Tuesday, 19 June 2018

A Portrait of the Artist as a Young Man, James Joyce

Ini adalah buku ketiga dari Joyce  menemani saya dalam beberapa bulan terakhir ; novel pertama yang saya baca diantara kumpulan cerpen dan naskah drama yang mengawalai perkenalan saya dengan karya-karyanya. Kisah tentang Stephen Dedalus, sang tokoh utama, yang bergulat dengan hari-harinya yang kian lama kian bertolak belakang dengan keinginan dirinya.


Besar dalam keluarga yang berpegang teguh dalam ajaran agama Katolik, membuat kedua orang tuanya memasukannya ke sebuah sekolah asrama homogen dengan dibawah naungan  Je Suit. Tentu dengan harapan jika sang anak akan tumbuh dan  menjaga nilai-nilai Katolik yang telah ditanamkan orang tuanya, namun dunia seni menjadi hal yang tak terelakan bagi Stephen.  Layaknya bocah seumurannya, ia mulai menemukan hal-hal baru yang menghisapnya kian dalam, tanpa seorangpun  yang bisa menghentikan hasratnya.

Tak banyak berbeda sebenarnya kisah dalam diri Dedalus dan Joyce. Ini bisa dibilang sebuah alterego dirinya. Konflik-konflik  yang bermunculan mulai dari nilai-nilai agama, moral dan konflik internal dalam keluarganya membuat Dedalus harus memutuskan sebuah hal besar yang akan menjadi keputusan besar dalam hidupnya.

Layaknya bom waktu yang terus disimpan rapat, lambat laun hal itu tak lagi bisa disembunyikan. Stephan Dedalus menemukan  bahwa dirinya tak sepatutnya berada disana, jika tak ingin terus menyiksa dirinya dengan segala hal yang terlihat usang baginya.

Buku ini diterbitkan hampir dari seratus tahun yang lalu. Semula  Joyce berniat membuat sebuah autobiografi dalam bentuk novel realis. Hal itu tak menemukan titik temu dengan sang penerbit hingga ia meninggalkan manuskrip tersebut dan memulai menggarap A Potrait..... yang dalam hal ini menjadi sebuah karya yang eksperimental.

Joyce tampak bereksplorasi banyak dalam beberapa hal,  mulai dari puisi, dialog interior yang kerap menghiasi cerita hingga arus kesadaran membuat karya ini istimewa. Disitulah kejeniusan Joyce tak bisa terbantahkan lagi. Detail-detail yang tersebar dalam cerita tak ubahnya daya magis yang mengikat.


Pada akhirnya kisah Dedalus adalah refleksi kehidupan Joyce. Tak terbantahkan. Kisah ini berangkat dari sebuah keraguan. Keraguan atas sebuah keyakinan yang terus dipaksakan coba terus dipaksakan hingga tak menyisakan lagi sedikit ruang untuk mempertanyakan keyakinan itu. Pada fase itu kisah ini akan selalu mejadi hal yang menyenangkan untuk dibaca kembali kapanpun. Sehingga akan selalu ada sebuah ruang dalam pikiran yang akan terus mempertanyakan keyakinan terhadap apapun yang dianggap benar, agar keyakinan itu tak membutakan akal sehat setidaknya.



D S






























Saturday, 12 May 2018

El Tunnel

(Diterjemahkan dari novel El Tunnel )

Judul: Terowongan
Oleh : Ernesto Sabato

(“Bagaimanapun juga, hanya ada satu-satunya terowongan, terisolasi dan gelap, diriku sendiri”)


I

Ini bisa dibilang jika aku Juan Pablo Castle, pelukis yang telah membunuh Maria Iribarne; Aku kira jika orang-orang akan ingat apa yang telah kuperbuat, dan mereka tak perlu penjelasan lain dari kepribadianku.


Sekalipun  setan tidak tahu apa yang orang-orang ingat, atau mengapa mereka melakukannya. Pada kenyataan, aku selalu saja berpikir tidak ada kumpulan kenangan, yang  mungkin sejenis penahan untuk spesies manusia. Sebuah ekspresi, "segala masa lampau lebih baik," tidak menunjukan jika sebelum beberapa hal buruk terjadi, untungnya, orang- orang cenderung untuk melupakannya. Tentunya, sebuah ekspresi seperti ini tidak selalu betul ; Aku, contohnya, adalah jenis pribadi yang cenderung mengingat hal-hal buruk, maka dari itu, akan hampir bisa dikatakan jika "segala masa lampau lebih buruk," seandainya ini bukan untukku semua masa kini terlihat lebih mengerikan dari masa lalu. Aku ingat amat banyak petaka, amat banyak wajah sinis, dan begitu banyak hal buruk yang bagiku, kenangan seperti cahaya menakutkan yang menyinari musium kotor yang memalukan. Berapa kali sudah aku dikecewakan berjam-jam, setelah membaca sebuah artikel di berita polisi! Tetapi kenyataan adalah bagian paling memalukan dari peradaban manusia yang tidak selalu muncul ada;  dalam beberapa upaya kriminal adalah orang-orang paling jujur dan kurang ofensif. Dan aku tidak bilang ini karena aku seorang pribadi yang baru saja membunuh seseorang; Ini jujur dan kejujuran yang mendalam. Jadi seseorang itu jahat? Baiklah, habisi mereka, dan ini adalah akhir darinya.  Ini apa yang kusebut sebuah perbuatan baik.  Baru saja berpikir betapa buruknya ini  jika  berada pada masyarakat, seandainya  individu meneruskan menyebarkan racunnya dan daripada menyingkirkannya, kita akan mencoba menghalangi aksinya dengan menyembunyikannya, mengamatinya,  atau tindakan-tindakan keji sejenis lainnya.  Sejauh kupeduli, harus kuakui jika sekarang aku menyesal  tidak mengambil keuntungan dari kesempatan melakukannya dari kelaparan dan kemudian mereka memaksanya memakan seekor tikus. Sejauh ini masih hidup. Tetapi itu bukan apa yang ingin aku katakan. Jika ada sebuah kesempatan, aku ingin mengatakan sesuatu kemudian ketimbang perkara tikus.


