Monday, 29 July 2019

Le Roi Au Masque D'Or

(Diterjemahkan dari cerita pendek: Le Roi Au Masque D'Or)
(Karya : Marcel Schwob)

Raja Bertopeng Emas

Untuk Anatole France.

Raja bertopeng emas bangkit dari tahta hitam tempat dia duduk selama berjam-jam, dan menanyakan penyebab keributan itu.

(Bersambung)

Tuesday, 2 July 2019

62/Modelo para armar

(Diterjemahkan dari cerita  62/Modelo para armar)
(Karya : Julio Cortazar)


     Tentu ada beberapa pembaca yang akan melihat disini berbagai pelanggaran terhadap konvensi sastra.

(Bersambung)

Sunday, 30 June 2019

Bakat Menggonggong, Dea Anugrah

Ada hal menarik yang kutemukan akhir-akhir ini dalam setiap lima menit jeda kerja. Sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Bakat Menggonggong miliki Dea Anugrah. Cerita-cerita dalam buku ini sekilas tak berusaha menjadi sesuatu yang besar. Dalam artian, Dea bertutur dengan amat sederhana tentang hal-hal juga kerap berada disekitar kita mulai dari kesedihan, kehidupan seorang pemuda, acara tengah malam, hingga seorang penjelajah. Dalam semua kesederhaan itu, sang narator mulai menggiring para pembaca ke sisi lain cerita seperti pemandu interaktif. Hingga yak terasa buku tipis miliknya telah habis, Dan memaksa saya membaca ulang berkali-kali di setiap jeda kisah alfonso, pemuda e dan semua kisah dalam buku kumcer ini.

D S

Saturday, 29 June 2019

Moving Parts, Prabda Yoon

                 Beberapa hari lalu di sebuah media lokal tempat saya bekerja, muncul sebuah ulasan buku kumpulan cerita pendek milik seorang penulis Thailand, Feste Lacrime (dalam bahasa indonesia berarti Pesta air mata) Prabda Yoon. Prabda baru saja menghadiri sebuah festival kesustraan di Turin dan mendapat sambutan menarik dari masyarakat setempat.

                  Membaca kumcer terbarunya berjudul Moving Parts memberi kesegaran baru bagi pembacaan saya. Cerita-cerita miliknya menjelajahi sudut-sudut gelap bangkok. Dibuka dengan sebuah cerita tentang seorang bocah yang jarinya kerap mengatakan "yuck" setiap kali menemukan hal yang tidak disukainya. 

                  Kisah berikutnya berjudul Mock Tail tak kalah unik. Di suatu masa ketika setiap orang memiliki ekor, seorang gadis merasa terkutuk karena tak bisa mengakui kekurangan dirinya kepada seorang pria berekor yang ia idamkan. Berikutnya sebuah New Hand tentang kisah siswi sekolahan yang memberikan tangannya kepada lelaki idamannya sebagai sebuah upaya meyakinkan sang lelaki bahwa dirinya pantas untuk menjadi kekasihnya.

                 Prabda memberikan petualangan surealis dengan bumbu humor gelap, satir, sekaligus sarkas yang menawan. Narator-narator dalam kisahnya berbicara dengan luwes kesana kemari tanpa membuat cerita menjadi berlebihan. Prabda adalah suara-suara dalam kehidupan bangkok yang dinamis, brutal dan vulgar. Prabda pun adalah penulis yang tak tertahankan untuk dinantikan karya-karya berikutnya di kemudian hari.

