Wednesday, 1 April 2020

Rayuela


Untuk Sabda Armandio

           
Dua tahun lalu di sebuah toko buku bekas tak jauh dari Shakespeare and Co, Paris, seorang  lelaki tua asal Irlandia menyodorkanku satu kopi Hopscotch yang baru saja kudapatkan dari Sabda. Aku telah berjanji kepadanya membuat review setelahnya. Kini dua tahun berselang kuputuskan menuntaskan janji itu.
          Rayuela (atau Hopscotch dalam bahasa Inggris) karya Julio Cortazar telah membuatku kagum dengan cara bercerita miliknya. Buku ini menceritakan seluk beluk kehidupan orang-orang Paris. Cerita berpusat pada sang tokoh Horacio, seorang bohemian, yang digambarkan pembaca ulung yang kerap berpindah-pindah kota, gonta-ganti pekerjaan dan kekasih. Ia menikmati partispasi intelektual ketimbang mengejar peran aktif dan terobsesi untuk mencapai apa yang disebut konsep pemersatu. 
       Novel yang bisa dibaca dengan dua cara. Pertama, siapapun bisa membaca secara berurutan dari bab pertama dan kedua ia bisa memulai dari urutan bab yang telah ditetapkan. Tabel instruksi pada awal buku ini membebaskan siapapun untuk memilih urutan pembacaanya. Dalam beberapa bab, Cortazar menyisipkan penggalan frase dari para penulis yang ia kagumi, dan itu kerap membuat saya terus terkejut dengan nama-nama yang cukup asing, walau beberapa masih cukup familiar.
Karakter minor dalam kisah ini juga patut dicermati, mulai dari wanita idaman Horacio, Gekrepten dan penulis Italia bernama Morelli yang kerap dibahas terlibat dalam sebuah klub, the serpent club.
        Bila pada novel ini terdapat satu adegan ketika Olivera dan la maga bersepeda seusai makan hamburger di Carefour de l’Odeon di Montparnasse, maka aku mencoba mendatangi area itu dan melihat tempat peristirahatan terakhir Julio disana. Di sebuah kompleks pemakaman itu, terdapat  Samuel Beckett, Sartre dan Simone de Beauvoir, Baudeleire, Vallejo dan Cortazar. Tiga nama terakhir sebenarnya menjadi tujuan utama kedatanganku kesana.
      Buku ini patut dibaca lebih dari sekali, dimana dari satu pembacaan ke pembacaan berikutnya menawarkan sesuatu yang baru. Seperti yang dikatakan Julio Cortazar, Paris pada akhirnya adalah sebuah metafora.

D S



Sunday, 29 March 2020

Makan Malam


(Diterjemahkan dari cerpen La Cena dari buku La Palabra Magica)

Aku pernah bermimpi. Kami berada di Paris berpartisipasi dalam sebuah kongres penulis dunia. Setelah sesi terakhir, pada 5 Juni, Alfredo Bryce Echenique mengundang kami untuk makan siang pada departemennya  bagian 8 bis, lantai 2 kiri, Rue  Amyot, Julio Ramon Ribeyro, Miguel Rojas-Mix, Franz Kafka, Barbara Jacobs dan aku. Seperti di kota-kota besar, di Paris terdapat jalan-jalan yang sulit ditemukan ; namun Rue Amyot mudah jika kamu turun di stasiun Metro Monge dan kemudian, jika bisa, bertanya untuk Rue Amyot.
                Pada pukul sepuluh malam, masih di bawah sinar matahari, kami masih bersama, minus Franz yang telah mengatakan jika sebelum tiba ia akan mengambil kura-kura yang akan ia beri aku ingat betapa cepatnya kongres berlangsung.
                Sekitar pukul sebelas lewat seperempat ia menelpon untuk mengatakan jika berada  di Stasiun Saint Germain de Pres dan bertanya jika dari Monge lalu  ke Fort d’aubervilliers atau ke Mairie d’Ivry. Ia menambahkan bahwa akan lebih baik menggunakan taksi. Pada jam dua belas ia menelpon lagi untuk melaporkan jika ia telah naik dari Monge, tapi sebelumnya salah mengambil jalan keluar dan telah menaiki  jika 93 anak tangga  untuk menemukan pada akhirnya bahwa pintu besi terlipat yang mengarah ke Jalan Navarre ditutup sejak pukul delapan tiga puluh, namun dia telah menelusuri kembali jalan setapak untuk keluar dari eskalator dan ia telah datang dengan kura-kura,  yang diberikan air di sebuah kafe, tiga blok dari kami. Kami meminum wine, wiski, coca cola dan Perrier.
Pada satu dia menelepon kami untuk meminta maaf, bahwa dia telah mengebel nomor 8 dan tidak ada yang membuka, bahwa telepon yang dia bicarakan adalah satu blok jauhnya dan bahwa dia sudah menyadari bahwa nomor rumah bukan 8 tapi 8 bis.
Bel pintu berbunyi dua kali. Tetangga Bryce, yang tinggal di lantai 2 yang sama, kanan, bukan kiri, berkata dengan jubah dan dengan agak khawatir bahwa seorang pria mengebel apartemennya dengan keras beberapa menit lalu; bahwa ketika ia membukanya, pria itu, tidak diragukan lagi menyesal atas kesalahannya dan karena telah memencetnya, menemukan bahwa ia membawa kura-kura di jalan; bahwa ia mengatakan ia akan pergi untuknya, dan itu jika kami mengenalnya.

