Sunday, 31 December 2017

Gunter Grass, Tin Drum

Sekian lama saya mencari karya-karya Gunter Grass, terutama dalam Trilogy Danzig yang ia hasilkan. Alasannya pun sederhana, ingin melihat seperti apa suasana Jerman pada awal 1900 an. Novel pertamanya ini bisa menjadi teropong untuk memuaskan rasa penasaran saya. Hingga tak lama saya lihat Oskar Matzerath yang iconic itu.

Tak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan untuk terlahir dalam ketidak pastian asal usul orang tuanya. Sebagaimana itu menimpa Oskar yang tak yakin siapa ayah kandungnya. Kemalangan Oskar tak berhenti sampai disitu. Pertumbuhannya harus terhenti ketika ia berusia tiga tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang aneh dan tak biasa.

Oskar tumbuh menjadi "monster" kecil. Suaranya bisa memecahkan kaca jendela sejauh satu mil, kemudian ia juga bisa membuat lubang melingkar di jendela toko yang menggoda para pembeli untuk mencuri. Ia tumbuh menjadi sosok amoral, dan anarkis di lingkungan yang korup dan terpuruk. Hingga ia menemukan satu hal yang mampu menemani hari-harinya, yakni sebuah drum, yang kelak menjadi teman baiknya.

Menikmati kisah ini tak ubahnya sebuah mimpi buruk yang penuh kenikmatan. Kau akan melihat keramaian orang yang merasa lebih besar dari kehidupan mereka yang menyedihkan, penuh nafsu, kebodohan dan brutal. Ditengah situasi ekonomi, politik dan keadaan masyarakat sekitarnya yang amat terpuruk, Oskar pun muncul dengan drum yang kerap bersanding bersamanya.

Gunter Grass dalam kisahnya kali ini seperti mewakili situasi negerinya pada abad dua puluh. Oskar dan semua di dalamnya adalah seni, keindahan dan harapan kunci dari keburukan dan ketakutan yang tak terlukiskan. Maka tak berlebihan jika buku ini disebut sebagai kaya agung dalam kesusastraan Jerman abad dua puluh. Dan siapapun akan terus menanti suara tabuhan drum Oskar yang fenomenal itu.

31-12-2017

Wednesday, 20 December 2017

The Savage Detectives, Roberto Bolano

Ini  kisah picaraesque tentang seorang bocah bernama Juan Garcia Madero dan keterlibatannya dengan sekelompok gang penyair di Mexico; kisah tentang sekelompok penyair yang menamakan dirinya Viscreal Realist. Sebuah potret kehidupan para penyair di Mexico dengan segala lika-liku kehidupannya.

Bolaño memang istimewa. Itu jelas terasa ketika, ia memiliki gaya yang berbeda dalam cara berceritanya dan berani keluar dari segala atribut realisme magis yang selalu melekat pada penulis Amerika Latin kebanyakan. Ia justru memberontak, percaya diri hingga tak sungkan mengejek nama besar seperti Octavio Paz. Bolaño menghadirkan kisah narasi polifonik yang liar tatkala hari-harinya mulai terganggu dengan kesehatannya yang memburuk.

The Savage Detective dibagi menjadi menjadi tiga bagian besar, dimana pada bagian pertama sang narator adalah Garcia Madero sendiri. Di usia yang menginjak tujuh belas tahun, dimana masa itu menjadi sebuah transisi besar dalam hidupnya. Ia menemukan hasrat yang tertahankan dalam dunia puisi. Ironisnya keluarganya terang-terangan meragukan masa depannya dengan dunia literatur tersebut, sehingga pamannya memasukan Garcia Madero untuk menekuni bidang hukum. Di sisi lain Garcia Madero menemukan kelompok Visceral Realist.

Perkenalan Garcia Madero dengan kelompok penyair tersebut, tak ubahnya angin segar di tengah kelesuan dalam kehidupan akademiknya. Sebuah masalah yang sering terjadi dalam kehidupan remaja pada umumnya. Di sisi lain Visceral Realist juga bukan tempat yang dapat memastikan segala keraguan akan masa depan bocah tersebut, namun menjadi sebuah pintu gerbang baginya berjumpa para penyair beserta kegilaannya.

Dalam kisah ini kau akan realita hidup yang  menemukan penyair-penyair dengan semangat pemberontak dibawah era diktator Allende. Bolano juga tak jarang membuat lelucon-lelucon yang dialamatkan kepada  Octavio Paz, penyair besar Mexico itu.

Pada bagian kedua buku yang jumlahnya hampir dua pertiga bagian buku ini, merupakan bagian yang paling menyenangkan. Bagian ini menceritakan narasi-narasi para penyair dari berbagai perspektif. Disini bisa terbaca jelas, gaya hidup bohemian para penyair yang tersebar di berbagi kota di dunia.

Hingga kisah ini kembali pada narator utama, Juan Garcia Madero, hingga akhir cerita. Saya tak ingin mengomentari perkara teknis soal buku, biarkan para ahli-ahli itu saja yang mengkritisi. Setidaknya bagi saya, membaca karya ini seperti menikmati perjalanan mencekam dan berbahaya di jantung kota Mexico.

20-12-2017




Friday, 15 December 2017

Tempesta

Era qualcosa di paradosso quando Mardi ha letto il libro di Conrad, e allo stesso tempo, la persona che ha spiato passa davanti a lui. Lui è congelato.




Sunday, 10 December 2017

In The Praise of Step Mother, Mario Vargas Llosa

Musim dingin selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk duduk berlama-lama ditemani sebuah buku. Dan menikmati karya-karya Llosa memang seperti sebuah intro yang menyenangkan untuk melihat hal-hal yang umum dari perspektif yang berbeda.  Dibalik tema-tema yang kerap ia bicarakan dalam karya-karyanya mulai dari politik, pengalaman hidupnya, perayaan kebanalan dan tentu saja wanita. Kisahnya kali ini merupakan salah satu yang cukup berani.

Buku ini bercerita tentang kisah seorang anak kecil yang jatuh hati. Tak tanggung-tanggung yang ia taksir adalah ibu tirinya. Don Rigoberto seorang kepala keluarga, semula tak menemukan keanehan dalam hubungan pernikahannya dengan istrinya Lucrecia. Ia memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya, yang masih kecil dan baru akan menginjak usia remaja. Di tengah kesibukannya, ia tak memiliki waktu yang banyak untuk menikmati waktu luang bersama keluarganya. Hal itu ternyata menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Dari banyak karya Llosa, ia memiliki kecenderungan imajinasi yang liar dalam menceritakan sosok perempuan. Buku ini mungkin akan jauh dari nilai-nilai moral yang ideal, namun juga ternyata merupakan pembuktian. Bahwasannya dalam sebuah pembacaan, kau akan menemukan hal-hal berbahaya sebagaimana hal itu ada di sekitar kita. Waspadalah.

12-10-2017