tidak memiliki jejak darah: aku kecewa dan aku sudah pergi ketika aku menyadari bahwa wanita itu hanya takut seperti aku; dan kakiku sudah bergetar karena orang-orang mulai bergerak, dan sekarang aku harus melihat rel. Trem telah kembali; noda darah itu sangat besar, mengisi ruang di antara rel, dan alur berlari.


(Tamat)

......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Tuesday, 16 October 2018

El Criador de Gorilas, Roberto Arlt

Tulisan kali ini saya persembahkan kepada Eka Kurniawan. Setelah membaca artikel di blog pribadinya, yang membahas salah satu buku Arlt yang berjudul The Seven Madmen , maka saya memutuskan mengambil buku kumpulan cerpen Arlt yang berjudul El Criador de Gorilas (Peternak Gorila) di rak buku perpustakaan. Saya sempat berjanji kepadanya untuk mengulas salah satu buku Roberto Arlt. Seperti sebuah hutang, janji pun harus dibayar tuntas.

Sebetulnya judul lengkap buku ini adalah  El Criador de Gorilas, Un Viaje Terribile. Bagian satu lagi adalah sebuah sebuah novela berjudul Un Viaje Terribile (Sebuah Perjalanan mengerikan dalam bahasa Indonesia), karena kumpulan cerita pendek ini terasa amat istimewa bagi saya, dan tentu banyak hal tentang Artl yang kelak akan saya bahas di kesempatan berikutnya.

 Arlt terlalu istimewa untuk sekedar dibicarakan secara singkat. Karir kepenulisannya tak begitu cemerlang dibandingkan rekan-rekan senegaranya seperti Borges, Cortazar dan Sabato. Tentu hal itu tak dengan  mudah membuat dirinya terlupakan tanpa arti.  Perkenalan secara kebetulan ini ternyata mengantarkan saya pada karya-karya lainnya yang brilian.

Buku ini berisikan lima belas cerita pendek, yang ia tulis dalam perjalanannya dari Maroko menuju ke Spanyol. Dibuka dengan kisah berjudul La Factoria de Farjalla Bill Ali (Pabrik Farjalla Bill Ali) yang menceritakan tentang seorang peternak gorila. Farjalla Bill Ali digambarkan tak lebih dari seorang bajingan tengik.

Arlt ingin menghadirkan kaum-kaum yang tak terbias bahaya dalam setiap tokoh-tokoh pada kisahnya. Kisah berikutnya berjudul Halid Majid El Achicharrado (Hajid Malid Si Hangus), kisah tentang Enriqueta Dogson si orang gila, kemudian kejutan akan berlanjut dalam kisah peternak gorila (sesuai judulnya), cerita para penari padang pasir hingga kesinggahannya ke pulau Jawa pada salah satu kisahnya.


Kekagumannya terhadap Dostoevsky jelas tak bisa dipungkiri sebagaimana ia ceritakan dalam kumpulan artikel berjudul Aguafuertes Porteñas. Tokoh-tokoh dalam cerita Arlt adalah kumpulan manusia-manusia brutal, atau malah sekedar pecundang yang menginginkan sebuah pengakuan di dunia yang kejam.  Penulisnya sendiri juga tak jauh lebih malang dari tokoh-tokoh ciptaanya, tatkala karya-karyanya kerap dipenuhi kesalahan teknis sebagaimana di pengantar hal itu diakui editornya sendiri. Boro-boro mencapai ketenaran semasa hidupnya, Arlt tak pernah mendapatkannya hingga akhir hidupnya.

Disisi lain, kehidupan dalam semesta kisah-kisah Arlt jauh terbentang menembus batas-batas benua. Ia menaruh ketertarikan dan melihat keeksotisan kaum Muslim, dan Budha. Perjalanannya ke Maroko tampak begitu mempengaruhi sisi artistik Arlt. Afrika bukan saja satu-satunya ketertarikan dirinya karena ia juga bercerita tentang Jawa dimana seorang tokoh dalam kisahnya dikirim oleh ayahnya ke Singaraja.

 Ditengah krisis kepercayaan diri menciptakan karya yang lebih baik dari waktu ke waktu, Arlt hadir dengan cara bercerita yang tak biasa seolah memberi sisi lain bercerita bagi saya.  Tapi jelas satu hal yang pasti, bahwasanya  Roberto Arlt membuat saya kian cemburu dengan para penulis Argentina.  Ia bukan lagi seorang keturunan imigran yang berjuang mencari sebuah kehidupan yang lebih baik, karya-karyanya sudah sepantasnya disejajarkan bersama rekan-rekan seangkatannya. Dan pada akhirnya, Buenos Aires bukan lagi mimpi buruk saya seperti beberapa waktu silam.

D S

Tuesday, 9 October 2018

Soumission, Michel Houllebecq

"Tikus-tikus adalah mamalia cerdas, mereka akan menguraikan kita. Masyarakat mereka, bagaimanapun juga, baik lebih stabil daripada kita." ujar salah satu tokoh dalam kisah ini. Humor gelap macam itu kerap muncul dalam cerita ini. Perancis dalam perspektif Houllebecq terasa begitu getir, dan ia mencoba menyampaikan kisah satir ini yang tentu memancing banyak respon beragam dari apa yang coba disampaikannya.

Kelihaian Houellebecq jelas terlihat dalam eksplorasinya mengangkat tema-tema "ekstrim". Jelas itu akan berpotensi menimbulkan kontroversi, (bagi mereka yang mungkin menganggapnya terlalu vulgar dan sensitif) namun jika siapapun yang membacanya bisa melihat lebih luas, ini adalah semacam karya satir dengan balutan erotisme yang coba dihadirkan Houellebecq lengkap dengan humor gelapnya.. Soumission kian mempertegas keberadaanya sebagai penulis kontemporer perancis yang asik. Setidaknya bagi saya.

Kelak di masa depan , kelompok partai muslim memenangkan pemilihan presiden. Sang tokoh utama, Francoise, seorang profesor literatur tengah mengalami penurunan gairah hidup di usianya yang memasuki setengah abad. Karirnya perlahan meredup sebagai seorang pengajar, kehidupan sosialnya tak kalah memprihatinkan dengan kebiasaannya meniduri wanita-wanita mengantarkan dirinya sebagai "pemain handal" di setiap pergantian kalender tahun ajaran universitas.

Francoise seorang profesor literatur ; seorang spesialis yang karya-karya Huysmans; seorang womanizer mumpuni yang jatuh hati oleh seorang wanita yahudi. Sang profesor dengan pesona yang kuat tak memiliki kesulitan menggaet wanita-wanita yang ia inginkan. Ia bisa dengan mudah beranjak dari satu wanita ke wanita lainnya dengan personanya. Hal itu terjadi sebelum ia jatuh hati dengan Maryam, wanita yahudi, yang kelak membuatnya jatuh kepayang.