II
Seperti yang kukatakan, namaku Juan Pablo Castle. Seseorang mungkin berpikir jika itu membuatku ingin memberitahu kisah cerita kejahatanku  (Aku tak tahu apa aku akan membicarakan kejahatanku) dan mencoba mempublikasikannya. Aku tahu jika jiwa manusia cukup baik  untuk sebagian akan bisa memperkirakan itu sia-sia. Mereka  dapat berpikir  apa yang mereka inginkan : Aku tak peduli : untuk sekian lama sekarang waktunya keadilan, atau apa yang orang-orang piker, persoalan kecil untukku. Biarkan mereka membayangkan aku akan mengeluarkan cerita ini daripada sia-sia. Dalam analisa akhir, Aku adalah pribadi dari daging dan darah, rambut, dan kuku, seperti yang lain juga, dan aku akan merasa jika ini benar-benar salah untuk mereka untuk mengiraku, khususnya aku, memiliki keunggulan istimewa. Seorang manusia terkadang merasa dia sejenis superman, hingga dia menyadari jika ia jahat, kotor dan berbahaya. Dan aku tidak sedang membicarakan omong kosong : Aku tak berpikir jika ada satupun tanpa mesin kemajuan manusia yang terkenal ini. Ini membuatku tertawa mendengar orang-orang bicara tentang kesantunan Einstein, atau orang-orang semacam itu. Alasannya: Ini mudah menjadi santun ketika kamu adalah seorang selebriti. Maksudku, tampak santun. Sekalipun ketika seseorang berpikir jika ini tidak eksis sama sekali, seseorang dengan cepat  menemukan yang bentuk yang paling halus : Kesopanan yang sia-sia.

(Bersambung)
Nb: Diperbarui secara berkala



Sunday, 22 April 2018

Las Hortensias

(Diterjemahkan dari novel Las Hortensias )
(Karya : Felisberto Hernandez)

Untuk Maria Luisa

I

          Di sebelah taman pernah ada sebuah pabrik dan kebisingan mesin-mesin diantara tanaman-tanaman dan pepohonan. Dan di bagian belakang kebun kau bisa melihat rumah sepatu yang gelap. Pemiliknya seorang pria tinggi. Saat senja, langkah pelan mereka tiba dari jalan ; dan ketika kumasuki taman dan berpikir kebisingan (suara) mesin, terlihat seperti langkah-langkah yang mengunyah pemberat.  Suatu malam pada musim gugur, saat membuka pintu dan memicingkan mata demi menghindari cahaya yang kuat dari aula, dia melihat istrinya berhenti ditengah ruma
h kecil itu; dan melihat langkah-langkahnya mengarah ke tengah teras dan ketika ia melangkah ke tangga, menumpahkan dirinya ke tengah teras, nampak baginya bahwa istrinya mengenakan gaun marmer besar dan tangan yang meraih pagar itu mengangkat gaun itu.

(Bersambung)
Nb: Diperbarui secara berkala

Sunday, 15 April 2018

Nocturno de Chile

         Pada Malam Hari di Chili       
   Oleh : Roberto Bolaño 
 (Diterjemahkan dari Judul Asli: Nocturno de Chile)
  Penerbit : Debolsillo


