Sunday, 27 January 2019

Caras

(Diterjemahkan dari judul asli Caras )
(Karya : Adolfo Bioy Casares)

Wajah-wajah

I
Karena pertalian pada beberapa macam wajah kebanyakan, semua wajah adalah wajah yang dikenal.

II
Terdapat wajah asli yang terbuang.





Tamat

Friday, 18 January 2019

La giornata d'uno scrutatore, Italo Calvino

Hari-hari Amerigo sebagai seorang simpatisan partai dilanda sebuah krisis. Amerigo Omerea dihadapkan kepada dua pilihan : Jangan terlalu berharap banyak terhadap delusi-delusinya , atau terus menjaga api optimisme dalam dirinya bahwasanya esok akan jauh lebih baik dari kondisinya saat ini pada saat pemilihan umum yang tinggal beberapa hari lagi.

Dengan latar sebuah kota bernama Cottolengo, Amerigo berpartisipasi sebagai "pengamat penghitungan " dalam proses pemilihan umum. Seluruh lapisan masyarakat mulai dari pekerja, biarawan dan biarawati, hingga kriminil menjadi salah satu elemen dalam kisah ini. Pertanyaan-pertanyaan tentang  moralitas, isu politik, agama adalah komoditi utama. Calvino bereksperimen dengan sebuah drama psikologi nan kompleks dalam La giornata d'uno scrutatore kali ini.

Hari-hari Amerigo diliputi awan gelap dalam masa-masa pemilihan. Seantero penduduk kota Turin, sebagaimana Cottolengo diceritakan, diisi dengan gegap gempita dan nafsu berbagai simpatisan partai-partai. Mereka berharap bila sosok yang mereka usung bisa menjadi representasi terbaik bagi negeranya, mulai dari kaum agamis Katolik hingga para comrade partai komunis saling menggalang dukungan mereka.

Sebagai seorang relawan pengawas pemilihan, Amerigo, disana ia menemukan beberapa pemilih dengan kebutuhan khusus. Ia berhadapan dengan para penyandang disabilitas, mulai dari orang tuli, buta, hingga orang gila. Calvino seperti ingin memberi sebuah kesan dalam proses pemilihan bahwasanya proses pemilihan ini seolah disalah artikan orang-orang sebagai sebuah ungkapan keinginan.

Eksperimen Calvino terasa cukup unik dalam emosi tiap-tiap karakter. Manusia normal kerap mengharapkan sesuatu diatas batas kewajaran dalam situasi politik. Tak peduli kiri atau kanan keduanya begitu menggebu-gebu dan mulai membuat hari-hari Amerigo kalang kabut mengawasi pesta politik negaranya.

Amerigo adalah Calvino. Kegelisahan, kegetiran dan amarah melihat situasi negaranya kala itu, cukup terekam dan nampak muram dalam narasinya. Ditengah gelombang orang-orang yang tidak dapat memahami dan terbujuk oleh sebuah nilai agama Amerigo menatap kenyataan yang mengguncang hati nuraninya, dan berupaya menempatkan semua kepastiannyan dalam sebuah krisis yang kan menjadikannya sosok berbeda.


D S




Tuesday, 1 January 2019

Near to the Wild Heart, Clarice Lispector

Dalam sebuah wawancara, Clarice Lispector pernah menyatakan jika anak-anak dipenuhi mimpi yang membuatnya selalu bahagia. Sedangkan orang dewasa tak ubahnya masa penuh kesedihan karena mimpi itu telah mati dihantam kenyataan-kenyataan hidup. Ironisnya Near to the Wild Heart mengisahkan masa kecil seorang perempuan bernama Joana, seorang anak kecil perempuan  pemurung dan kerap dilanda kebosanan.  Ayahnya tak berhenti menghardiknya karena kerap mengganggu pekerjaanya. Bibinya lebih parah lagi. Ia menganggap sang Joana kecil adalah seekor monster berbahaya setelah mendengar pengakuan atas kenakalannya.

Dibuka oleh sebuah epigraf  "He was alone. He was unheeded, happy, and near to the wild heart of life."  dari James Joyce. Clarice pun  mengakui jika dirinya terinspirasi atas novel pertama Joyce   Potrait of the artist as a young man. Tak ada Stephan Dedalus memang namun Joana, si tokoh utama, digambarkan sebagai seorang bocah yang sedang tersesat dalam hari-hariya. Tak peduli semua kesibukan telah  dikerjakan, ia tetap merengek kepada orang-orang teredekatnya jika ia ingin hal lain. Termasuk memutuskan mencuri buku.

Joana kecil tumbuh dalam segala kebosanan di hadapannya. Baginya kehidupan dewasa adalah kesedihan sejati, dan meminjam perkataan Faulkner kemurnian adalah hal paling bertentangan di alam semesta. Begitu pula halnya dengan kebosanan. Ia tak menemukan keseruan dalam hal hari-harinya dan beranggapan jika keputusan untuk mencuri bukanlah sebuah kejahatan jika itu bisa membunuh rasa bosannya.