D S
         

Sunday, 16 June 2019

Melihat Hal-Hal bersama Georges Perec

Musim panas tiba. Orang-orang datang tak terhitung banyaknya ke Crotone. Mereka datang bersama sanak keluarga, kekasih dan kerabat terdekat. Itu berarti banyak hal kemudian. Artinya pekerjaan baru saya akan berjalan lebih menyenangkan dengan lautan manusia yang memenuhi area pantai tempat saya bekerja; artinya pesananan-pesanan menanti saya untuk bekerja jauh lebih cepat dari beberapa minggu sebelumnya; artinya waktu membaca saya terpangkas berkali-kali lipat dari sebelumnya.
          Yang terakhir adalah hal terberat untuk diterima. Setidaknya sedikit waktu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ditengah jeda waktu kerja, saya mencuri sedikit waktu rehat  membaca novel Les Choses. Setelah dibuat kagum dengan kompleksitas La Vie Mode d'Emploi,  kali ini cerita jauh lebih sederhana. Jika sebelumnya saya menemukan bilik-bilik kamar  dalam La Vie..... , namun kali ini adalah kisah cinta pelik sepasang kekasih bernama Jerome dan Sylvie. 
          Kelesuan bangku kuliah, gaya hidup Parisien yang "mahal" menekan hari-hari Jerome dan Sylvie. Setelah memutuskan meninggalkan bangku kuliah mereka berdua,  Jerome memutuskan melamar posisi pengajar di Tunisia, sedangkan kekasihnya mendampingi kehidupan baru mereka. Alhasil mereka mencoba peruntungan di kota baru. 
          Seperti halnya parisien, kehidupan mereka berkecukupan. Setidaknya bisa untuk dipakai bersantai di kafe, pergi ke bioskop atau sekedar melepas kebosanan di akhir pekan. Sayangnya kebosanan jauh lebih besar dari hal apapun yang mereka bayangkan. Mereka menginkan kenyamanan hidup, namun kenyamanan itu pada akhirnya disamakan menjadi semacam kepemilikan.
         Novel ini kemudian menjadi semacam kisah sebuah generasi, Jerome dan Sylvie memandang hari-hari mereka di Paris pada akhir tahun 60an perlahan beranjak tergerogoti gaya hidup penuh kekosongan. Berlatar Paris di tahun 60-an, hari-hari mereka sebetulnya tak buruk-buruk amat di kala itu.
        Ini sebuah kisah cinta cukup pahit yang terbentang di akhir tahun enam puluhan. Sang perempuan mendambakan kehidupan mapan, sedangkan sang lelaki terus dihantui dengan rasa penasaran dalam hari-harinya. Perec hadir seperti tak ingin memberikan sebuah solusi, dalam tema-tema kegemarannya, ia kerap menjadikan novel semacam puzzle.


D S

(L.C,2019)



       








Friday, 31 May 2019

Coicidencia

(Diterjemahkan dari cerita  Coicidencia)
(Karya : Rodrigo Rey Rosa)



Kebetulan

        Aku pikir konyol jika beberapa hari kutegaskan bahwa aksi menulis adalah mengancam untuk jiwa, karena aku telah meninggalkan penciptaannya di dalam jiwa.
       Sekarang begini: aku telah berhenti percaya di dalam sisi spirituil setelah mendedikasikan hampir dua puluh tahun di kepenulisan, mungkin - pada caraku- aku telah memiliki alasan.

        Kau penasaran, dan hampir signifikatif ? pada malam apa, beberapa jam kemudian seusia menulis ia tiba, ketika aku melahap faláfel di falla di St Mark's Place, seorang pria yang sangat jangkung dengan buku tebal di bawah lengannya memasuki ruang makan untuk memberi tahu pria lain, yang membuka-buka buku fisika nuklir saat dia makan malam dengan seorang wanita dan anak delapan atau sembilan tahun: "Kamu, yang terlihat seperti seorang ilmuwan, katakan padaku, apa perbedaan antara materi dan roh?"
       Ayah di keluarga, dengan sikap tidak sabar yang terkendali, menjawab: "Tinggalkakn aku sendiri, tolong, aku sedang makan bersama putra dan istriku." 
      "Ya," kata lelaki jangkung itu, "Aku melihatmu makan dan membaca buku itu sementara istrimu dan putramu makan dalam diam, dan kupikir kau mencari semacam kebijaksanaan."
         Sang ayah menatap bukunya, dan kemudian orang asing itu berbalik ke arah bocah lelaki itu, yang menatapnya, mungkin sedikit takut, dan berkata, "Itulah sebabnya kami hanya datang kesini, Nak, itu satu-satunya kebijaksanaan. Layak: untuk mengetahui bagaimana membedakan tubuh dan roh, untuk menemukan batas yang tepat antara keduanya.
                 Aku bangkit dari meja kecilku dan pergi ke jalan, dan pria jangkung itu pasti pergi untuk berkelok di tikungan pertama karena, ketika menyebrang jalan, aku berbalik melihat apa yang terjadi di jendela melalu jendela kaca patri, dan satu-satunya yang aku lihat adalah pria yang sedang membaca, istrinya mengunyah, dan lelaki, dengan suasana termenung, sedang mengorek telinga.


(Tamat)

Thursday, 30 May 2019

Sakhalinka

Nel un giorno.
Tu arrivi a questa terra.
Nessuno capisce.
Per cosa sei nato qui.
Pero siamo sicuri.
Almeno tu ed io.
Che c’è una felicità.
Forse nascosta.
Credo sia ovvio.
La tua vita sara diversa.
La vita di signorina Zakirova.
Non hai bisogno di arrabbiarti.
L’arcobaleno da Sakhalin.


D S