Untuk Cantarina Lopez dan Lautaro Bolaño  


 "Lepaskan rambut palsu." - Chesterton


Sekarang aku sedang sekarat, namun banyak hal yang masih ingin kukatakan. Aku sempat merasa tenang dengan diriku. Tenang dan damai. Namun semuanya tiba-tiba muncul. Pemuda itu adalah pelakunya. Aku yang tadinya merasa tenang. Kini aku tidak lagi tenang. Ada beberapa poin yang harus dijelaskan. Jadi aku akan bersandar pada satu siku dan mengangkat kepalaku, kepalaku yang gemetar, dan menggali ke dalam sudut kenangan tindakan-tindakan yang membenarkannya dan karena itu menorehkan keburukan yang dialami  remaja belia itu menyebar dalam ketidak percayaanku pada suatu malam dalam gemuruh petir. Dugaanku memang tak pantas. Kaulah yang harus bertanggung jawab. Aku sudah mengatakan seumur hidup. Seseorang memiliki tanggung jawab atas kata-katanya dan keheningannya sekalipun, ya, untuk keheningannya, karena keheningan juga naik ke surga dan Tuhan mendengarkan mereka dan hanya Tuhan yang mengerti dan menghakimi mereka, jadi berhati-hatilah dengan keheningan tersebut. Aku bertanggung jawab atas semua. Keheninganku yang tak bercela. Untuk memperjelas. Tapi yang terpenting, jelaskanlah kepada Tuhan. Sisanya bisa kulupakan. Tuhan, tidak. Aku tidak tahu apa yang sedang kubicarakan. Terkadang aku terkejut bertopang siku. Aku berkeliaran dan bermimpi dan mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri. Namun kadang kala namaku sendiri saja aku lupa. Namaku Sebastian Urutia Laroix. Aku orang Chili. Nenek moyangku di pihak ayah berasal dari desa Basque, atau Euskadi, seperti yang sekarang disebutnya. Untuk pihak ibuku, berasal dari tanah lembut Prancis, dari sebuah desa yang namanya berarti "Hombre en tierra"  atau mungkin "Hombre a pie", bahasa Prancisku mengecewakan pada akhirnya. Namunku masih memiliki cukup kekuatan untuk mengingat dan membantah penghinaan pemuda kerempeng itu, terlempar ke wajahku suatu hari, ketika tanpa sedikit pun provokasi dan tiba-tiba, dia muncul di pintu rumahku dan menghinaku. Biarkan aku menjelaskannya. Tujuanku bukan untuk menimbulkan konflik, tidak pernah demikian, tujuanku adalah kedamaian dan tanggung jawab atas tindakan seseorang, untuk kata-kata dan keheningan seseorang. Aku orang yang masuk akal. Aku selalu pribadi yang masuk akal. Pada usia tiga belas tahun aku mendengar panggilan Tuhan dan memutuskan untuk masuk seminari. Ayahku menentang gagasan itu. Dia tidak benar-benar tidak fleksibel, tapi dia menentang gagasan itu. Aku masih ingat bayangannya menyelinap dari kamar ke kamar di rumah kami, seolah-olah itu adalah bayangan musang atau belut. Dan aku ingat, aku tidak tahu bagaimana, tapi faktanya adalah aku mengingat senyumku di tengah kegelapan, senyum anakku. Dan aku ingat adegan berburu di permadani. Dan sebuah piring logam tempat makan digambarkan dengan semua hiasan yang sesuai. Aku tersenyum dan gemetar. Dan setahun kemudian, pada usia empat belas tahun, aku memasuki seminari, dan ketika aku keluar lagi, jauh kemudian, ibuku mencium tanganku dan memanggilku Padre, dan ketika, dalam keherananku, aku memprotes, mengatakan jangan memanggilku Padre, aku putramu, atau mungkin jangan memanggilku putra-Mu namun si anak, dia mulai menangis atau terisak, dan kemudian aku pikir, atau mungkin pemikiran hanya terjadi pada ku saat ini, jika hidup adalah suksesi pemahaman yang menuntun kita pada sebuah pemahaman akhir, satu-satunya kebenaran. Dan sedikit lebih awal atau sedikit kemudian, kira-kira beberapa hari sebelum ditahbiskan menjadi imam atau beberapa hari setelah mengucapkan sumpah suci, aku bertemu dengan Farewell, Farewell yang terkenal, aku tidak ingat persis di mana, mungkin di rumahnya. Aku pergi ke rumahnya, walaupun mungkin aku melakukan ziarah ke kantor editorial surat kabar atau mungkin aku melihatnya untuk pertama kalinya di klubnya, suatu sore yang melankolis, seperti pada sore hari di Buenos Aires, meskipun di dalam jiwaku burung sedang bernyanyi dan kuncup merekah menjadi bunga, seperti yang dikatakan penyair, dan ada perpisahan, tinggi, satu meter dan delapan puluh sentimeter, meskipun tingginya setinggi dua meter, mengenakan setelan jas halus Inggris, sepatu buatan tangan, dasi sutra, kemeja putih yang tak bernoda seperti harapanku, manset emas, lencana bantalan dasi yang tidak ingin aku tafsirkan tapi yang maknanya sama sekali tidak lolos dariku, dan Farewell mengundangku untuk duduk di sampingnya, sangat dekat, atau mungkin sebelum itu dia membawaku ke perpustakaan atau klub perpustakaan, dan sementara kami melihat-lihat duri buku-bukunya, dia mulai menjernihkan tenggorokannya, dan saat dia berdeham, dia mungkin telah mengawasiku dari sudut matanya, meskipun aku tidak dapat memastikannya, karena aku terus memusatkan perhatian pada buku-buku itu, dan kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak saya mengerti atau sesuatu yang tidak dimiliki memori aku, dan setelah itu kami duduk lagi, dia di Chesterfield, aku di atas kursi, dan kami membicarakan buku-buku yang duri yang telah kami lihat dan belaian, jari-jari mudaku yang segar dari seminari, jari-jari tebal Farewell sudah agak bengkok, tidak mengherankan mengingat usianya dan tinggi badannya, dan kami berbicara tentang buku-buku itu. dan penulis buku-buku itu, dan suara Farewell seperti suara seekor burung pemangsa besar yang melayang di atas sungai, gunung, lembah, dan jurang, tidak pernah bingung dengan ekspresi yang tepat, kalimat yang sesuai dengan pemikirannya seperti sarung tangan, dan ketika dengan naif dari seorang pemula, aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi seorang kritikus sastra, bahwa aku ingin mengikuti jejaknya, bahwa bagi aku tidak ada sesuatu di bumi yang bisa lebih memuaskan daripada membaca, dan untuk mempresentasikan hasil bacaanku dalam prosa yang bagus, saat aku bilang itu, Farewell tersenyum dan meletakkan tangannya di bahuku (sebuah tangan yang terasa seberat seperti jika terbungkus dalam tungkai besi atau benda yang lebih berat) dan dia bertemu dengan pandangan aku dan mengatakan bahwa ini bukan jalan yang mudah.








(Terjemahan bersambung)

Nb: Diperbarui secara berkala

Friday, 30 March 2018

Kafka on The Shore, Haruki Murakami

Sudah cukup lama saya tak membaca buku-buku Murakami. Seingat saya ada dua buku Murakami yang yang telah saya baca berkali-kali dan selalu menyenangkan untuk dibaca kembali. Salah satunya adalah Kafka On The Shore. Sebuah kisah tentang bocah lima belas tahun  yang memutuskan minggat dari rumah dan tinggal di sebuah perpustakaan. Kau bisa menyebutnysebuah karya picaraesque jika melihat banyak elemen-elemen itu dalam kisah ini.


Sang tokoh utama merupakan bocah lima belas tahun bernama Kafka Tamura, memutuskan minggat dari rumah. Sesederhana itu sebenarnya asal muasal kisah ini bermula. Kemudian masa lalu sang tokoh mengantarkannya pada sebuah pertemuannya dengan wanita yang cukup misterius di sebuah perpustakaan misterius, lagu yang tak kalah misterius, dan perpustakaan yang kelak menjadi persinggahan selama perlariannya. 

Bukan Murakami namanya jika tak membuat semacam perayaan terhadap penulis-penulis panutannya. Kali ini Kafka tampaknya menjadi sosok yang dijadikan elemen (dari judul pun siapapun akan bertanya-tanya) dalam kisah ini. Rasanya penulis kelahiran Ceko yang tersohor itu akan mengangkat alisnya di peristirahatannya saat membaca buku ini.

