Tuesday, 18 July 2017

Ledakan Sastra Amerika Latin

              Periode tahun 1960 hingga tahun 1970, kiranya menjadi momen penting bagi kesusastraan Amerika Latin. Kala itu muncul sebuah fenomena literaturyang cukup unik, dimana mereka perlahan menginvasi dunia sastra internasional, mulai novel, puisi, esai hingga kritik literatur yang dikenal dengan El Boom Latinoamericano (yang berarti ledakan Amerika Latin). Hal ini bukan saja menjadi fenomena sastra dan kebudayaan, namun sekaligus politik serta ekonomi, dimana ini menjadi sebuah respon dalam kultur Amerika Latin yang kembali menghidupkan warisan sastra spanyol, dengan karakter baroque yang kuat.
         Amerika Latin terlihat seperti pecahan-pecahan eropa yang sedang mencari nama baru. Dimana berbagai karya sastra dengan nuansa Cervantes-esque, bercampur elemen-elemen fantasi, legenda, hingga sejarah yang pada akhirnya melahirkan warna baru dan unik dikenal dengan realisme magis. Dalam perngertiannya, semua unsur-unsur magis diceritakan dengan amat nyata, sehingga semua elemen-elemen "nyata" dan "magis" mengalir pada satu arus cerita. Realisme magis tak ubahnya sebuah refleksi irasional di negara dunia ketiga terhadap rasional ilmiah dari barat, dan kali ini Amerika Selatan terlihat sedang bersenang-senang memetaforakan segala kisah mereka.
          Nama-nama besar seperti Julio Cortazar, Gabriel Garcia Marquez, Ernesto Sabato, Alejandro Carpentier, Carlos Fuentez, hingga Mario Vargaz Llosa merupakan nama-nama besar dibalik terjadinya ledakan sastra Amerika Latin. Segala referensi historis, sosial dan politik dirasa menjadi media yang pas untuk mewakili pandagan-pandangan negara-negara post colonial dalam memceritakan kisah mereka. Sebuah buku bernama One Hundred Years of Solitude, The Time for Heroes, hingga The Tunnel, menjadi representasi baru dalam dunia sastra Amerika Latin kala itu.
         Penulis-penulis Argentina membuat Buenos Aires menjadi setara keindahannya dengan kota-kota di eropa, sebagaimana semua tergambar dalam kisah Julio Cortazar dan Ernesto Sabato. Alejo Carpentier dalam karyanya The Kingdom of This World menggambarkan suasana setelah revolusi Haiti, dimana sepanjang novel, berbagai persepsi tentang realitas yang muncul karena perbedaan budaya antara karakternya ditekankan dan dikontraskan, dan tentunya masih banyak penulis-penulis Amerika Latin yang perlu diperhatikan disamping nama-nama tersebut.
         Entah apa yang ada di benak para penulis Amerika Latin  saat itu, sekiranya mereka telah menciptakan warna baru dalam dunia literatur internasional.  Mereka seperti mengisyaratkan  dan merefleksikan semua hal yang terjadi di negara mereka kemudian membungkusnya dengan segala dengan citarasa asal mereka, dan sekiranya fenomena ledakan Amerika Latin akan selalu dikenang dalam jangka waktu panjang.


Dwinda.A.S
18-07-2017

1 comment:

  1. Setuju.. Favorit ku Gabrial Gracia Marquez. Baca wawancara dengan Gabriel (imajiner) di “stenote-berkata” dot “blogspot” dot “com” di folder September 2017.

    ReplyDelete