Thursday, 31 August 2017

Kalimat Panjang

                  Ada yang membuat saya penasaran ketika membaca buku-buku  William Faulkner dan Laszlo Krasznohorkai. Mereka gemar menggunakan kalimat-kalimat panjang di dalam  cerita mereka dan hal itu kadang membuat saya kewalahan untuk memahami alur ceritannya, serta  menuntut kesabaran lebih saat membaca buku-buku mereka. Faulkner menjadi penulis pertama yang membuat saya membedah satu persatu tokoh dan alur dalam cerita pendeknya "The Courthouse". Dimana permikirannya yang begitu liar, membuat saya penasaran untuk memahami kemana arah cerita kan dibawanya.
                 Efek lain yang ditimbulkan dari kalimat-kalimat panjang tersebut adalah  kesan alami, dan mendalam saat si narator mengarahkan, atau menggambarkan situasi ceritanya. Mereka memang memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna, kemudian bisa dimengerti, namun dibalik lapisan-lapisan alur cerita yang bertumpuk-tumpuk itu, kita akan digiring pada sebuah akhir, dan kesimpulan. Salah-salah menggunakan teknik semacam ini akan membuat pembaca jengah. Tapi dua nama diatas nampaknya memiliki talenta istimewa dalam cara bercerita mereka.
                  Gaya kepenulisan yang bisa dikenal dengan  "stream of  consciousness" memang cukup kompleks, namun itu amat menyenangkan disaat yang bersamaan.  Kalimat-kalimat itu seakan-seakan menghisap pikiran kita dalam cerita mereka dalam pemikiran mereka. Sejauh ini menikmati Faulkner dan Krasnahorkai seperti berada dalam pusaran badai yang melempar rasa penasaran saya kesana kemari hingga berujung pada akhir yang tak terduga atau malah tak terpahami pada akhirnya. Membaca dua karya Laszlo yakni  "Melancholy Resistance" dan "Satantango" benar-benar membuat saya takjub. Bukan saja karena kalimat-kalimatnya yang amat panjang. Ia seperti menghasilkan lelehan lava narasi yang mengalir perlahan dan menghanyutkan dalam alur ceritanya.    Lambat laun keunikan itu justru membuat saya mengagumi cara menulisnya.
                Kedua nama tersebut memberikan sebuah pelajaran baru untuk tak terburu-buru ingin menyelesaikan sebuah cerita, meskipun jujur saja kalimat-kalimat panjang itu kerap menuntut saya untuk membacanya beberapa kali untuk memahami keseluruhan maksudnya. Dan percayalah itu hal yang menyenangkan.

Dwinda.A.S
31-08-2017
                  

Monday, 21 August 2017

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan

                     Semula berawal ketika Ajo Kawir dan Si Tokek memergoki wanita gila bernama Merah Merona diperkosa oleh dua oknum polisi, dan sialnya mereka tertangkap basah mengintip kedua polisi tersebut. Semenjak peristiwa itu "burung" Ajo  Kawir tertidur pulas tak ubahnya beruang yang hibernasi panjang. Segala upaya di lakukan untuk membangunkannya, sayangnya itu tak merubah keadaan sedikitpun.
                      Demi mengembalikan kejantanannya, Ajo Kawir terus memutar akal untuk mengatasi masalah dalam dirinya.Sebagai laki-laki normal yang kerap kali jatuh hati kepada lawan jenisnya, temtu situasi  ini bukan situasi yang mudah, hingga kemudian ia berjumpa dengan wanita demi wanita yang mengisi kehidupan asmaranya. Semua  berakhir tak menyenangkan karena, konflik pribadi dalam diri Ajo Kawir dan "burung"nya. Baginya, hal itu menjadi sebuah masalah besar tatkala dia tak mampu memberikan kebahagiaan yang utuh untuk pasangannya. Ia terpaksa mengubur dalam-dalam hasratnya kepada setiap perempuan yang hadir di dalam kehidupannya.
                     Hanya orang yang tak bisa ngaceng saja yang berani bertarung sampai mati, dan hal itu tergambar jelas dalam diri Ajo Kawir. Ia seakan tak kenal takut berurusan dengan  para begundal-begundal jalanan yang ia jumpai dalam kesehariannya. Puncak permasalahan dalam dirinya memuncak ketika, Iteung yakni kekasih Ajo Kawir yang juga pengawal seorang bos geng bernama si Macan rupanya benar-benar menghantui keseharian Ajo Kawir.
                     Hidup Ajo Kawir tak ubahnya pertarungan tiada henti. Masalah demi masalah datang silih berganti dan tak kunjung usai. Namun layaknya dalam kehidupan laki-laki normal pada umumnya, wanita yang sejatinya merupakan sosok ideal untuk melengkapi hidupnya, terpaksa ia relakan karena "burungnya" yang tak kunjung bangun dari tidur panjangnya. Kerasnya kehidupan jalanan dan lingkaran setan dunia hitam memaksanya terus bertarung demi hidupnya. Hingga pada akhirnya,akankah burungnya kembali bangun dari tidur panjangnya? Setidaknya buku ini akan menceritakan kisah pertarungan Ajo Kawir yang penuh adrenalin dan bumbu humor yang menyenangkan.




Dwinda.A.S
21-08-2017