Yang membuat saya menarik pada novel ini ketika bocah tersebut berkali-kali berada pada sebuah keadaan yang membuatnya mengira jika seorang perempuan misterius yang dijumpainya adalah ibunya. Bagi anak lima belas tahun dengan masa lalu perih seperti Kafka tentu hal ini tak ubahnya sebuah pencarian tanpa henti. Ibu bagi setiap anak adalah cinta pertama yang tak akan bisa terelakan. Hingga kapanpun. Dan Kafka benar-benar berada dalam sebuah pusaran badai kehidupannya sendiri.

Sebesar-besarnya badai dalam kehidupan, musik dan buku memang akan selalu menjadi pemandu hidup seseorang. Setidakny kedua hal itu tak ubahnya virus-virus kecil yang merasuki pikiran yang sedang kalut dengan kejamnya dunia dan lingkungan sekitar. Hasilnya tentu saja sebuah pintu baru yang akan dimasuki. Dalam konteks ini tentu si protagonis, Kafka Tamura.

Yang membuat kisah ini kian menarik adalah beberapa karya film, musik dan buku yang kerap muncul di beberapa adegan. Murakami tampaknya tak sungkan memberikan rekomendasi film klasik karya Francois Truffaut (400 blows), karya sastra klasik timur tengah The Arabian Nights, hingga buku  Ernest Hemingway.

 400 Blows adalah film yang tentang seorang anak laki-laki yang tak mampu menikmati masa-masa kecilnya. Kehidupan Paris yang penuh gemerap kaum borjuis, terlalu awal merenggut masa kecilnya. Tunggu.  Sedikit ada persamaan nasib antara Antoine Doinel dengan Kafka Tamura yang tak memiliki masa kecil yang ideal layaknya bocah-bocah seusia mereka. 

Untuk kesekian kali saya akan mengatakan buku ini tak pernah membosankan. Dengan hampir lebih dari empat ratus delapan puluh halaman didalamnya, selalu ada hal baru yang bisa ditemukan. Berulang-ulang tanpa terasa berlebihan. Mengambil kutipan dalam buku ini "Kau akhirnya akan terlelap. Dan ketika kamu bangun, itu betul. Kau adalah bagian dari sebuah dunia yang baru."

D S

Thursday, 15 March 2018

Aunt Julia and the Scriptwriter, Mario Vargas Llosa

Apa konflik cinta terbesar yang kerap terjadi antara pria dan wanita ? Yang sering ada mungkin masalah perbedaan suku, agama, dan budaya. Hal-hal macam itu biasanya kerap menjadi ganjalan bagi kelangsungan hubungan asmara dua orang muda mudi, atau pria dan wanita dari berbagai usia. Mario Vargas Llosa kali ini membagi pengalaman kisah cintanya yang bisa dibilang cukup tak biasa juga bagi siapapun saya rasa.

Seorang seorang penulis skrip tak pernah menyangka jika ia kelak akan jatuh  hati pada bibinya sendiri. Berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, pada akhirnya pun sang penulis kemudian memutuskan menikah dengan sang bibi (meskipun tak memiliki ikatan darah). Jelas hal  itu bukan lagi kisah cinta yang terjal, melainkan namun sudah menjadi sebuah aib. Bukan saja  bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya, sebagaimana semua drama itu tersaji sepanjang cerita dalam novel ini.

Marito, sang protagonis, memilih untuk memberontak demi cintanya. Dalam hal ini, terkadang kecurigaan saya kian menjadi. Bahwasanya seseorang yang sedang dimabuk asmara akan melakukan hal-hal diluar nalar manusia normal. Dalam konteks kali ini tentu sebuah hasrat untuk menikahi perempuan yang dicintainya yakni sang bibi. Mungkin semua hal itu akan terdengar begitu naif pada akhirnya, apalagi bagi seorang mahasiwa hukum di Peru yang tengah memiliki mimpi meniti karirnya kepenulisannya di Perancis.


Dalam karya ini Mario Vargas Llosa mungkin bisa menjadi semacam penasehat bagi siapapun tanpa memandang gender. Ketika otoritas pemerintahan setempat tak memungkinkan menjalankan upacara pernikahan, Marito (panggilan untuk Mario kecil) memutuskan  melangsukankan pernikahan di sebuah desa yang memungkinnya mewujudkan hal itu.  Disana ada sebuah celah kecil di dalam hukum untuk merealisasikan kisah cinta mereka itu. Tentu kisah ini akan menjadi sebuah kisah yang langka. Siapapun bisa menjadikannya sebuah pelajaran dari berbagai sisi.

Mario Vargas Llosa seolah memperlihatkan sebuah kenyataan jika setiap manusia bisa saja jantuh cinta dengan siapapun.  Dengan perempuan yang lebih tua darinya atau lelaki yang lebih muda dari dirinya. Perkara hati memang tak pernah bisa ditebak.  Hampir mustahil memperkirakan kapan perasaan itu datang, dan perilaku orang-orang yang sedang jatuh hati memang kadang memicu berbagai akal untuk memuluskan segala rencana gila mereka, hingga  tak jarang hal itu membuat siapapun bisa membuatnya mengambil sebuah keputusan nekat. Pada akhirnya novel ini membawa saya kemana-mana. Sebuah kisah cinta tanpa sedikitpun mencoba mengumbar bualan klise yang kelewat manis.

D S







Thursday, 8 March 2018

A Soldier's Pay, William Faulkner

Novel ini memberikan sedikit harapan. Setelah melakukan percobaan beberapa kali, ini yang paling lumayan bisa saya cerna alur cerita dan maksud ceritanya. Jika membaca As I Lay Dying dan Sound and the Fury adalah sebuah introduksi dengan Faulkner dan membuat pusing kepala, saya menganggapnya sebagai perkenalan dengan cara yang salah. Kali ini upaya perkenalan itu berjalan sedikit lebih  baik dari kedua judul itu. Sebuah kisah tentang seorang tentara yang terluka di medan perang yang kembali ke kampung halamannya,

Donald Mahon, terluka parah dalam sebuah perang di Georgia. Ia pulang menempuh perjalanan kereta dengan kondisi yang menyedihkan. Tak ada yang menyangka ia akan kembali dari medan perang.  Kepulangannya ke rumah benar-benar menjadi sebuah kejutan. Semua keluarga dan kerabatnya telah mengira ia gugur di medan perang, termasuk sang kekasih. Semua hal pribadi yang terhenti dalam kehidupan Mahon, perlahan-lahan muncul kembali kehadapannya. 