Jelas Houllebecq tak sedang bermaksud memprovokasi seantero negeri dengan berbagai hal yang terpampang dalam kisah Soumission ini, namun ini jelas menjadi sebuah penanda bahwasannya Perancis yang kini ia lihat perlahan telah berubah. Dari situ tampaknya ia tak ambil pusing menerima segala perbedaan dan memilih untuk merefleksikan pergesaran nilai-nilai budaya dengan semua balutan humor-humor hitam yang menghiasi kisah ini.


Terlepas dari segala polemik dan pertentangan terhadap Houllebecq dan karyanya, jelas karya ini kianmenempatkan dirinya pada penulis Perancis yang menjanjikan. Kecenderungannya memasuki area-area "tabu" mulai dari seksualitas, politik dan agama, sekiranya menjadikan karyanya  istimewa dari penulis-penulis kebanyakan. Ia berbicara dengan satir, vulgar dan sinis ketimbang menjadi penulis yang sopan dalam bertutur. Dan sesederhana itu Soumission dari Michel Houllebecq mengganggu pikiran saya dan akan terus menghinggapi untuk waktu yang panjang.

D S



Tuesday, 2 October 2018

El Cuarto Umbroso

Diterjemahkan dari cerita pendek:
El Cuarto Umbroso

Karya:
Rodrigo Rey Rosa


"Kamar yang Teduh"


           Dia sempat tinggal bersama kakak perempuannya, di dalam sebuah bangunan yang kini telah tiada. Dia memiliki untuk dirinya pintu yang menghadap ke jalan adalah mulut terowongan  dimana dia menolak masuk. Itu sudah cukup baginya untuk berjalan dari dinding ke dinding di ruang segi empatnya, dengan bantuan batang yang membuatnya berosilasi tanpa henti. Beberapa malam dia terbangun dengan lengan terulur, melindungi wajahnya, atau meraih meraih sesuatu yang ada di depannya. Di dekatnya ada saudara perempuannya, yang menyentuhnya untuk menenangkannya.
         Apa yang dia ketahui tentang dunia yang ia pelajari melalui saudara perempuannya. Dia biasa membaca untuknya, dan telah mengambil tangannya untuk membuatnya merasakan tepi meja. Dia telah mengajarinya untuk menggeser sentuhan di permukaan benda-benda lain, untuk melihat kualitasnya. Meskipun dia tidak memahami penampilan aslinya, yang keempat, dari waktu ke waktu, telah menjadi dunia yang kongkrit dan terbatas. Dia merasakan bentuk alamnya: lantai yang kotor, dapur, pot gelap, jendela di seberang.

                                                                                                                                         Tamat

Tuesday, 18 September 2018

Crocodile, Fyodor Dostoevsky

Seusai shift kerja paruh watu usai, saya memutuskan singgah sebentar ke toko buku di seberang katedral Notre Dame. Niatnya hanya membunuh waktu, namun tiba-tiba novella tipis milik Dostoyevsky ini jauh lebih menggoda saya untuk bertahan lebih lama. Alhasil dalam kondisi keuangan yang tak memungkinkan untuk memboyongnya pulang, maka saya putuskan membaca habis novella tipis ini tanpa pikir panjang. Membaca karyanya sama rasanya seperti kunjungan singkat kepada psikiater.

Semula Ivan Matveich, istrinya dan sang narator mengunjungi sebuah pertunjukan sirkus yang diselenggarakan oleh seorang enterpreneur asal jerman.  Ivan sesumbar dan berkelakar mengejek buaya seperti seekor binatang lemah yang bisa ia perdaya seenaknya. Semudah itu pula nasibnya berubah ketika tubuhnya dilahap separuhnya dengan binatang buas itu.

Nasib Ivan memang tragis bukan main. Di dalam perut si buaya, bukannya alih-alih ditelan, ia malah menemukan hidup yang lebih baik. Setidaknya bagi dirinya sendiri. Ketika Sang istri, yang hendak menceraikannya, meminta sang pemilik buaya untuk membuka mulut buayanya justru mempersulit keadaan dengan meminta banyak hal yang memperkeruh situasi.


Dostoyevsky dalam kisah ini menunjukan sisi lainnya dalam bercerita. Humor itu ada dalam tragedi naas yang terjadi atas nama keteledoran manusia. Ia tak hanya mampu menghasilkan sebuah karya sederhana yang memikat, namun berhasil mengajarkan siapapun untuk tak sesekali meremehkan hal berbahaya apapun, sekalipun itu terlihat sepele.

D S


Friday, 14 September 2018

A Maze of Death,Philip K Dick

Sekelompok ahli dikirim ke sebuah planet berbahaya bernama Demak-O . Total sebanyak empat belas ahli mulai dari ahli bahasa, psikolog, ahli ketik, ahli listrik didatangkan kesana dalam sebuah projek penjelajahan. Penjelajahan yang semula berjalan dengan baik tiba-tiba berubah menjadi mimpi butuk.

 Satu demi satu awak mereka tewas secara misterius. Kesatuan unit mereka diuji dengan drama perselisihan diantara mereka dan proses penjelajahan mereka seketika berubah menjadi eksperimen psikiatrik. Mereka berubah menjadi sekumpulan penjahat-penjahat sinting yang dengan senang hati menghabisi nyawa rekannya.

Dick menciptakan wahana kematian yang misterius dalam kisah ini. Tak ada narator yang menuntun arah cerit. Sejak awal perjalanan ini tak akan membuat siapapun nyaman, karena memang siapapun hanya perlu bertahan dalam kegilaan hidup yang tak jarang tersembunya di dalam dirinya masing-masing.

D S












Saturday, 4 August 2018

Gospadin

Quella figlia di puttana che
mi ha detto.
Non saro vivere con 500 dolar.
Io rido di questo
e sputo a terra.
A Nevskiy Prospekt
sto camminando nel buio.
Quando vento di sventura
colpiscimi senza pretese.
Pero non c'era una ragione
chi puo uccidere quest'anima.
Nella cattedrale di Svyataya Ekaterina.
Questo Castigo non mi ucciderà mai.


D S

Sunday, 22 July 2018

Il Sorriso di Compostela

Non ci sarà rimpianto.
Perché quel sorriso è eterno.
Nelle guance increspate.
Sulla piccola palpebra.
C'è un poema nascosto.

Se solo una cosa
che può avere tanti significato
o forse non significa niente.
Quando tu dici
Queres quemar todas mis cosas.