(Tamat)


Friday, 28 February 2020

Tempat Tidur


(Diterjemahkan dari cerita pendek El Lecho dari buku kumpulan cerita pendek Informe del Cielo Y Del Inferno )
(Karya : Silvina Ocampo.)


Mereka saling mencintai, namun kecemburuan lampau atau masa depan,  saling iri, saling tidak percaya, kian membusuk. Berulang kali di atas tempat tidur, kita bisa melihat. Pada satu dari beberapa kesempatan, yang terakhir, merujuk padaku.
                Tempat tidur semula lembut dan luas dan memiliki selimut merah muda. Bagian tengah terdapat lanskap pepohonan dan perahu. Di pusat dari keriuhan, dari cat, memperlihatkan sebuah model pepohonan dan kursi-kursi. Mentari terbenam menerangi awan tampak menyerupai nyala api. Ketika mereka saling berpelukan, seseorang cukup untuk bisa berbaring, mencium mulut yang lain, merenungkan awan itu, tertarik oleh cahaya yang tidak biasa meneranginya, melalui piramida laba-laba dengan tulip merah dan hijau.
Mereka bertahan di tempat tidur lebih dari biasanya. Keriuhan di jalan muncul dan mati bersama cahaya. Bisa dikatakan bahwa tempat tidur itu berlayar di laut tanpa waktu, tanpa ruang untuk bertemu kebahagiaan atau sesuatu yang keliru mengguncangnya. Tetapi ada kekasih yang nekat. Pakaian, yang telah dilepas, dekat, mudah dijangkau. Lengan baju yang kosong tergantung di tempat tidur, dan kertas biru muda jatuh dari saku. Seseorang mengambil kertas itu. Aku tidak tahu apa isi kertas biru muda itu, tetapi aku tahu itu menghasilkan kerusuhan, investigasi, kebencian yang tak tertahankan,perselisihan, rekonsiliasi, perselisihan baru.
                - Ada bau seperti terbakar. Tadi malam aku memimpikan api. - Ujarnya, pada sebuah momen mengerikan, didepan wajahnya, untuk mengalihkannya.
                       -Penemuan dari aromamu – ujarnya.
          Fajar mengintip ke luar jendela.
                       - Kami berada di lantai Sembilan – tambahnya, seperti terlihat ketakutan – aku takut.
                       - Jangan alihkan pembicaraan.
                       -Jangan alihkan pembicaraan. Api membuat riuh air, bukan?
                       - Penemuan dari telingamu.
                     Kamar terasa amat terang dan menenangkan. Seperti sebuah api unggun.
                      - Jika kita berpelukan, kita hanya akan membaka punggung kita.
                      - “Kami akan membakar semuanya,” masuk – katanya menatap api dengan mata marah.

(Tamat)

(de Las Invitadas)

Saturday, 11 January 2020

Segera Terbit


Di awal tahun ini, saya kembali bekerja sama dengan Peladi Press dalam zine edisi kedua milik Litost Zine.

Pemesanan bisa dilakukan melalui:
IG : @PeladiPress/ WA : +6283870951894


D S

Sunday, 1 December 2019

Antar Kota Antar Puisi, Beni Satryo

Suatu kali, aku sempat mencoba meminta seorang kawan membawakan sebuah buku berjudul  Pendidikan Jasmani dan Kesunyian dari Jakarta. Aku membaca salah satu puisi di dalamnya dari seorang kawan yang merekomendasi karya seorang penyair kesukaanya. Namun ajaibnya yang tiba terlebih dahulu justru buku Antar Kota Antar Puisi milik Beni Satryo. Setelah membacanya, imaji-imaji tentang warteg, sopir kopaja dan hingga kerupuk menyeruak berhamburan. Semua yang jelas tak akan mungkin terjadi disini. Beni menghadirkan segala suasana yang dulu begitu familiar, dekat hingga terabaikan dalam keseharian. Namun ada satu hal yang membuatnya lebih mengganggu kepala ini dari semua yang dibayangkan, yakni penyampaian ide-ide Beni tentang perasaan asing dari kehidupan seorang pendatang di sebuah kota yang amat riuh dengan intensitas ritme hidup yang serba cepat. Di saat bersamaan ada keriangan di sudut-sudut kalimat Beni. Ia tetap ingat cara melihat secercah keindahan dalam hidup yang tak menentu.  Mengomentari sebuah puisi jelas hal yang tak terlalu perlu-perlu amat. Satu hanya perlu membaca dalam sebuah pembacaan, melepaskan beban apapun yang melekat, lalu menceburkan semuanya ke dalam suara sang penyair. Puisi-puisi berjudul kalender warteg, supir tembak dan puisi-puisi lainnya akan hinggap di benak siapapun yang merelakan Beni mengatakan keresahannya. Dan membaca buku ini pada akhirnya seperti sebuah kepulangan dan pertemuan singkat.

D S








       




Saturday, 16 November 2019

Fosforescenza

L’immagine nella tua testa ha lasciato qualche messaggio.
Corretta o scorretta.
Bianco o nero.
Estate o inverno.
Però non puoi fermare il vento.
Ti dicevo una volta : Cielo sta cantando.
è un segno primitivo.

D S

Thursday, 31 October 2019

The Swan of Istanbul

(Diterjemahkan dari cerita  The Swan of Istanbul)
(Karya : Laszlo Krasznahorkai)

Angsa Istanbul
(tujuh puluh sembilan paragraf pada halaman-halaman kosong)


dalam memori Konstantinos Kavafis

































































































































(Tamat)