Kepulangan Mahon pada akhirnya menjadi sebuah ironi. Sang ayah yang sudah merasa stoic mengingat kepergian putranya ke medan perang, perlahan menjadi optimis jika anaknya akan kembali pulih seperti sedia kala. Sang kekasih yang semula berharap jika Mahon akan menjadi seorang pahlawan perang justru tak menemukan apapun dalam kepulangannya itu. Yang ada hanya kondisi Mahon yang penuh luka dan trauma pasca perang.

Perang pada akhirnya adalah sebuah mimpi buruk tak berujung. Dampak yang ditimbulkan dalam diri Mahon benar-benar telah meruntuhkan dinding kepercayaan dirinya. Isolasi diri Mahon menjadi sebuah alienasi bagi dirinya dan bagi dunia. Penderitaan tampaknya belum berakhir untuk Mahon dalam kondisi fisik dan mental yang terguncang, hingga kemunculan perempuan yang sempat memiliki affair dengan Mahon. 

Cara bercerita Faulkner pada akhirnya jauh lebih liar untuk bisa diterima jika satu mengharapkan sebuah keteraturan alur cerita dan plot yang terstruktur, karena arus kesadaran yang coba dibangun Faulkner memang membuat proses pembacaan ini berjalan dengan lebih lambat pada akhirnya jika tak ingin kehilangan petunjuk dan maksud sang penulisnya. Ia menawarkan sebuah inovasi yang akan selalu segar untuk dinikmati berulang-ulang dari pecahan kristal ide yang dihamburkan di dalam ceritanya.

D S

Tuesday, 6 March 2018

Kisah yang Tak Usai

Sial. Saya selalu benci pada perasaan sentimentil ketika akan berhadapan dengan sebuah perpisahan. Brengseknya, hal itu menghinggapi hari-hari saya menjelang sebuah perpisahan dengan seorang kawan. Perpisahan atas sebuah kisah yang tak usai. Petualangan yang harus berakhir karena plot cerita dalam hidupnya telah berubah dan otomatis semuanya pun berubah. Semua terjadi begitu aja. Tiba-tiba dan tak terhindarkan.

Sama halnya dengan kisah The Castle milik Franz Kafka yang juga tak selesai. Ya ya saya tahu, ini akan melipir ke hal lain yang tak berkaitan sama sekali. Tapi dalam perasaan yang  kalut seperti ini, ada yang membuat kedua hal itu lumayan mirip.  Kedua hal itu lambat laun akan bermuara pada sebuah akhir. Dalam kondisi itu saya mencoba menempatkan diri menjadi seorang kawan dan pembaca yang baik. Bagimana pun juga seorang kawan harus saya berusaha memahami kondisi kawannya dan sebagai seorang pembaca juga harus bisa mencoba apapun yang terjadi dengan kisah The Castle yang harus berakhir demikian adanya.

The Castle dimulai dengan seorang tukang ukur tanah yang dibangunkan dari tidurnya, kemudian sekelompok orang yang mengaku memiliki otoritas atas wilayah kastil memerintahkan sang tokoh utama bernama K. untuk melapor kepada pihak kastil. K. kemudian dihadapkan dengan birokrasi yang rumit dan berbelit-belit. Seperti konflik-konflik yang senantiasa muncul dalam kisah-kisah Kafka, sang tokoh dizolimi dengan permasalahan yang tak bisa dihindirinya sekaligus untuk dihadapinya. Kali ini kastil itu menjadi sebuah simbol kekuasaan yang menerornya. Sang tokoh protagonis kali ini membuat saya terus berharap pada sebuah penantian.

Novel ini dipublikasikan di akhir tahun 20an. Tepat ketika kesehatan Kafka sedang memburuk, dan tak lama berselang menutup usianya. Ia berpesan kepada literary executor-nya, Max Brod, untuk memusnahkan seluruh manuskrip dan segala tulisan-tulisan yang pernah ia garap, termasuk kisah ini. Untungnya hal itu tak terwujud. Hingga novel ini bisa berada di tangan saya. Di balik usianya yang sudah berumur enam puluh tahun, dan lembar-lembarnya yang mulai menguning. Ini buku istimewa dari penulis yang juga begitu istimewa.

Dengan akhir kedua kisah ini yang harus berakhir demikian, maka saya mencoba menempatkan diri saya menjadi seorang kawan yang akan selalu mengerti kondisi permasalahan yang dihadapi kawan saya; serta memahami alasan dibalik nasib yang menimpa novel ini. Apapun akhir kedua kisah itu, toh ujung-ujungnya keduanya bermuara menuju sebuah akhir. Dan hingga kapanpun, saya akan selalu menanti untuk mendengar lagi kisah dari kawan saya ini dan tentunya membaca kembali novel ini yang akan mengingatkan saya pada seorang teman dan penulis hebat di masa itu. Maka dalam hal ini, saya akan merindukan kedua hal itu dengan menantikannya.

D S

Sunday, 4 March 2018

Ubik, Philip K Dick

Apa jadinya jika bumi dikuasai bulan ? Bagaimana jadinya jika kekuatan "psychic" menjadi sebuah kemampuan biasa yang dikuasai manusia? Ubik merupakan sebuah kisah dimana hal-hal tak biasa tersebut telah menguasia seluruh bumi. Tokoh antagonis, Joe Chip,  yang bekerja pada sebuah agensi "anti-psis" berupaya menghentikan kekuatan telepati yang sedang menginvasi kehidupan privasi masyarakat.