D S


Wednesday, 18 July 2018

Robinson Crusoe, Daniel Defoe

Tak ada hari yang cukup menyebalkan, ketimbang basah kuyub di siang bolong seusai diguyur air oleh segerombol orang tak dikenal di jalanan. Entah mengapa tak ada rasa amarah yang meledak setelah insiden itu, meskipun jika kelak berjumpa lagi, tentu hasrat untuk menghadiahi mereka dengan beberapa bogem mentah tak akan pernah sirna.

Mungkin kesialan itu masih belum setara jika dibandingkan dengan  kegilaan Robinson Crusoe dalam petualangannya. Buku itu menghantui pikiran saya dalam beberapa hari terakhir. Ditambah lagi nasib pengarangnya yang mesti bergulat dengan penagih hutang semasa hidupnya, hingga memutuskan menulis sebuah karya fiksi. Hal itu kemudian semacam mereduksi kekesalan saya dan kesialan yang menghampiri saat itu. Perlahan-lahan semburan air plus botol air mineral yang dilemparkan dari kaca jendela mobil itu tak berarti apa-apa. Kisah milik Daniel Defoe itu menggema panjang dalam ingatan saya beberapa hari terakhir ini dan mungkin dalam waktu  yang panjang.

Ini sebuah kisah petualangan seorang pria bernama Robinson Krautzer, yang kemudian lebih akrab dikenal sebagai Robinson Crusoe,memutuskan keluar dari rumah seusai bersitegang dengan keluarganya. Ia memulai kehidupan barunya tanpa pernah terbesit pun pikiran tentang  hal-hal gila yang kelak menghampiri perjalanannyan dan kelak ia sendiri yang mengambil alih narator cerita ini.

Kisah yang dibuat dalam bentuk jurnal ini, dituliskan lengkap dengan tanggal, serta hari-harinya. Kejadian-kejadian ia ceritakan kembali dengan sederhana, terkadang menyelipkan humor gelap yang terasa getir. Dalam perjalanan yang ia tempuh  selama hampir bertahun- tahun bertualang, Robinson Crusoe merasakan perjalanan mengarungi lautan ganas yang hampir merenggut nyawanya, bertarung melawan kanibal, sebelum akhirnya ia terdampar di Trinidad.

Cara bercerita Robinson Crusoe yang menggunakan narator sudut pandang  orang pertama, membuat semua detail terasa lebih dekat dan intens.  Buku ini memang dipublikasikan hampir tiga ratus tahun yang lalu, dan entah mengapa rasanya masih akan tetap asik untuk ditengok kembali. Bahwasanya dalam hidup ini, tak akan pernah ada yang tahu kegilaan macam apa yang kelak menghampirisebagaimana Robinson Crusoe dalam kisah petualangannya.

Membaca buku ini pada akhirnya membuat saya sedikit berpikir, bahwasanya sebuah ketidak beruntungan yang menghampiri bisa menjadi hal yang istimewa untuk diingat, dan tak perlu diambil pusing kemudian. Semua itu pada akhirnya tak lebih dari petualangan penuh kegilaan sebagaimana kisah milik Daniel Defoe akan terus terngiang hingga kapanpun.

D S

Saturday, 30 June 2018

Outer Dark, Cormac McCarthy

Dunia digambarkan begitu gelap dalam kisah McCarthy. Kisah cinta sedarah, tragedi kematian, dan mengenyahkan anak kandungnya membuat Outer Dark adalah lapisan terluar dari sisi gelap hidup ini, yang tanpa ataupun disadari, kelak  tak akan bisa dipisahkan satu sama lain. Kali ini satu akan Cormac McCarthy mengisahkannya tanpa basa-basi.


Banyak hal-hal menarik dalam cerita ini. Kau tak akan menemukan tanda baca dalam percakapan sepanjang kisah seperti halnya percakapan dalam sebuah novel kebanyakan. Terus terang saja itu membingungkan saya pada awalnya. Kemudian hal itu bisa dipahami setelah melihat pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini.

 Hubungan terlarang antara  saudara laki-laki dan saudara perempuannya berujung pada kehamilan sang perempuan dan upaya membuang buah cinta mereka itu. Naasnya kemudian anak itu ditemukan seseorang yang dinamakan "Tukang Patri" dalam kisah ini.   "Si Tukang Patri", diperkenalkan dengan amat jelas dalam cerita ini.

 Sang protagonis, Culla, kemudian berupaya menghapus dosanya dengan merantau keluar bekerja serabutan demi mengikis perasaan bersalah dari kejahatan yang telah ia lakukan. Sialnya rencana jahanam itu ternyata tak lebih dari bualan yang diketahui oleh kekasihnya sendiri. Bahwasanya sang anak itu masih ada dan belum juga mati.

Keunikan Mc Carthy dalam kisahnya ini adalah bagaimana ia merancang alur cerita.Teknik bercerita maju-mundur, kerap kali menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan. Detail-detail yang ia paparkan silih berganti menghantam pikiran. Di dunia ini tak ada yang aneh dengan peristiwa-peristiwa yang ia ceritakan. Semua jelas terpapar di kehidupan ini, dan tak ada satupun yang bisa mengelak dari kenyataan itu.

D S

Tuesday, 19 June 2018

A Portrait of the Artist as a Young Man, James Joyce

Ini adalah buku ketiga dari Joyce  menemani saya dalam beberapa bulan terakhir ; novel pertama yang saya baca diantara kumpulan cerpen dan naskah drama yang mengawalai perkenalan saya dengan karya-karyanya. Kisah tentang Stephen Dedalus, sang tokoh utama, yang bergulat dengan hari-harinya yang kian lama kian bertolak belakang dengan keinginan dirinya.


Besar dalam keluarga yang berpegang teguh dalam ajaran agama Katolik, membuat kedua orang tuanya memasukannya ke sebuah sekolah asrama homogen dengan dibawah naungan  Je Suit. Tentu dengan harapan jika sang anak akan tumbuh dan  menjaga nilai-nilai Katolik yang telah ditanamkan orang tuanya, namun dunia seni menjadi hal yang tak terelakan bagi Stephen.  Layaknya bocah seumurannya, ia mulai menemukan hal-hal baru yang menghisapnya kian dalam, tanpa seorangpun  yang bisa menghentikan hasratnya.

Tak banyak berbeda sebenarnya kisah dalam diri Dedalus dan Joyce. Ini bisa dibilang sebuah alterego dirinya. Konflik-konflik  yang bermunculan mulai dari nilai-nilai agama, moral dan konflik internal dalam keluarganya membuat Dedalus harus memutuskan sebuah hal besar yang akan menjadi keputusan besar dalam hidupnya.

