Tuesday, 31 January 2017

Hal Aneh

Penonton selalu punya peran ganda sebagai penilai, pengamat sekaligus hakim ketika menyaksikan pertunjukanku. Ada yang berdiri santai kemudian bermurah hati menyisihkan uang di saku mereka, ada tampak serius mengamati, ada yang sibuk berkomentar, dan ada pula yang berportensi menjadi distraksi di tengah  setiap pertunjukan sulapku. Potensi itu bukan datang dalam rupa gadis cantik berpakaian sexy tapi justru bocah-bocah kecil nan lugu. Mereka gemar sekali mengotak-atik perlengkapan sulapku.

Pukul 10.00 pagi hari di Corzo Mancini tepatnya di depan sebuah gerai toko pakaian, aku mulai mempersiapkan semua perlengkapan sulap. Khalayak mulai berdatangan, perlahan membentuk kerumunan menanti pertunjukan dimulai. Tak terasa hari ini sudah hampir genap setahun profesi ini kujalani. Trik demi trik sulap terus kupelajari. Namaku kian tenar di pusat kota, dan menjadi bahan pembicaraan setiap kali penonton terkesima dengan trik-trik sulapku. Trik sulap kartu, menghilangkan koin dan uang kertas, hingga menebak angka dari penonton adalah menu harian. Tapi tanpa kusadari, akan ada suatu kejutan aneh yang menanti hari ini.

"Selamat pagi saudara-saudari sekalian! Selamat datang di pertunjukan sulap Massimo Clementi!", Sapaku kepadaku penonton.
"Hari ini akan ada trik sulap baru istimewa untuk kalian!", tambahku.

Kukeluarkan topi fedora warna coklat tua milikku, kemudian kupastikan kepada khalayak jika di dalamnya kosong tanpa ada isi apapun. Kutaruh kain putih, lalu kuucap mantra sulap kemudian menunjukan isi topiku kepada penonton. Dengan penuh rasa percaya diri kutunjukan isi topiku kepada penonton. Suasana mendadak hening seperti baru saja tragedi tragis.
Perlahan gelak tawa penonton ramai terdengar, dan aku mulai bingung. Seharusnya merpati putih itu sudah akan keluar dari dalam topi itu, namun ternyata tidak sehelai bulu pun muncul disana. Aku masih mencoba memasang raut muka percaya diri dengan wajah yang sedikit memerah pasca insiden itu. Ini benar-benar membingungkan. 
"Alangkah baiknya kau belajar sulap lagi, Massimo! Kemudian kau cari tahu bagaimana menangkap merpati itu. Dasar payah !",  ledek salah satu  penonton.
Aku terdiam. Mulutku terkunci, sembari memikirkan apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan mempersiapkan trik berikutnya. Namun tak berselang beberapa detik, ada keanehan yang muncul di dalam topi fedora yang kupakai. Terdengar suara menciap mirip seperti ayam. Penonton yang sudah kehilangan rasa simpatik dan perlahan meninggalkanku, mendadak menoleh ke arahku. Wajahku yang sempat memerah mulai berubah diselimuti rasa percaya diri. Perlahan aku melangkah ke arah penonton yang masih tersisa dan kuperlihatkan isi topiku. Lalu serentak keluarlah seekor merpati hitam dari dalam dengan suara  menciap-ciap seperti ayam. 

"Bagaimana Saudara-saudari sekalian? Kita lanjut ke pertunjukan berikutnya ",  ujarku dengan penuh bangga.

Penonton diam terkesima, tak perlu waktu lama sebelum meledak tepuk tangan riuh  penonton. Segala cemooh dan sindiran berubah seketika dalam bentuk sebuah aksi konkret. "Tapi mengapa merpati hitam?", pikirku. Lebih anehnya merpati ini menciap seperti anak ayam pula. Yang benar saja. Seingatku tadi malam aku mempelajari trik sulap merpati seperti halnya pesulap-pesulap pada umumnya. Entahlah. Mungkin itu akibat kolaborasi dengan whiskey yang kutenggak semalam.



D S
29-01-2017


No comments:

Post a Comment