Kelak siapapun bisa menggunakan kemampuan telepati untuk membaca pikiran orang lain. Oh iya kemampuan precogs juga akan menjadi hal lumrah dikuasai untuk membaca sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Ditambah lagi di setiap awal bab, akan ada semacam iklan produk-produk dengan unsur-unsur Ubik . Siapapun pasti bertanya-tanya apa sebenarnya "Ubik" itu.

Kisah ini pada akhirnya bukan hanya sekedar omong kosong sains fiksi dari Philip K Dick. Ubik terlihat seperti sebuah partikel penting tak berwujud dalam sebuah kehidupan. Apakah partikel ini penting? Bisa dibilang demikian. Tapi rasanya siapapun juga masih bisa hidup walau tanpanya, karena seperti yang disebutkan sendiri oleh sang narator, jika "Semua  ini baru permulaan."

D S

Monday, 26 February 2018

Karnak Cafe, Naguib Mahfouz

"Di negara kita ada beberapa orang religius. Kepentingan mereka adalah melihat agama mendominasi seluruh ranah kehidupan, filsafat, politik, moralitas dan ekonomi." Sepenggal kalimat dalam novel ini kurang lebih menggambarkan suasana Mesir yang bergejolak oleh perang saat itu.

Judul cerita ini pun sebenarnya diambil sebuah kafe tempat berkumpulnya orang-orang berbagai golongan, sekaligus tempat mencurahkan pemikiran serta keluh kesah mereka. Ketika negara mereka yang sedang mengalami konflik berkepanjangan. Kafe ini menjadi tempat mereka melepas penat, sekaligus berkumpulnya orang-orang terpinggirkan, sambil terus mengharapkan keadilan ditegakkan

Para pemuda yang dianggap memberontak dipenjarakan, dan siapapun mencoba menyuarakan pemikiran yang bersebrangan dengan pemerintah harus bersiap-siap merasakan dinginnya jeruji besi. Penjara tampak menjadi sebuah tempat yang kerap ditonjolkan sepanjang kisah. Persikusi politik di Mesir benar-benar menjadi mimpi buruk yang panjang. Para pemuda tak berhenti menyusun rencana mengakhiri kekejaman penguasa.

Sang pemilik kafe adalah bekas seorang penari terkenal, Qurunfula. Dahulu sosoknya amat dipuja karena profseinya itu, bahkan seorang lelaki sampai rela menjadi pelayan di kafe miliknyaa. Kiranya itu satu dari sekian drama yang terjadi di Karnak. Ada pula para polisi rahasia  berkeliaran disekitarnya. Hingga sepotong kalimat dalam kisah ini akan mampu memberi sebuah pengertian. "Terkadang ada banyak bangsa yang hilang ingatan, namun tidak pernah bertahan selamanya."


D.S

Tuesday, 20 February 2018

Sebuah Keanehan Dalam Pikiranku

Adalah seorang pria Turki bernama Mevlut Karatas, penjual bosa (minuman tradisional turki) yang tengah jatuh hati pada seorang wanita di sebuah pesta pernikahan. Sejak malam itu, ia membulatkan tekadnya mendapatkan sang wanita pujaanya. Surat cinta satu persatu mulai ia kirimkan. Harapannya tentu menaklukan hati si wanita idaman. Dengan bantuan seorang kawan, perjuangannya sedikit lebih lebih ringan semestinya dan seperti orang yang sedang dimabuk kepayang, rencana pun disusun. Begitu kiranya gambaran pembuka novel Orhan Pamuk, berjudul A Strangeness in My Mind, yang saya pinjam dari seorang kawan.

Buku ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang percaya cinta pada pandangan pertama (bagi barang siapa yang percaya) ; sekaligus cara memahami pikiran siapapun yang kerap diombang-ambing dengan "rasa aneh" di dalam pikirannya (bagi yang mungkin pernah merasakan tentunya). Faktor lain yang menarik dalam novel ini yakni banyaknya narator yang silih berganti menceritakan kisahnya, alhasil perspektif menjadi amat luas dan cerita menjadi lebih menarik sekaligus meminta perhatian lebih. Pamuk juga sesekali menyisipkan humor-humor politiknya, sekaligus sindiran-sindiran tentang kota kelahirannya yakni, Istanbul yang begitu ia cintai.

Bagian yang paling membuat saya tak berhenti tersenyum  tentu ketika Mevlut menyadari jika wanita yang ia ajak untuk kawin lari itu bukan lah wanita yang selama ini ia maksud. Bagi saya ini keistimewaan Pamuk menciptakan kejutan-kejutan yang ia simpan rapi dibalik berbagai narator yang silih berganti menyuarakan kisahnya. Adalagi yang menarik ketika ia terlibat dalam sebuah konflik di tempat kerjanya di sebuah restoran. Disitu Mevlut berada pada sebuah persimpangan jalan antara suara  hati kecilnya dan rekan kerjanya yakni sahabat baiknya. Meskipun itu berujung pada sebuah akhir. Bagaimana akhirnya? Saya tak ingin membocorkan terlalu banyak. Biarkan siapapun menikmati buku ini, agar mampu merasakan dengan  hikmat dan nikmat suasana cerita yang dibangun dengan megah. Sehingga pada akhirnya keanehan di dalam pikiran siapapun akan terus membuat mereka bertarung mempertahankan harkat dan martabatnya sendiri.

D S

Saturday, 10 February 2018

The Incredible and Sad Tale of Innocent Eréndira and Her Heartless Grandmother, Gabriel Garcia Marquez

"Erendira sedang memandikan neneknya ketika angin kemalangan mulai berhembus" . Begitu kira-kira novel ini dibuka. Erendira, bocah perempuan polos belum genap berumur empat belas tahun itu tak menyadari jika dirinya  akan berhadapan dengan sebuah kemalangan yang tak terelakan. Salah satu kemalangan itu adalah neneknya sendiri.

Erendira benar-benar tak punya pilihan untuk melawan nasibnya. Di saat anak-anak seusianya bisa menikmati kebebasan untuk waktu bermain bersama teman-temannya, ia justru harus melewati hari-harinya bersama nenek kandung tak berhati, yang lebih rupanya amat menyerupai penyihir tua yang jahat seperti dalam dongeng anak-anak umumnya.