Layaknya bom waktu yang terus disimpan rapat, lambat laun hal itu tak lagi bisa disembunyikan. Stephan Dedalus menemukan  bahwa dirinya tak sepatutnya berada disana, jika tak ingin terus menyiksa dirinya dengan segala hal yang terlihat usang baginya.

Buku ini diterbitkan hampir dari seratus tahun yang lalu. Semula  Joyce berniat membuat sebuah autobiografi dalam bentuk novel realis. Hal itu tak menemukan titik temu dengan sang penerbit hingga ia meninggalkan manuskrip tersebut dan memulai menggarap A Portrait of The Artist as a Young Man yang eksperimental.

Joyce tampak bereksplorasi banyak dalam beberapa hal,  mulai dari puisi, dialog interior yang kerap menghiasi cerita hingga arus kesadaran membuat karya ini istimewa. Disitulah kejeniusan Joyce tak bisa terbantahkan lagi. Detail-detail yang tersebar dalam cerita tak ubahnya daya magis yang mengikat.


Pada akhirnya kisah Dedalus adalah refleksi kehidupan Joyce. Tak terbantahkan. Kisah ini berangkat dari sebuah keraguan. Keraguan atas sebuah keyakinan yang terus dipaksakan hingga tak menyisakan sedikit ruang untuk mempertanyakan keyakinan itu. Pada fase itu kisah ini akan selalu mejadi hal yang menyenangkan untuk dibaca kembali kapanpun. Sehingga akan selalu ada sebuah ruang dalam pikiran yang akan terus mempertanyakan keyakinan terhadap apapun yang dianggap benar, agar keyakinan itu tak membutakan akal sehat setidaknya.



D S






























Friday, 30 March 2018

Kafka on The Shore, Haruki Murakami

Sudah cukup lama saya tak membaca buku-buku Murakami. Seingat saya ada dua buku Murakami yang yang telah saya baca berkali-kali dan selalu menyenangkan untuk dibaca kembali. Salah satunya adalah Kafka On The Shore. Sebuah kisah tentang bocah lima belas tahun  yang memutuskan minggat dari rumah dan tinggal di sebuah perpustakaan. Kau bisa menyebutnysebuah karya picaraesque jika melihat banyak elemen-elemen itu dalam kisah ini.


Sang tokoh utama merupakan bocah lima belas tahun bernama Kafka Tamura, memutuskan minggat dari rumah. Sesederhana itu sebenarnya asal muasal kisah ini bermula. Kemudian masa lalu sang tokoh mengantarkannya pada sebuah pertemuannya dengan wanita yang cukup misterius di sebuah perpustakaan misterius, lagu yang tak kalah misterius, dan perpustakaan yang kelak menjadi persinggahan selama perlariannya. 

Bukan Murakami namanya jika tak membuat semacam perayaan terhadap penulis-penulis panutannya. Kali ini Kafka tampaknya menjadi sosok yang dijadikan elemen (dari judul pun siapapun akan bertanya-tanya) dalam kisah ini. Rasanya penulis kelahiran Ceko yang tersohor itu akan mengangkat alisnya di peristirahatannya saat membaca buku ini.

Yang membuat saya menarik pada novel ini ketika bocah tersebut berkali-kali berada pada sebuah keadaan yang membuatnya mengira jika seorang perempuan misterius yang dijumpainya adalah ibunya. Bagi anak lima belas tahun dengan masa lalu perih seperti Kafka tentu hal ini tak ubahnya sebuah pencarian tanpa henti. Ibu bagi setiap anak adalah cinta pertama yang tak akan bisa terelakan. Hingga kapanpun. Dan Kafka benar-benar berada dalam sebuah pusaran badai kehidupannya sendiri.

Sebesar-besarnya badai dalam kehidupan, musik dan buku memang akan selalu menjadi pemandu hidup seseorang. Setidakny kedua hal itu tak ubahnya virus-virus kecil yang merasuki pikiran yang sedang kalut dengan kejamnya dunia dan lingkungan sekitar. Hasilnya tentu saja sebuah pintu baru yang akan dimasuki. Dalam konteks ini tentu si protagonis, Kafka Tamura.

Yang membuat kisah ini kian menarik adalah beberapa karya film, musik dan buku yang kerap muncul di beberapa adegan. Murakami tampaknya tak sungkan memberikan rekomendasi film klasik karya Francois Truffaut (400 blows), karya sastra klasik timur tengah The Arabian Nights, hingga buku  Ernest Hemingway.

 400 Blows adalah film yang tentang seorang anak laki-laki yang tak mampu menikmati masa-masa kecilnya. Kehidupan Paris yang penuh gemerap kaum borjuis, terlalu awal merenggut masa kecilnya. Tunggu.  Sedikit ada persamaan nasib antara Antoine Doinel dengan Kafka Tamura yang tak memiliki masa kecil yang ideal layaknya bocah-bocah seusia mereka. 

Untuk kesekian kali saya akan mengatakan buku ini tak pernah membosankan. Dengan hampir lebih dari empat ratus delapan puluh halaman didalamnya, selalu ada hal baru yang bisa ditemukan. Berulang-ulang tanpa terasa berlebihan. Mengambil kutipan dalam buku ini "Kau akhirnya akan terlelap. Dan ketika kamu bangun, itu betul. Kau adalah bagian dari sebuah dunia yang baru."

D S

Thursday, 15 March 2018

Aunt Julia and the Scriptwriter, Mario Vargas Llosa

Apa konflik cinta terbesar yang kerap terjadi antara pria dan wanita ? Yang sering ada mungkin masalah perbedaan suku, agama, dan budaya. Hal-hal macam itu biasanya kerap menjadi ganjalan bagi kelangsungan hubungan asmara dua orang muda mudi, atau pria dan wanita dari berbagai usia. Mario Vargas Llosa kali ini membagi pengalaman kisah cintanya yang bisa dibilang cukup tak biasa juga bagi siapapun saya rasa.

Seorang seorang penulis skrip tak pernah menyangka jika ia kelak akan jatuh  hati pada bibinya sendiri. Berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, pada akhirnya pun sang penulis kemudian memutuskan menikah dengan sang bibi (meskipun tak sekandung). Jelas hal  itu bukan lagi kisah cinta yang terjal, melainkan namun sudah menjadi sebuah aib. Bukan saja  bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya, sebagaimana semua drama itu tersaji sepanjang cerita dalam novel ini.

