Saturday, 11 January 2020

Segera Terbit


Di awal tahun ini, saya kembali bekerja sama dengan Peladi Press dalam zine edisi kedua milik Litost Zine.

Pemesanan bisa dilakukan melalui:
IG : @PeladiPress/ WA : +6283870951894


D S

Sunday, 1 December 2019

Antar Kota Antar Puisi, Beni Satryo

Suatu kali, aku sempat mencoba meminta seorang kawan membawakan sebuah buku berjudul  Pendidikan Jasmani dan Kesunyian dari Jakarta. Aku membaca salah satu puisi di dalamnya dari seorang kawan yang merekomendasi karya seorang penyair kesukaanya. Namun ajaibnya yang tiba terlebih dahulu justru buku Antar Kota Antar Puisi milik Beni Satryo. Setelah membacanya, imaji-imaji tentang warteg, sopir kopaja dan hingga kerupuk menyeruak berhamburan. Semua yang jelas tak akan mungkin terjadi disini. Beni menghadirkan segala suasana yang dulu begitu familiar, dekat hingga terabaikan dalam keseharian. Namun ada satu hal yang membuatnya lebih mengganggu kepala ini dari semua yang dibayangkan, yakni penyampaian ide-ide Beni tentang perasaan asing dari kehidupan seorang pendatang di sebuah kota yang amat riuh dengan intensitas ritme hidup yang serba cepat. Di saat bersamaan ada keriangan di sudut-sudut kalimat Beni. Ia tetap ingat cara melihat secercah keindahan dalam hidup yang tak menentu.  Mengomentari sebuah puisi jelas hal yang tak terlalu perlu-perlu amat. Satu hanya perlu membaca dalam sebuah pembacaan, melepaskan beban apapun yang melekat, lalu menceburkan semuanya ke dalam suara sang penyair. Puisi-puisi berjudul kalender warteg, supir tembak dan puisi-puisi lainnya akan hinggap di benak siapapun yang merelakan Beni mengatakan keresahannya. Dan membaca buku ini pada akhirnya seperti sebuah kepulangan dan pertemuan singkat.

D S








       




Saturday, 16 November 2019

Fosforescenza

L’immagine nella tua testa ha lasciato qualche messaggio.
Corretta o scorretta.
Bianco o nero.
Estate o inverno.
Però non puoi fermare il vento.
Ti dicevo una volta : Cielo sta cantando.
è un segno primitivo.

D S

Thursday, 31 October 2019

The Swan of Istanbul

(Diterjemahkan dari cerita  The Swan of Istanbul)
(Karya : Laszlo Krasznahorkai)

Angsa Istanbul
(tujuh puluh sembilan paragraf pada halaman-halaman kosong)


dalam memori Konstantinos Kavafis

































































































































(Tamat)

Friday, 27 September 2019

La Oveja Negra

(Diterjemahkan dari cerita  La Oveja Negra)
(Karya : Augusto Monterroso)

Domba Hitam

Di sebuah negeri yang jauh beberapa tahun lampau terdapat seekor Domba hitam.
    Ia tertembak.
    Satu abad kemudian, kawanan yang bertobat mengangkat patung berkuda yang merupakan taman yang amat bagus. 
    Seperti yang dikatakan oleh para peneliti ini, para peneliti telah mengamati perkembangan pesat dari para para penerbit di seluruh dunia dan memberi peluang kepada para pendidik yang berpengalaman.


(Tamat)

Friday, 30 August 2019

Ruang Kecil

Ada sesuatu yang menarik setiap menemukan penulis-penulis keren. Sesuatu itu jelas hal yang membuat saya tergila-gila untuk menikmati karya-karyanya. Bila karyanya terlalu bagus untuk bisa dibayangkan, setidaknya saya bisa berkhayal untuk  mempelajari apapun hal menarik darinya. Terus menerus hingga pada akhirnya tersisa semacam sedikit ruang kecil, dimana disana tercipta berbagai sisi untuk mempertanyakan keistimewaan si penulis sehingga kelak mengantarkan saya pada titik keseruan maksimum sehingga saya menyukainya.
           Di sekolah menengah, Burung-burung Manyar menjadi buku yang membuat saya histeris. Selain judulnya dan cerita yang cukup kompleks untuk saya mengerti kala itu, namun atas nama rasa penasaran buku itu saya "bawa pulang" dan saya baca berulang-ulang dengan hikmat. Menggema panjang di hari-hari saya.
          Lulus akhir sekolah menengah, rasa penasaran itu membawa saya jauh. Tolstoy dan Dostoyevsky ditemukan, namun juniornya Bulgakov jauh membuat saya mengagumi literatur sebagai sebuah keseruan. Bulgakov jauh lebih ringkas ketimbang dua nama pertama tadi, namun nasibnya sama-sama apesnya seperti Dostoyevsky. Master i Margarita milik Bulgakov adalah sebuah novel berskala saga, tentang dua orang jurnalis, tentang perjamuan terakhir yang berjalan beriringan berbaur dengan eksperimen sinting Bulgakov dalam kisahnya. Bulgakov seperti mengajarkan satu hal sederhana dalam tulisannya yang paling jujur: keberanian.
          Beranjak dari keseruan sang master, gelombang el boom latinamericano menghempas ritual pembacaan saya. Dari Marquez hingga Vargaz Llosa,dari Monterroso hingga Rey Rosa, dari Rulfo hingga Villoro dari Octavio Paz hingga Gilberto Owen, dari Borges, Arlt hingga para gerombolan penulis Argentina yang kerap membuatku berdecak kagum tanpa henti. Hingga Ultimo Maldito yang wafat tahun 2003, Roberto Bolano. Tak penting para kritik menyebutnya realisme magis, avant guardisme, surealis, atau apapun terminologinya, ruang kecil itu tetap saya sisakan. Ia tetap tercipta dalam setiap penemuan.
         Keseruan-keseruan semacam ini tak kunjung berhenting, dan dan terus menerus meminta asupan yang entah bagaimana harus dipuaskannya. Terus menerus mengganggu dalam sebuah ruang kecil di tempurung kepala.