Mungkin benar adanya jika dunia itu kejam, saking kejamnya hal itu harus tiba lebih awal bahkan terlalu awal untuk Erendira, ketika secara tak sengaja ia lupa menutup jendela kamarnya, hal itu menyebabkan kecelakaan mengerikan di rumah neneknya. Dari situlah kemalangan Erendira kian menjadi.

Semilir angin yang berhembus menghela halus Erendira, berbanding terbalik dengan kehidupan menghantamnya kian keras hari demi hari. Ia tak bisa mengelak dalam perbudakan yang membelunggu hidupnya. Tak ada sosok yang lebih malang dari seorang bocah yang harus menjadi budak bagi neneknya sendiri. Bisa dikatakan jika ia adalah simbol kemalangan, jika tak bisa dibilang korban kerasnya kehidupan yang kejam.  Dalam hidup ini kesalahan kecil akan mengantarkan siapapun pada kemalangan tanpa akhir.

Novella yang dibuat tahun 1972 ini lebih dari sekedar kisah drama keluargan antara cucu dan neneknya. Ada kisah cinta terselubung di dalamnya, hingga  kisah kriminal yang dramatis. Kecenderungan Gabo pada kata-kata puitis dalam kisahnya, benar-benar mengantarkan pada satu kesimpulan. Pada akhirnya angin kemalangan itu tampaknya tak pernah bisa sirna di dalam sebuah kehidupan.

D.S


Monday, 5 February 2018

The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoevsky

Saya sempat merasa ragu untuk menulis jurnal atas pembacaan buku yang satu ini. Pasalnya, buku ini cukup menguji kesabaran dalam sembilan ratus halaman di dalamnya. Setelah menyelesaikannya pun, saya rasa apa yang dipaparkan Dostoevsky dalam kisah ini amat menekan.  Ada drama keluarga, kisah kriminal, nilai-nilai keagamaan, perdebatan moralitas dan kisah masing-masing tokoh yang membuat saya kian sepakat untuk menyebut buku ini sebuah mahakarya dari sang penulis. Saya pun tahu diri melihat keterbatasan saya menyelami pemikiran sang penulis. Paling tidak, satu bulan saya tak terbuang percuma menikmati dua belas buku, dengan  puluhan karakter di dalamnya. Penggambaran psikologis setiap karakter di dalamnya menawarkan sebuah sudut pandang lain melihat sebuah cerita, namun saking banyaknya karakter dalam buku ini jelas memberi dampak, salinan tokoh pada secarik kertas yang amat banyak, pada tempo cerita yang berjalan lambat. Sosok Alexei digambarkan bak seorang pahlawan oleh sang narator, dan bisa dikatakan ia sosok yang paling beriman ketimbang saudaranya yang lebih tua yang justru seorang ateis. Alosya (panggilan akrab Alexei dalam kultur setempat) bisa dibilang tokoh yang cukup menonjol dalam kisah ini meskipun saya juga tak bisa berhenti membayangkan lekuk tubuh Katarina Ivanovna digambarkan cantik nan menawan oleh sang narator. Bisa dikatakan penggambaran tokoh yang kuat seperti ini yang membuat Dostoevsky berbeda diantara penulis rusia lainnya. Semua detail tokoh itu seolah mengingatkan jika tak pernah ada manusia yang seratus persen baik dan juga sebaliknya. Sebulan ini terasa seperti plesir panjang. Pulang kembali ke St.Petersburg, namun kali ini ditemani oleh sang penulis.   Dan yang pasti, akan ada pembacaan kedua dan kali berikutnya, karena saya yakin kisah ini akan tetap menyenangkan untuk menyimak kisah Karamazov Bersaudara.





Thursday, 1 February 2018

Notes From The Underground, Fyodor Dostoevsky

Buku ini adalah sebuah kisah memoir seorang "manusia bawah tanah".  Tokoh utama cerita ini bisa dibilang sampah masyarakat. Sebagai seorang pesakitan yang terisolasi dari lingkungan sekitarnya,  hari-harinya hanya bertemankan penolakan demi penolakan yang membuatnya memendam rasa dendam terhadap lingkungan sosialnya.

Dostoevsky semacam menjelma sebagai seorang psikolog, jauh sebelum profesi itu eksis pada zaman itu.  Buku ini pun bisa menjadi  sebuah pembuktian, jika tak hanya piawai menghasilkan novel-novel "tebal" sebagaimana orang-orang mengenal mahakarya terbesarnya : The Idiot, Crime and Punishment hingga Brother Karamazov.

 Tapi tenang saja, kau tak perlu terlalu serius menikmati karya inin, anggap saja ini sebuah perenungan, bahwasanya satu hanya perlu terus sadar, dan menjaga kewarasan untuk tetap bisa terus menapak di dunia. Dan jika suatu ketika dunia sedang memberimu kotorannya, kau tahu catatan bawah tanah ini bisa menjadi panduanmu untuk membersihkannya.

Monday, 29 January 2018

Kabar dari Seorang Kawan

Pagi ini saya mendapat kiriman cerita pendek dari seorang kawan. Sebuah kisah tentang keseharian seorang manusia melihat hal-hal sederhana di sekitarnya . Kisah ini kan membawa pembacanya melihat realita masyarakat di jalan raya, hingga trotoar kota pesisir yang terik dibakar sinar mentari.

Tanpa perlu panjang lebar lagi, perkenalkan sebuah karya cerita pendek dari Joshua Valentino berjudul "Kali Ini, Kursi Penonton Jadi Pilihan" yang bisa dibaca pada tautan ini >> https://medium.com/@jessejoshua/pada-kesempatan-ini-aku-memilih-jadi-penonton-saja-karena-kursi-mumpung-tersedia-2ab9084e4872

Selamat membaca

Wednesday, 17 January 2018

Contemporary African Short Stories

Suatu hari saya bercita-cita ingin mengunjungi benua Afrika. Tak ada spesifik kemana destinasinya, yang penting menginjakan kaki disana, kemudian menimati segala yang ada.  Tentu kalau bisa tanpa ancaman keamanan dari segala ancaman situasi politik.

