Monday, 22 May 2017

Buku Ini, Itu, dan yang Satu

Kita pernah mendegar pepatah buku adalah jendela dunia, karena dari sebuah buku yang kita baca, maka perlahan-lahan cakrawala kita akan terbuka. Banyak pengetahuan baru akan ditemukan, kemudian bukan tak mungkin akan membentuk sebuah pemahaman, hingga memberikan perspektif pemikiran baru. Sumbernya pun bisa dari berbagai belahan dunia manapun.

Berawal dari huruf-huruf, kemudian disusun menjadi kata-kata, lalu si penulis merajutnya menjadi kalimat-kalimat. Untaian kalimat demi kalimat membentuk sebuah narasi yang kelak menjadi sebuah cerita. Namun kali ini saya tak akan membahas definisi buku. Saya ingin berbagi cerita tentang buku "ini", "itu" dan yang satu.

Buku "ini" adalah sebuah buku yang ditulis seorang dokter yang nasibnya tak bisa dibilang baik bahkan mendekati malang. Karirnya sebagai seorang dokter tak bisa berkembang karena dia menderita penyakit tifus. Kala itu penyakit ini belum ada obat dan cara penanganan yang tepat. Si dokter tak putus asa, lantas ia mencoba peruntungan menjadi penulis, dan jurnalis. Hingga pengalaman dan jam terbangnya membuat ia kemudian melahirkan sebuah buku yang dianggap sebuah "karya besar" dari dirinya. Namun itu setelah bertahun-tahun, baru buku "ini" akhirnya diterbitkan bertahun-tahun kemudian. Dan kini menjelma menjadi sebuah buku yang wajib dibaca di negaranya, setelah melewati masa-masa kelam.

Buku yang itu juga tak kalah seru. Si penulis adalah seorang ahli sejarah.  Karirnya cukup cemerlang. Ide-ide yang datang dari kepalanya amat brilian. Hingga akhirnya ia menulis buku yang "itu", namun ia tak sadar jika di kemudian hari hidupnya akan menuai pujian dan cercaan dalam intensitas yang masif. Ia memperoleh berbagai penghargaan lewat buku "itu" namun nyawanya juga tak aman dalam ribuan hari. Ia harus bertahan di dalam ruang persembunyiannya yang nyata namun tak terlihat. Hingga akhirnya, perlahan-lahan hidupnya kembali normal meskipun belum bisa dibilang aman. Tak akan ada yang menyangka jika sebuah buku akan membuat hidup menjadi amat menyedihkan seperti itu dimana secara bersamaan berbagai penghargaan datang silih berganti. Ironi datang tanpa disadari.

Kedua buku tersebut menjadi sebuah hal yang indah bagi yang bisa memahaminya, dan juga aib yang amat nista untuk para pembencinya. Seribu satu alasan kiranya tak akan sanggup menelaah arti dibalik kisah kedua buku itu, hingga kedua buku tersebut menjelma sebagai sebuah magnet yang mana kutub utaranya menarik hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Dan sisi lainnya menolak pemahaman yang sebenarnya amat sederhana untuk diterima, namun kemudian salah dicerna atau sengaja dicari cacatnya.


Dan tentang buku yang satu... Entah lah... Karena banyak buku di luar sana, yang menarik datang dari segala penjuru dunia. Namun tak akan ada artinya jika hanya dipermasalahkan dengan cara yang sama seperti buku "ini" dan "itu".



Dwinda A.S
22-05-2017

No comments:

Post a Comment