Thursday, 5 January 2017

Hunger, Knut Hamsun

Semua berawal ketika seorang pemuda memutuskan untuk hijrah ke kota Kristiania (sekarang Oslo) untuk menjadi penulis. Ia  memulai karirnya sebagai penulis amatir tanpa pernah memperkirakan bahwa hari-hari yang menyedihkan telah menantinya. Kristiana kala itu bukan lah tempat yang mudah apa lagi nyaman bagi para perantau yang belum berpenghasilan apalagi hanya bermodalkan tekad untuk kehidupan yang layak. 

Hamsun dalam cerita ini menjabarkan kehidupan getir kehidupan seorang penulis pemula dengan gamblang dan sesekali menyisipkan bumbu humor di dalamnya. Ia memaparkan sebuah gagasan tentang sejauh mana kewarasan kita akan diuji ditengah badai permasalah besar yang datang bertubi-tubi. Dimana kali ini yang ia paparkan adalah kehidupan penulis amatir yang selalu kelaparan dengan problematika-problematikanya.

Yang lebih menarik lagi di cerita ini adalah bagaimana Hamsun tidak menyalahkan antagonistik pada sebuah lingkungan masyarakat untuk dijadikan sebagai konflik utama. Namun ia  lebih memaparkan permasalahan dalam pergulatan batin si penulis amatir ini dan delusi-delusi yang muncul akibat kelaparannya.

Setiap latar tempat dalam cerita ini juga patut dicermati. Setiap sudut jalan-jalan, pertokoan, lorong-lorong, taman-taman, bangunan hingga gereja membuat cerita semakin dinamis dalam imajinasi. Hamsun semakin berhasil mengganggu pikiran kita dan melepaskannya berkeliaran di sudut-sudut kota Kristiana di masa itu.  Hingga tak heran rasanya jika buku ini menjadi kaya monumental yang tak akan lekang oleh zaman.  

Dwinda Aryo.
05-01-2017

No comments:

Post a Comment