 Sembari menunggu siapa tahu angan-angan itu terwujud,  secara tak sengaja  saya menemukan sebuah buku kumpulan cerita-cerita pendek para penulis dari benua Afrika yang disunting oleh Chinua Achebe. Sontak buku ini memuaskan hasrat terpendam saya untuk melihat benua Afrika, meskipun baru dari dalam bentuk sembilan belas cerita pendek dari para penulis asal benua afrika ini.

Kisah dari penulis Zimbabwe, Daniel Mandishona, menceritakan negerinya tak ubahnya negri yang terbuang,  porak poranda, oleh perang berkepanjangan dalam cerita pendeknya berjudul A Waste Land. Sang narator "aku" harus menanggung penderitaan yang ditimbulkan oleh perang tersebut. Ia melihat Pamannya depresi setelah kembali dari perantauan. Tak lama berselang ia memutuskan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Tak lama sang ayah menyusul mengakhiri hidupnya, setelah terlilit hutang yang tak mampu ia lunasi. Ironisnya hal itu terjadi tepat satu hari setelah kemerdekaan. Perang itu merenggut kehidupan bangsanya. Hal tampaknya ingin disampaikan Daniel Mandishona dalam kisahnya. Ia satu dari sembilan belas penulis dari benua Afrika lainnya yang mencoba menyuarakan kisah mereka.

Sebuah kisah menarik lainnya berjudul Weaverdom milik Tijan. M Sallah asal Gambia tentang sekelompok burung penenun (manyar). Tentu itu sebuah metafora, sebagaimana kelompok burung itu diumpamakan wujud kehadiran kolonialisasi. Dari Somalia ternyata juga memiliki kisah mistisnya sendiri. Kisah milik Saida Hagi-Dirie Herzi  berjudul Government by Magic Spell menceritakan sebuah kisah tentang perempuan yang dikuasai sosok gaib serupa "Jin". Hal itu membuat gempar satu desa. Orang pintar di desa setempat mengatakan ada sesuatu yang merasuki dirinya.

Kisah-kisah lain dalam enam belas kisah lainnya juga akan memberikan perspektif yang berbeda bagi siapapun yang menikmatinya.  Mereka mencurahkan betapa kemiskinan, perang berkepanjangan, penjajahan dan berbagai isu global lainnya amat menyengsarakan, hingga menguji batas kewarasan tertinggi hidup mereka.









Sunday, 14 January 2018

Pengalih Bahasa

Saya gemar menyaksikan wawancara beberapa pengalih bahasa dari penulis-penulis yang saya sukai. Sering kali saya penasaran dengan apa yang terjadi selama proses penerjemahan itu berjalan ; bagaimana sang penerjemah harus berkali-kali meyakinkan sang empunya karya ; ingin melihat langsung seperti rupa asli penerjemah yang hasil karyanya biasa saya baca dalam bentuk buku.

Di Amerika Selatan, nama Gregory Rabassa bukan nama yang asing lagi hasil terjemahannya. One Hundred Years of Solitude  dan The Incredible and Sad Tale of Innocent Erendira and Her Heartless Grandmother karya Gabriel Garcia Marquez, serta The Mulatta and Mister Fly karya Miguel Asturias merupakan sebagian karyanya yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Dari tanah Hungaria, nama Ottilie Mulzet dan George Szirstes menjadi sosok penting dalam penerjemahan karya Laszlo Krasnahorkai. Dua karya Laszlo yakni Satantango  dan  The Melancholy  of Resistence adalah dua buku yang benar-benar membuat saya kagum terhadap penulis yang satu ini. Siapapun akan terhisap kedalam kalimat-kalimat panjang dalam semesta Laszlo.  Atmosfir cerita yang cukup depresif, serta aliran narasi yang puitis sekaligus dramatis membuat saya tak bisa membayangkan jika karya itu tak ditangani dengan baik oleh pengalih bahasa yang tepat. Sama halnya dengan Seiobo There Below yang diterjemahkan sama baiknya oleh Ottilie Mulzet.

Dari tanah air, saya juga tak bisa membayangkan jika Man Tiger (terjemahan Lelaki Harimau) tak diterjemahkan oleh Labodalih sembiring dan Beauty is a Wound (terjemahan Cantik itu Luka) tak diterjemahkan oleh Annie Tucker, mungkin saya masih belum bisa  mengenal karya-karya Eka Kurniawan saat itu, karena situasi yang masih belum memungkinkan saya untuk menikmati karya-karyanya dalam bahasa ibu saya. Disitulah saya merasa amat beruntung menemukan karya-karya terjemahan dari kedua penerjemah karya Eka.

Peran pengalih bahasa ini sangat berpengaruh besar pada akhirnya,karena ia bukan saja bertugas menerjemahkan, sekaligus menuliskan ulang karya itu ke bahasa baru dengan segala tingkat kerumitannya masing-masing. Gabriel Garcia Marquez mengaku ia amat mengagumi La Metamorfosis (The Metamorphosis) karya Franz Kafka yang diterjemahkan Borges, dan sama halnya dengan siapapun pasti akan merasa amat beruntung (seperti halnya saya yang saat itu menemukan Man Tiger) jika menemukan sebuah karya dari entah berantah yang telah diterjemahkan dengan apik. Ini sebuah rasa terimakasih untuk para penerjemah yang bukunya selama ini telah saya nikmati.

Kekaguman saya itu mendorong saya untuk menantang diri sendiri untuk menerjemahkan beberapa karya penulis favorit saya. Iseng-iseng saja, dan saya tahu ini sebuah percobaan awal serta beresiko. Namun jika Borges saja melakukannya, mengapa saya tidak. Seperti halnya Eyang Pram yang menerjemahkan Tolstoy, serta Eka yang menerjamahkan Steinbeck.

14-01-2018