Marito, sang protagonis, memilih untuk memberontak demi cintanya. Dalam hal ini, terkadang kecurigaan saya kian menjadi. Bahwasanya seseorang yang sedang dimabuk asmara akan melakukan hal-hal diluar nalar manusia normal. Dalam konteks kali ini tentu sebuah hasrat untuk menikahi perempuan yang dicintainya yakni sang bibi. Mungkin semua hal itu akan terdengar begitu naif pada akhirnya, apalagi bagi seorang mahasiwa hukum di Peru yang tengah memiliki mimpi meniti karirnya kepenulisannya di Perancis.


Dalam karya ini Mario Vargas Llosa mungkin bisa menjadi semacam penasehat bagi siapapun tanpa memandang gender. Ketika otoritas pemerintahan setempat tak memungkinkan menjalankan upacara pernikahan, Marito (panggilan untuk Mario kecil) memutuskan  melangsukankan pernikahan di sebuah desa yang memungkinnya mewujudkan hal itu.  Disana ada sebuah celah kecil di dalam hukum untuk merealisasikan kisah cinta mereka itu. Tentu kisah ini akan menjadi sebuah kisah yang langka. Siapapun bisa menjadikannya sebuah pelajaran dari berbagai sisi.

Mario Vargas Llosa seolah memperlihatkan sebuah kenyataan jika setiap manusia bisa saja jantuh cinta dengan siapapun.  Dengan perempuan yang lebih tua darinya atau lelaki yang lebih muda dari dirinya. Perkara hati memang tak pernah bisa ditebak.  Hampir mustahil memperkirakan kapan perasaan itu datang, dan perilaku orang-orang yang sedang jatuh hati memang kadang memicu berbagai akal untuk memuluskan segala rencana gila mereka, hingga  tak jarang hal itu membuat siapapun bisa membuatnya mengambil sebuah keputusan nekat. Pada akhirnya novel ini membawa saya kemana-mana. Sebuah kisah cinta tanpa sedikitpun mencoba mengumbar bualan klise yang kelewat manis.

D S







Thursday, 8 March 2018

A Soldier's Pay, William Faulkner

Novel ini memberikan sedikit harapan. Setelah melakukan percobaan beberapa kali, ini yang paling lumayan bisa saya cerna alur cerita dan maksud ceritanya. Jika membaca As I Lay Dying dan Sound and the Fury adalah sebuah introduksi dengan Faulkner dan membuat pusing kepala, saya menganggapnya sebagai perkenalan dengan cara yang salah. Kali ini upaya perkenalan itu berjalan sedikit lebih  baik dari kedua judul itu. Sebuah kisah tentang seorang tentara yang terluka di medan perang yang kembali ke kampung halamannya,

Donald Mahon, terluka parah dalam sebuah perang di Georgia. Ia pulang menempuh perjalanan kereta dengan kondisi yang menyedihkan. Tak ada yang menyangka ia akan kembali dari medan perang.  Kepulangannya ke rumah benar-benar menjadi sebuah kejutan. Semua keluarga dan kerabatnya telah mengira ia gugur di medan perang, termasuk sang kekasih. Semua hal pribadi yang terhenti dalam kehidupan Mahon, perlahan-lahan muncul kembali kehadapannya. 

Kepulangan Mahon pada akhirnya menjadi sebuah ironi. Sang ayah yang sudah merasa stoic mengingat kepergian putranya ke medan perang, perlahan menjadi optimis jika anaknya akan kembali pulih seperti sedia kala. Sang kekasih yang semula berharap jika Mahon akan menjadi seorang pahlawan perang justru tak menemukan apapun dalam kepulangannya itu. Yang ada hanya kondisi Mahon yang penuh luka dan trauma pasca perang.

Perang pada akhirnya adalah sebuah mimpi buruk tak berujung. Dampak yang ditimbulkan dalam diri Mahon benar-benar telah meruntuhkan dinding kepercayaan dirinya. Isolasi diri Mahon menjadi sebuah alienasi bagi dirinya dan bagi dunia. Penderitaan tampaknya belum berakhir untuk Mahon dalam kondisi fisik dan mental yang terguncang, hingga kemunculan perempuan yang sempat memiliki affair dengan Mahon. 

Cara bercerita Faulkner pada akhirnya jauh lebih liar untuk bisa diterima jika satu mengharapkan sebuah keteraturan alur cerita dan plot yang terstruktur, karena arus kesadaran yang coba dibangun Faulkner memang membuat proses pembacaan ini berjalan dengan lebih lambat pada akhirnya jika tak ingin kehilangan petunjuk dan maksud sang penulisnya. Ia menawarkan sebuah inovasi yang akan selalu segar untuk dinikmati berulang-ulang dari pecahan kristal ide yang dihamburkan di dalam ceritanya.

D S

Tuesday, 6 March 2018

Kisah yang Tak Usai

Sial. Saya selalu benci pada perasaan sentimentil ketika akan berhadapan dengan sebuah perpisahan. Brengseknya, hal itu menghinggapi hari-hari saya menjelang sebuah perpisahan dengan seorang kawan. Perpisahan atas sebuah kisah yang tak usai. Petualangan yang harus berakhir karena plot cerita dalam hidupnya telah berubah dan otomatis semuanya pun berubah. Semua terjadi begitu aja. Tiba-tiba dan tak terhindarkan.

Sama halnya dengan kisah The Castle milik Franz Kafka yang juga tak selesai. Ya ya saya tahu, ini akan melipir ke hal lain yang tak berkaitan sama sekali. Tapi dalam perasaan yang  kalut seperti ini, ada yang membuat kedua hal itu lumayan mirip.  Kedua hal itu lambat laun akan bermuara pada sebuah akhir. Dalam kondisi itu saya mencoba menempatkan diri menjadi seorang kawan dan pembaca yang baik. Bagimana pun juga seorang kawan harus saya berusaha memahami kondisi kawannya dan sebagai seorang pembaca juga harus bisa mencoba apapun yang terjadi dengan kisah The Castle yang harus berakhir demikian adanya.

The Castle dimulai dengan seorang tukang ukur tanah yang dibangunkan dari tidurnya, kemudian sekelompok orang yang mengaku memiliki otoritas atas wilayah kastil memerintahkan sang tokoh utama bernama K. untuk melapor kepada pihak kastil. K. kemudian dihadapkan dengan birokrasi yang rumit dan berbelit-belit. Seperti konflik-konflik yang senantiasa muncul dalam kisah-kisah Kafka, sang tokoh dizolimi dengan permasalahan yang tak bisa dihindirinya sekaligus untuk dihadapinya. Kali ini kastil itu menjadi sebuah simbol kekuasaan yang menerornya. Sang tokoh protagonis kali ini membuat saya terus berharap pada sebuah penantian.