Kisah ini kemudian berlanjut hingga kehidupan dewasa Joana. Kelak ia berjumpa dengan seorang pria dan jatuh hati. Mereka memutuskan menikah, kemudian mimpi buruk datang lebih cepat diantara mereka, namun kesedihan adalah bagian tak terelakan dalam kehidupan Joana tampaknya. Clarice mengutarakan  jika kesedihan adalah sebuah bagian kehidupan orang dewasa, sedangkan masa anak-anak adalah masa penuh kebahagiaan, karena imajinasi dan mimpi memberikan harapan.

Clarice memang kerap jauh dari senyum dalam wawancaranya. Sedangkan hal itu tampaknya tertuang jelas dalam sinisme di kisahnya. Kesedihan adalah sebuah kemewahan dalam sebuah kehidupan. Ia memang kerap disebut sebagai penulis yahudi terbaik setelah Kafka. Ada jejak-jejak Joyce, Dostoevsky, hingga Gide dalam kisahnya. Sinisme dalam karakter-karakternya memang membuat gaya arus kesadaran mengalir dengan deras sepanjang kisah.

Memperoleh pengakuan terlambat di dalam gelombang El boom latinoamericano, tak mengurangi kualitas karya Clarice sepertinya. Novel pertama ini jelas menjadi penanda jika buku-buku miliknya layak bersandar dengan deretan karya-karya kanon berikut. Tak ada embel-embel realisme magis dalam kisah ini, namun prosa ini berdaya magis untuk menggedor nalar siapapun .


D S















Monday, 10 December 2018

La Strada che va in citta


(Diterjemahkan dari Novel La Strada che va in citta )
(Karya : Natalia Ginzburg)



Jalan yang Menuju ke Kota



<< Kerja orang bodoh akan menjadi pekerjaan yang menyiksa, karena mereka tidak tahu jalan yang menuju ke kota.>>

          Il nini pernah tinggal bersama kami semenjak ia masih kecil. Ia anak dari sepupu ayahku. Dia tidak lagi memiliki orangtuanya dan harus tinggal bersama kakeknya, tetapi kakeknya menyukainya dengan sapu dan membuatnya melarikan diri dan mendatangi kami.Sampai sang kakek wafat dan kemudian kami mengatakan kepadanya bahwa dia selalu bisa tinggal di rumah.
          Tanpa Il Nini  kami lima bersaudara. Sebelumku ada kakak perempuanku Azalea, yang menikah dan tinggal di kota. Setelahku ada adik laki-lakiku Giovanni, kemudian Gabriele dan Vittorio. Dikatakan jika sebuah rumah dimana terdapat banyak anak adalah kebahagiaan, namun aku tak menemukan kebahagiaan sama sekali di dalam rumah kami.



(Bersambung)


Thursday, 6 December 2018

Melancholy of Resistance, László Krasznahorkai

           Beberapa hari lalu, saya melihat sebuah wawancara László Krasznahorkai dengan salah satu stasiun televisi Jerman.  Dalam wawancara itu ia membicarakan karya terbarunya, dan itu satu-satunya hal yang saya mengerti dalam acara itu karena jelas tak memahami bahasa kedua pembicara. Bagi saya melihat dia sehat dan bugar saja sudah cukup membuat senang. Di usianya yang memasuki enam setengah dekade, tak banyak perubahan dari kondisi fisik dirinya sejak pertama kali saya mendengar namanya dan membaca  karya pertamanya Satantango. 
             Dalam setiap wawancaranya, ia kerap menegaskan hanya ingin mennulis "satu buku saja". Satantango berungkali dia sebut menjadi buku itu, namun untungnya itu tak terjadi sehingga masih terus ada kesempatan untuk membaca buku-buku baru darinya dan belum lama saya memutuskan tuk membaca kembali  novel kedua miliknya, Melancholy of Resistance.
           Kisah yang menceritakan sebuah kehadiran sirkus paus di pusat kota.  Dari awal novel ini hendak menceritakan sebuah mimpi buruk. Semacam dendam yang tak kunjung pulih, walau telah dipulihkan oleh obat bernama waktu. Hal itu memang berlalu, tetapi tidak kunjung sebagai mana bunyi epigraf di awal cerita "It passes, but it does not pass away".
          Beberapa kritikus menyebutnya sebuah kisah komedi apokaliptik; beberapa menyebutnya novel surealistik. Seperti novel Laszlo sebelumnya, plot cerita sedikit lebih jelas terlihat, namun tetap dengan aliran narasi panjang.  Laszlo masih peduli dengan alur cerita cerita yang sistematis, dan lebih mengedepankan "kebiasaan unik" yang jarang ditemukan dalam novel-novel kebanyakan.
         Kisah dibuka dengan perjalanan pulang Nyonya Plauf setelah menerima sebuah kabar pembatalan yang membuatnya harus mengambil jalur kereta yang dipenuhi oleh orang-orang kelas bawah yang berbeda dengan dirinya. Di sebuah kota yang dinamis, penuh dengan begitu banyak pendatang, si tokoh utama Nyonya Eszter dan Suaminya berperang dengan kehidupan dan semua sisi gelap hidup mereka.
         Bila di novel pertama Laszlo lekat dengan sebuah penantian, maka di novel keduanya ini ia ingin memberikan sebuah mimpi buruk yang tak kunjung pergi. Hal itu terus menerus menghantui, tanpa bisa dicegah.

