Tuesday, 21 February 2017

Ia tak ingin cepat mengerti.

Tiga tahun lalu di "Rumah Buku",  Nevsky Prospekt,  seorang pemuda tanggung sedang menggerutu karena tak kunjung paham sebuah buku yang ia ambil dari rak buku di bagian literatur berbahasa Inggris. Buku yang ia ambil berjudul "Idiot" karya Fyodor Dostoevsky. Rasa penasarannya terhadap buku tersebut kian menjadi-menjadi setelah guru bahasa rusianya berkata jika buku itu merupakan salah satu karya agung dalam kesusasteraan Rusia dan namanya tersohor pula di berbagai belahan dunia.  Ia mencoba untuk menguji kebenaran hal tersebut.


Seperti kebiasaannya di akhir pekan, atau waktu luang atau bahkan saat ia membolos jam pelajaran di kampusnya, kali ini ia menghabiskan akhir hari di toko tersebut. Raut mukanya mengerut, melihat nama-nama judul buku yang aneh dan tidak biasa pada rak buku itu. Mengapa bisa terpikir untuk memberikan judul buku "One Hundred years of Solitude", "The Stranger",  "The Horla", "Sputnik Sweetheart', "1984", "Hunger", "Lolita"? Apa yang ada dibenak para penulis-penulis itu ketika memutuskan untuk memberi judul-judul itu pada karya mereka? Itu memang hal yang baru bagi pemuda itu, namun tanpa ambil pusing dan pemuda itu memilih melanjutkan buku "Idiot" (Apalagi judul buku ini? Tak ada impresi positif sedikit pun dari namanya) yang sedang ia genggam .

 Demi memuaskan rasa ingin tahunya, ia memutuskan membeli buku tersebut. Pelan-pelan ia berpikir jika mungkin level intelektualitasnya masih rendah untuk mengerti buku yang dirilis pada pertengahan tahun 1860-an tersebut. Tanpa berpanjang lebar, buku tersebut ia baca hingga tuntas. Buku sudah dibeli, cerita habis dibaca, bukan berarti rasa penasarannya menjadi terjawab.  Dalam pemahamannya, yang notabenenya seorang remaja berusia 19 tahun, kisah "Idiot" tak lebih dari cerita tentang seorang pangeran yang baru kembali ke kampung halamannya setelah melewati masa rehabilitasi di Swiss, dan sisanya? Ia tak menemukan keistimewaan sedikitpun di dalam buku tersebut. Buku tersebut pun lalu bertengger di rak buku kamarnya dan tak pernah disentuhnya lagi hingga kurun waktu yang lama.

Tiga tahun setelahnya, banyak hal terjadi di dalam kehidupannya. Pemikiran semakin dewasa, sudut pandang lambat laun meluas, dan rasa adiktif terhadap buku yang kian tak tertahan membuat si pemuda tersebut semakin intens mengkonsumsi buku-buku yang sebelumnya hanya membuat dahinya mengerut. Ia tak lagi mempertanyakan betapa anehnya judul buku "100 Tahun Kesendirian", "The Stranger", "The Horla", "Sputnik Sweetheart", "1984", "Lapar", "Lolita" dan "Idiot". Banyak hal yang akhirnya membuat ia mulai bisa menikmati  dan mau mengerti konsep-konsep pemikiran mulai dari "Realisme Magis", "Nihilisme", "Eksistensialisme", "Distopia", "Satir", "Naturalisme" hingga "Picaresque" sekalipun. Semua ide-ide gila penulis-penulis klasik itu menjelma seperti sebuah kotak pandora yang dipenuhi segala harta karun dan ide brilian yang perlahan - perlahan membuatnya sepakat dan memahami jika pada akhirnya karya-karya para "mumi-mumi literatur" tersebut memang pantas menjadi karya monumental dan sepatutnya diakui dunia. Hingga pada akhirnya, ia sadari jika ia tak perlu untuk cepat-cepat mengerti tentang segala kebingungannya, jika ternyata rasa keingin tahuannya terus membuatnya bisa bersenang-senang untuk terus menjadi pembaca amatir.





Dwinda.A.S
21-02-2017

No comments:

Post a Comment