Saturday, 27 May 2017

Men Without Women, Ernest Hemingway

                  Sering galau dalam urusan percintaan? Atau dilema dalam suatu hubungan asmara yang menguras pikiran, tenaga, dan kantong (siapa tahu ada yang mengalami) hingga lupa akal sehat? Buku dari Papa Hemingway yang satu ini sekiranya akan memberikan perspektif yang berbeda dan siapa tahu bisa menjadi jimat anti nestapa dan gundah gulana. Kenapa saya sebut demikian? Karena sekiranya di dalam buku ini ada 14 kisah tentang tinju tangan kosong, matador, tentara hingga kisah tentang kebanalan. Tak ada kompromi didalamnya sebagaimana gaya Hemingway berkisah lalu seakan-akan mengarahkan sebuah pandagan tentang kehidupan lelaki yang ideal di masa itu, dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Papa Hemingway sedikit lebih menggambarkan kisah pergulatan yang tak kenal tedeng aling-aling dengan semua bumbu romantisme percintaan dimana  kewarasan ekstra harus tetap dijaga jika tak ingin mati konyol. Dari judulnya, hal ini terasa seperti sebuah sinyal untuk para pria bahwasannya seorang pria tak selayaknya berada dalam sebuah posisi yang penuh keterancaman, apalagi untuk urusan asmara.

                 Buku ini dibuka dengan cerita "The Undefeated". Kisah tentang seorang matador yang baru kembali ke arena pertarungan banteng setelah keluar dari rumah  sakit. Ia berupaya untuk kembali dari masa kelam yang sedang melanda karirnya. Layaknya seorang pria, ia mengerahkan segala upaya terbaiknya untuk mengembalikan reputasinya sebagai  seorang matador yang tak terkalahkan. Setidaknya menghidupkan kembali kejayaan diri yang sebelumnya pernah ia capai. Dari kisah seorang matador kemudian cerita lain seperi seperti "In Another Country" , "Banal Story" serta beberapa kisah lainnya juga tak kalah garang.  Hemingway menggambarkan betapa ia tinju itu amat mengasyikan. Semua sisi maskulinitas seorang pria tak ubahnya matador di lapangan, atau petinju diatas ring hingga bahkan balap kuda yang  memacu adrenalin dalam cerita "Fifty Grand".  Menikmati Papa Hemingway bercerita dalam buku ini seperti menerima sebuah pesan untuk terus bertarung dalam dunia yang keji namun tak lupa bersenang-senang dengan akal sehat seperti layaknya seorang pria semestinya. Sepenggal kalimat dari Hemingway yang satu ini rasanya layak untuk dipertimbangkan:


"If he is to lose everything, he shouldn't place himself in a position to lose that. He shouldnt place himself  in a position to lose. He shouldn't find things he cannot lose" - (In Another Country)



Dwinda.A.S
27-05-2017















No comments:

Post a Comment