D S
           

Thursday, 29 August 2019

Misionaris

("Dan, semua orang sepakat, kami menutup kasus.- A.Monterroso"

Panas mentari memanaskan apapun di sekitarnya. Orang-orang di pusat kota lalu-lalang mengutuki cuaca dan aku, sembari menyeka keringat yang  tak berhenti mengucur  memilih bertengger di atas bangku di depan kantor pos. Di  tengah jam makan siang yang tengah menyisakan empat puluh lima menit lagi, tampaknya  tak kutemukan kesegaran dari panas yang menggila hari ini.
         Satu-satunya kesegaran kudapatkan dari sebuah buku kumpulan puisi berjudul  poemas y antipoemas yang diberikan temanku. Buku ini berkali-kali kubaca, dan tak sedikitpun membuatku bosan untuk kembali membacanya, dan keseruan itu kembali hadir menemani gersangnya kemarau hari ini. Puisi-puisi Nicanor Parra halus mengalun di jam-jam paling krusial ketika kerisauan hilir mudik, kemarahan mudah tersulut, kesedihan sesekali muncul malu-malu, atau nafsu perlahan menyelinap dan menghinggap.  Seperti itu pula puisi Parra beroperasi. Setidaknya bagiku sendiri
          Tak begitu  banyak sejujurnya penulis Chili yang kukenal, namun mereka setidaknya selalu membuat rasa kagumku tak kunjung habis. Gabriela Mistral, Neruda hingga Huidobro, Bolano hingga Zambra semua seperti tahu mendefinisikan Chili dalam puisi-puisi, atau cerita-cerita mereka. Chili pun bagiku bukan sekadar negara di amerika selatan belaka. Chili mengantarkanku pada sebuah perkenalan pada lingua castellana dari seorang misionaris yang pernah mengajar di sekolah ketika ia baru kembali dari Santiago.
         Semua bermula dari keisengan di masa bangku Sekolah menengah mempelajari bahasa spanyol Castellano. Seorang kepala sekolah memperkenalkan misionaris yang tengah pulang dari masa tugasnya di Santiago (bila ku tak salah mengingatnya).
        Aku bersama seorang temanku, melihat ada seuatu daya tarik mendengar kata Chili. Selain Marcelo Salas tak ada lagi yang kutahu dari negara itu. Hingga kuputuskan mempelajari bahasa itu bersama bruder dan kelak kupelajari secara seporadis hingga kini.
         Bermodal rasa ingin tahu dan ingin merasakan sesuatu yang sedikit berbeda dari bahasa ibuku sendiri, jelas bahasa spanyol bisa membuat hari-hari kami berbeda. Waktu berjalan dan proses inisiasi itu mengantarkanku pada perjumpaan buku-buku penulis amerika latin lainnya. Nasib mengantarkan ku pada penulis-penulis dalam gelombang El Boom.
        Tempurung kepalaku seolah dijejali rentetan kisah-kisah brutal, magis, hingga romantis. Ada semacam kemiripan yang terjadi di belahan amerika latin dan apa yang terjadi di negriku. Semangat kebaruan mereka mengantarkanku pada penulis-penulis Chili yang eklektik. Aku tak pernah tahu  kapan bahasa ini mampu kukuasai dengan baik, namun dengan atau tanpa kesempurnaan itu kupikir jika aku telah meminta restu pelan-pelan kepada  Cervantes. Lalu menyusuri setiap petualangan tak berhulu pangkal ini. Petualangan yang selalu menemani jam makan siang menjemukan di sudut Via Pane Bianco.

D S