Novel ini dipublikasikan di akhir tahun 20an. Tepat ketika kesehatan Kafka sedang memburuk, dan tak lama berselang menutup usianya. Ia berpesan kepada literary executor-nya, Max Brod, untuk memusnahkan seluruh manuskrip dan segala tulisan-tulisan yang pernah ia garap, termasuk kisah ini. Untungnya hal itu tak terwujud. Hingga novel ini bisa berada di tangan saya. Di balik usianya yang sudah berumur enam puluh tahun, dan lembar-lembarnya yang mulai menguning. Ini buku istimewa dari penulis yang juga begitu istimewa.

Dengan akhir kedua kisah ini yang harus berakhir demikian, maka saya mencoba menempatkan diri saya menjadi seorang kawan yang akan selalu mengerti kondisi permasalahan yang dihadapi kawan saya; serta memahami alasan dibalik nasib yang menimpa novel ini. Apapun akhir kedua kisah itu, toh ujung-ujungnya keduanya bermuara menuju sebuah akhir. Dan hingga kapanpun, saya akan selalu menanti untuk mendengar lagi kisah dari kawan saya ini dan tentunya membaca kembali novel ini yang akan mengingatkan saya pada seorang teman dan penulis hebat di masa itu. Maka dalam hal ini, saya akan merindukan kedua hal itu dengan menantikannya.

D S

Sunday, 4 March 2018

Ubik, Philip K Dick

Apa jadinya jika bumi dikuasai bulan ? Bagaimana jadinya jika kekuatan "psychic" menjadi sebuah kemampuan biasa yang dikuasai manusia? Ubik merupakan sebuah kisah dimana hal-hal tak biasa tersebut telah menguasia seluruh bumi. Tokoh antagonis, Joe Chip,  yang bekerja pada sebuah agensi "anti-psis" berupaya menghentikan kekuatan telepati yang sedang menginvasi kehidupan privasi masyarakat.

Kelak siapapun bisa menggunakan kemampuan telepati untuk membaca pikiran orang lain. Oh iya kemampuan precogs juga akan menjadi hal lumrah dikuasai untuk membaca sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Ditambah lagi di setiap awal bab, akan ada semacam iklan produk-produk dengan unsur-unsur Ubik . Siapapun pasti bertanya-tanya apa sebenarnya "Ubik" itu.

Kisah ini pada akhirnya bukan hanya sekedar omong kosong sains fiksi dari Philip K Dick. Ubik terlihat seperti sebuah partikel penting tak berwujud dalam sebuah kehidupan. Apakah partikel ini penting? Bisa dibilang demikian. Tapi rasanya siapapun juga masih bisa hidup walau tanpanya, karena seperti yang disebutkan sendiri oleh sang narator, jika "Semua  ini baru permulaan."

D S

Monday, 26 February 2018

Karnak Cafe, Naguib Mahfouz

"Di negara kita ada beberapa orang religius. Kepentingan mereka adalah melihat agama mendominasi seluruh ranah kehidupan, filsafat, politik, moralitas dan ekonomi." Sepenggal kalimat dalam novel ini kurang lebih menggambarkan suasana Mesir yang bergejolak oleh perang saat itu.

Judul cerita ini pun sebenarnya diambil sebuah kafe tempat berkumpulnya orang-orang berbagai golongan, sekaligus tempat mencurahkan pemikiran serta keluh kesah mereka. Ketika negara mereka yang sedang mengalami konflik berkepanjangan. Kafe ini menjadi tempat mereka melepas penat, sekaligus berkumpulnya orang-orang terpinggirkan, sambil terus mengharapkan keadilan ditegakkan

Para pemuda yang dianggap memberontak dipenjarakan, dan siapapun mencoba menyuarakan pemikiran yang bersebrangan dengan pemerintah harus bersiap-siap merasakan dinginnya jeruji besi. Penjara tampak menjadi sebuah tempat yang kerap ditonjolkan sepanjang kisah. Persikusi politik di Mesir benar-benar menjadi mimpi buruk yang panjang. Para pemuda tak berhenti menyusun rencana mengakhiri kekejaman penguasa.

Sang pemilik kafe adalah bekas seorang penari terkenal, Qurunfula. Dahulu sosoknya amat dipuja karena profseinya itu, bahkan seorang lelaki sampai rela menjadi pelayan di kafe miliknyaa. Kiranya itu satu dari sekian drama yang terjadi di Karnak. Ada pula para polisi rahasia  berkeliaran disekitarnya. Hingga sepotong kalimat dalam kisah ini akan mampu memberi sebuah pengertian. "Terkadang ada banyak bangsa yang hilang ingatan, namun tidak pernah bertahan selamanya."


D.S

Tuesday, 20 February 2018

Sebuah Keanehan Dalam Pikiranku

Adalah seorang pria Turki bernama Mevlut Karatas, penjual bosa (minuman tradisional turki) yang tengah jatuh hati pada seorang wanita di sebuah pesta pernikahan. Sejak malam itu, ia membulatkan tekadnya mendapatkan sang wanita pujaanya. Surat cinta satu persatu mulai ia kirimkan. Harapannya tentu menaklukan hati si wanita idaman. Dengan bantuan seorang kawan, perjuangannya sedikit lebih lebih ringan semestinya dan seperti orang yang sedang dimabuk kepayang, rencana pun disusun. Begitu kiranya gambaran pembuka novel Orhan Pamuk, berjudul A Strangeness in My Mind, yang saya pinjam dari seorang kawan.

Buku ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang percaya cinta pada pandangan pertama (bagi barang siapa yang percaya) ; sekaligus cara memahami pikiran siapapun yang kerap diombang-ambing dengan "rasa aneh" di dalam pikirannya (bagi yang mungkin pernah merasakan tentunya). Faktor lain yang menarik dalam novel ini yakni banyaknya narator yang silih berganti menceritakan kisahnya, alhasil perspektif menjadi amat luas dan cerita menjadi lebih menarik sekaligus meminta perhatian lebih. Pamuk juga sesekali menyisipkan humor-humor politiknya, sekaligus sindiran-sindiran tentang kota kelahirannya yakni, Istanbul yang begitu ia cintai.

Bagian yang paling membuat saya tak berhenti tersenyum  tentu ketika Mevlut menyadari jika wanita yang ia ajak untuk kawin lari itu bukan lah wanita yang selama ini ia maksud. Bagi saya ini keistimewaan Pamuk menciptakan kejutan-kejutan yang ia simpan rapi dibalik berbagai narator yang silih berganti menyuarakan kisahnya. Adalagi yang menarik ketika ia terlibat dalam sebuah konflik di tempat kerjanya di sebuah restoran. Disitu Mevlut berada pada sebuah persimpangan jalan antara suara  hati kecilnya dan rekan kerjanya yakni sahabat baiknya. Meskipun itu berujung pada sebuah akhir. Bagaimana akhirnya? Saya tak ingin membocorkan terlalu banyak. Biarkan siapapun menikmati buku ini, agar mampu merasakan dengan  hikmat dan nikmat suasana cerita yang dibangun dengan megah. Sehingga pada akhirnya keanehan di dalam pikiran siapapun akan terus membuat mereka bertarung mempertahankan harkat dan martabatnya sendiri.

