Sunday, 5 February 2017

Darf ich fragen (Bolehkah saya bertanya?)

Berlin sangat dingin senja itu. Temperatur turun hingga minus empat. Dua orang imigran Suriah sedang duduk dan berbincang bersama para imigran-imigran lainnya di kamar para imigran. Zuhair duduk diatas kasurnya menahan lapar menanti jam makan siang di asylum Siegerstrasse. Ia baru tiba tiga hari di jerman bersama para imigran-imigran Suriah lainnya. Namun tampaknya mereka masih harus bergulat dengan kebiasaan, makanan, bahasa dan penyesuaian yang memerlukan waktu demi waktu.
“Perutku sudah meronta-ronta ini”, katanya dalam kepada Omar.
“Sabar, sebentar lagi juga datang waktunya”, tanggap Omar.
“Ini sudah hari ketiga kita disini, dan ku tak tahu bagaimana berikutnya hidup ini akan berlanjut”, kata Zuhair.
“Yasudah, biarkan saja. Toh seiring waktu kita akan memahami ini. Nikmati saja.” jawab Omar.
“Aku tak betah disini. Bicara dengan bahasa yang sungguh asing ini, lalu makanan yang tak enak. Semua tak lepas dengani sosis lalu roti. Lama-lama darah tinggi aku dibuatnya” gerutu Zuhair.
Tak lama berselang terdengar ketuk pintu di luar kamar mereka dan seorang kemudian petugas asylum datang dan memberitahukan jika waktu makan siang telah tiba. Zuhair dan Omar segera mengantre makanan bersama para imigran lain dan menyantap makan siang mereka. Menu hari itu adalah roti, sosis, semangkuk sup, sebuah apel dan segelas air. Tak butuh waktu lama untuk Omar menghabisi makanannya karena lapar yang sudah tak tertahankan namun beda halnya dengan Zuhair yang terlihat tak bergairah sama sekali untuk memakannya. Ia  hanya menyantap sup dan apel lalu mengacuhkan roti dan sosis

Zuhair menengok sekelilingnya dan melihat seorang petugas lalu bertanya,  “Bolehkah saya bertanya? Saya ingin menukar sosis ini dengan makanan lain. Saya  sungguh tak bisa memakannya.”
“Tidak ada, setiap menu yang dimasak sudah diperhitungkan setiap detailnya. Ada masalah apa dengan makanannya?”, tanya petugas itu.
“Saya tidak bisa untuk menyantap makanan ini. Rasa sosisnya aneh belum lagi rotinya sangat keras sekali.” jelas Zuhair.
“Sudah baik kau diterima dan diberi makan disini, masih belum cukupkah itu? Ini semua lebih baik ketimbang kau harus hidup dalam ketakutan dan kepanikan di negaramu. Nikmatilah semua keasingan walau kadang itu sulit membuat perutmu kenyang ”, tegas sang petugas.
“Baiklah.”, jawab Zuhair berusaha mengakhiri perdebatan.
“Perkara akan kumakan atau kusimpan sosis ini soal nanti. Rasa dan bentuknya sungguh membuatku tak berselera. Ingin rasanya aku muntah setiap kali potongan sosis ini sampai di kerongkonganku. Asylum ini bisa membuatku gila lama-lama”, katanya dalam hati.
Dan kedua imigran Suriah itu kembali masih terus bergulat  dan menyesuaikan hidup mereka dengan hidup baru di ibukota jerman. Satu pertanyaan dan rentetan pertanyaan lainnya akan terus bermunculan dalam hari-hari mereka disini.


-Dwinda Aryo-
26-11-2016

No comments:

Post a Comment