D S

Thursday, 29 November 2018

Duel Berbalas Fiksi

            Beberapa minggu terakhir ini, perhatian saya tertuju kepada dua penulis yang saling "beradu karya"  satu dan yang lainnya.  Sabda Armandio dan Dea Anugrah menghadirkan sebuah keseruan dalam beradu kisah di sebuah media online dalam sebuah konten berbalas fiksi.

            Karya mereka saling bersaut-sautan saling membalas satu sama lain mulai dari kisah-kisah tentang karburator motor, kucing, persamaan matematika, hingga penyair bodor dan penamaan anjing-anjing peliharaan. Siapapun bisa menikmatinya setiap empat hari atau selang beberapa hari dari setiap kisah yang baru diunggah.

              Baiklah keduanya tidak sedang berkompetisi menjadi yang terbaik, namun boleh lah rasanya menikmati momen ini sebagai sebuah "perang karya" dimana siapapun berkesempatan untuk terlibat sebagai pembaca dari dua penulis ini.
           
              Keduanya bukan saja aktif menghasilkan menulis cerita pendek, namun juga kerap mengalihbahasakan cerita-cerita pendek dari penulis favorit keduanya, sebagaimana beberapa hasil terjemahan kerap mereka unggah di blog masing-masing mereka. Siapapun bisa menikmati terjemahan penulis uruguay hingga Cili, dari Israel hingga Jepang dari kedua kubu yang sedang berbalas karya ini.

               Karya kedua penulis ini juga tak boleh di lewatkan. Bakat Menggonggong adalah kumpulan cerita pendek milik Dea, yang kerap "membebaskan" peran sang narator bicara ngalor ngidul. Di satu sisi, 24 jam bersama Gaspar menghadirkan sebuah kisah detektif yang menawarkan ketegangan dalam merampok toko perhiasan dengan sepeda motor yang namanya diambil dari seorang penulis sekaligus seorang surealis besar Julio Cortazar. Sedangkan Jaroslav Hasek lmuncul dalam salah satu cerita pendek Dea.

              Dea anugrah menghadirkan kegetiran namun dengan cerdik menghadirkan humor tersembunyi dalam kisahnya. Sabda Armandio menawarkan eksperimen serta satir terhadap rekan penulisnya itu. Pada akhirnya kedua penulis ini memang perlu dimasukin dalam daftar buku yang perlu dibaca. Saya masih penasaran membaca kumpulan puisi Misa Arwah sebagaimana saya penasaran membaca buku pertama Sabda berjudul Kamu: Cerita yang tidak  perlu dipercaya. Namun rasa penasaran saya bisa sedikit terobati sembari membaca cerita-cerita mereka.

               Ketika artikel ini ditulis Sabda baru saja mengeluarkan sebuah cerpen berjudul "Il Faut D'Abord Durer" milik Dea. Sejauh ini tampaknya belum ada tanda-tanda jika duel akan berakhir, dan saya berharap tak akan berakhir bagi keduanya. Pembaca bisa memilih jagoan mereka  dalam setiap serangan "kisah" dari masing-masing penulis. Ini duel sengit, dan tak mudah untuk menemukan pemenangnya.

             Melihat intensitas balas-berbalas yang cukup sengit, pertarungan ini masih akan berlangsung cukup panjang. Selayaknya pertarungan karya fiksi bukan hanya milik  kanon-kanon literatur besar macam rivalitas Vargas Llosa dengan Garcia Marquez, Hemingway dengan Faulkner, atau Tolstoy dengan Dostoevsky, maka kini hal itu hadir antara Sabda Armandio dan Dea Anugrah.


D S

Monday, 19 November 2018

Dónde me lleva la soberbia

(Diterjemahkan cerita pendek Dónde me lleva la soberbia )
(Karya : Adolfo Bioy Casares)

Kemana Arogansi akan membawaku

Aku harus menjaga kebanggaan yang mendorongku untuk meniru Dr. Johnson dan meyakinkanku bahwa tidak ada yang mengintimidasi. Jika tidak ada yang mengintimidasiku, bagaimana aku bisa membenarkan kekosongan dari perapian, dimana itu bergema, menyajikan apa yang harus dibicarakan? Apa yang harus dibicarakan?



(Tamat)