D S

Saturday, 10 February 2018

The Incredible and Sad Tale of Innocent Eréndira and Her Heartless Grandmother, Gabriel Garcia Marquez

"Erendira sedang memandikan neneknya ketika angin kemalangan mulai berhembus" . Begitu kira-kira novel ini dibuka. Erendira, bocah perempuan polos belum genap berumur empat belas tahun itu tak menyadari jika dirinya  akan berhadapan dengan sebuah kemalangan yang tak terelakan. Salah satu kemalangan itu adalah neneknya sendiri.

Erendira benar-benar tak punya pilihan untuk melawan nasibnya. Di saat anak-anak seusianya bisa menikmati kebebasan untuk waktu bermain bersama teman-temannya, ia justru harus melewati hari-harinya bersama nenek kandung tak berhati, yang lebih rupanya amat menyerupai penyihir tua yang jahat seperti dalam dongeng anak-anak umumnya.

Mungkin benar adanya jika dunia itu kejam, saking kejamnya hal itu harus tiba lebih awal bahkan terlalu awal untuk Erendira, ketika secara tak sengaja ia lupa menutup jendela kamarnya, hal itu menyebabkan kecelakaan mengerikan di rumah neneknya. Dari situlah kemalangan Erendira kian menjadi.

Semilir angin yang berhembus menghela halus Erendira, berbanding terbalik dengan kehidupan menghantamnya kian keras hari demi hari. Ia tak bisa mengelak dalam perbudakan yang membelunggu hidupnya. Tak ada sosok yang lebih malang dari seorang bocah yang harus menjadi budak bagi neneknya sendiri. Bisa dikatakan jika ia adalah simbol kemalangan, jika tak bisa dibilang korban kerasnya kehidupan yang kejam.  Dalam hidup ini kesalahan kecil akan mengantarkan siapapun pada kemalangan tanpa akhir.

Novella yang dibuat tahun 1972 ini lebih dari sekedar kisah drama keluargan antara cucu dan neneknya. Ada kisah cinta terselubung di dalamnya, hingga  kisah kriminal yang dramatis. Kecenderungan Gabo pada kata-kata puitis dalam kisahnya, benar-benar mengantarkan pada satu kesimpulan. Pada akhirnya angin kemalangan itu tampaknya tak pernah bisa sirna di dalam sebuah kehidupan.

D.S


Monday, 5 February 2018

The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoevsky

Saya sempat merasa ragu untuk menulis jurnal atas pembacaan buku yang satu ini. Pasalnya, buku ini cukup menguji kesabaran dalam sembilan ratus halaman di dalamnya. Setelah menyelesaikannya pun, saya rasa apa yang dipaparkan Dostoevsky dalam kisah ini amat menekan.  Ada drama keluarga, kisah kriminal, nilai-nilai keagamaan, perdebatan moralitas dan kisah masing-masing tokoh yang membuat saya kian sepakat untuk menyebut buku ini sebuah mahakarya dari sang penulis. Saya pun tahu diri melihat keterbatasan saya menyelami pemikiran sang penulis. Paling tidak, satu bulan saya tak terbuang percuma menikmati dua belas buku, dengan  puluhan karakter di dalamnya. Penggambaran psikologis setiap karakter di dalamnya menawarkan sebuah sudut pandang lain melihat sebuah cerita, namun saking banyaknya karakter dalam buku ini jelas memberi dampak, salinan tokoh pada secarik kertas yang amat banyak, pada tempo cerita yang berjalan lambat. Sosok Alexei digambarkan bak seorang pahlawan oleh sang narator, dan bisa dikatakan ia sosok yang paling beriman ketimbang saudaranya yang lebih tua yang justru seorang ateis. Alosya (panggilan akrab Alexei dalam kultur setempat) bisa dibilang tokoh yang cukup menonjol dalam kisah ini meskipun saya juga tak bisa berhenti membayangkan lekuk tubuh Katarina Ivanovna digambarkan cantik nan menawan oleh sang narator. Bisa dikatakan penggambaran tokoh yang kuat seperti ini yang membuat Dostoevsky berbeda diantara penulis rusia lainnya. Semua detail tokoh itu seolah mengingatkan jika tak pernah ada manusia yang seratus persen baik dan juga sebaliknya. Sebulan ini terasa seperti plesir panjang. Pulang kembali ke St.Petersburg, namun kali ini ditemani oleh sang penulis.   Dan yang pasti, akan ada pembacaan kedua dan kali berikutnya, karena saya yakin kisah ini akan tetap menyenangkan untuk menyimak kisah Karamazov Bersaudara.





Thursday, 1 February 2018

Notes From The Underground, Fyodor Dostoevsky

Buku ini adalah sebuah kisah memoir seorang "manusia bawah tanah".  Tokoh utama cerita ini bisa dibilang sampah masyarakat. Sebagai seorang pesakitan yang terisolasi dari lingkungan sekitarnya,  hari-harinya hanya bertemankan penolakan demi penolakan yang membuatnya memendam rasa dendam terhadap lingkungan sosialnya.

Dostoevsky semacam menjelma sebagai seorang psikolog, jauh sebelum profesi itu eksis pada zaman itu.  Buku ini pun bisa menjadi  sebuah pembuktian, jika tak hanya piawai menghasilkan novel-novel "tebal" sebagaimana orang-orang mengenal mahakarya terbesarnya : The Idiot, Crime and Punishment hingga Brother Karamazov.

 Tapi tenang saja, kau tak perlu terlalu serius menikmati karya inin, anggap saja ini sebuah perenungan, bahwasanya satu hanya perlu terus sadar, dan menjaga kewarasan untuk tetap bisa terus menapak di dunia. Dan jika suatu ketika dunia sedang memberimu kotorannya, kau tahu catatan bawah tanah ini bisa menjadi panduanmu untuk membersihkannya.

Monday, 29 January 2018

Kabar dari Seorang Kawan

Pagi ini saya mendapat kiriman cerita pendek dari seorang kawan. Sebuah kisah tentang keseharian seorang manusia melihat hal-hal sederhana di sekitarnya . Kisah ini kan membawa pembacanya melihat realita masyarakat di jalan raya, hingga trotoar kota pesisir yang terik dibakar sinar mentari.

Tanpa perlu panjang lebar lagi, perkenalkan sebuah karya cerita pendek dari Joshua Valentino berjudul "Kali Ini, Kursi Penonton Jadi Pilihan" yang bisa dibaca pada tautan ini >> https://medium.com/@jessejoshua/pada-kesempatan-ini-aku-memilih-jadi-penonton-saja-karena-kursi-mumpung-tersedia-2ab9084e4872

Selamat membaca

Wednesday, 17 January 2018

Contemporary African Short Stories

Suatu hari saya bercita-cita ingin mengunjungi benua Afrika. Tak ada spesifik kemana destinasinya, yang penting menginjakan kaki disana, kemudian menimati segala yang ada.  Tentu kalau bisa tanpa ancaman keamanan dari segala ancaman situasi politik.

 Sembari menunggu siapa tahu angan-angan itu terwujud,  secara tak sengaja  saya menemukan sebuah buku kumpulan cerita-cerita pendek para penulis dari benua Afrika yang disunting oleh Chinua Achebe. Sontak buku ini memuaskan hasrat terpendam saya untuk melihat benua Afrika, meskipun baru dari dalam bentuk sembilan belas cerita pendek dari para penulis asal benua afrika ini.

Kisah dari penulis Zimbabwe, Daniel Mandishona, menceritakan negerinya tak ubahnya negri yang terbuang,  porak poranda, oleh perang berkepanjangan dalam cerita pendeknya berjudul A Waste Land. Sang narator "aku" harus menanggung penderitaan yang ditimbulkan oleh perang tersebut. Ia melihat Pamannya depresi setelah kembali dari perantauan. Tak lama berselang ia memutuskan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Tak lama sang ayah menyusul mengakhiri hidupnya, setelah terlilit hutang yang tak mampu ia lunasi. Ironisnya hal itu terjadi tepat satu hari setelah kemerdekaan. Perang itu merenggut kehidupan bangsanya. Hal tampaknya ingin disampaikan Daniel Mandishona dalam kisahnya. Ia satu dari sembilan belas penulis dari benua Afrika lainnya yang mencoba menyuarakan kisah mereka.

Sebuah kisah menarik lainnya berjudul Weaverdom milik Tijan. M Sallah asal Gambia tentang sekelompok burung penenun (manyar). Tentu itu sebuah metafora, sebagaimana kelompok burung itu diumpamakan wujud kehadiran kolonialisasi. Dari Somalia ternyata juga memiliki kisah mistisnya sendiri. Kisah milik Saida Hagi-Dirie Herzi  berjudul Government by Magic Spell menceritakan sebuah kisah tentang perempuan yang dikuasai sosok gaib serupa "Jin". Hal itu membuat gempar satu desa. Orang pintar di desa setempat mengatakan ada sesuatu yang merasuki dirinya.

Kisah-kisah lain dalam enam belas kisah lainnya juga akan memberikan perspektif yang berbeda bagi siapapun yang menikmatinya.  Mereka mencurahkan betapa kemiskinan, perang berkepanjangan, penjajahan dan berbagai isu global lainnya amat menyengsarakan, hingga menguji batas kewarasan tertinggi hidup mereka.









Sunday, 14 January 2018

Pengalih Bahasa

Saya gemar menyaksikan wawancara beberapa pengalih bahasa dari penulis-penulis yang saya sukai. Sering kali saya penasaran dengan apa yang terjadi selama proses penerjemahan itu berjalan ; bagaimana sang penerjemah harus berkali-kali meyakinkan sang empunya karya ; ingin melihat langsung seperti rupa asli penerjemah yang hasil karyanya biasa saya baca dalam bentuk buku.

Di Amerika Selatan, nama Gregory Rabassa bukan nama yang asing lagi hasil terjemahannya. One Hundred Years of Solitude  dan The Incredible and Sad Tale of Innocent Erendira and Her Heartless Grandmother karya Gabriel Garcia Marquez, serta The Mulatta and Mister Fly karya Miguel Asturias merupakan sebagian karyanya yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Dari tanah Hungaria, nama Ottilie Mulzet dan George Szirstes menjadi sosok penting dalam penerjemahan karya Laszlo Krasnahorkai. Dua karya Laszlo yakni Satantango  dan  The Melancholy  of Resistence adalah dua buku yang benar-benar membuat saya kagum terhadap penulis yang satu ini. Siapapun akan terhisap kedalam kalimat-kalimat panjang dalam semesta Laszlo.  Atmosfir cerita yang cukup depresif, serta aliran narasi yang puitis sekaligus dramatis membuat saya tak bisa membayangkan jika karya itu tak ditangani dengan baik oleh pengalih bahasa yang tepat. Sama halnya dengan Seiobo There Below yang diterjemahkan sama baiknya oleh Ottilie Mulzet.

Dari tanah air, saya juga tak bisa membayangkan jika Man Tiger (terjemahan Lelaki Harimau) tak diterjemahkan oleh Labodalih sembiring dan Beauty is a Wound (terjemahan Cantik itu Luka) tak diterjemahkan oleh Annie Tucker, mungkin saya masih belum bisa  mengenal karya-karya Eka Kurniawan saat itu, karena situasi yang masih belum memungkinkan saya untuk menikmati karya-karyanya dalam bahasa ibu saya. Disitulah saya merasa amat beruntung menemukan karya-karya terjemahan dari kedua penerjemah karya Eka.

Peran pengalih bahasa ini sangat berpengaruh besar pada akhirnya,karena ia bukan saja bertugas menerjemahkan, sekaligus menuliskan ulang karya itu ke bahasa baru dengan segala tingkat kerumitannya masing-masing. Gabriel Garcia Marquez mengaku ia amat mengagumi La Metamorfosis (The Metamorphosis) karya Franz Kafka yang diterjemahkan Borges, dan sama halnya dengan siapapun pasti akan merasa amat beruntung (seperti halnya saya yang saat itu menemukan Man Tiger) jika menemukan sebuah karya dari entah berantah yang telah diterjemahkan dengan apik. Ini sebuah rasa terimakasih untuk para penerjemah yang bukunya selama ini telah saya nikmati.

Kekaguman saya itu mendorong saya untuk menantang diri sendiri untuk menerjemahkan beberapa karya penulis favorit saya. Iseng-iseng saja, dan saya tahu ini sebuah percobaan awal serta beresiko. Namun jika Borges saja melakukannya, mengapa saya tidak. Seperti halnya Eyang Pram yang menerjemahkan Tolstoy, serta Eka yang menerjamahkan Steinbeck.

14-01-2018