Saturday, 12 May 2018

El Tunnel

(Diterjemahkan dari novel El Tunnel )

Judul: Terowongan
Oleh : Ernesto Sabato

(“Bagaimanapun juga, hanya ada satu-satunya terowongan, terisolasi dan gelap, diriku sendiri”)


I

Ini bisa dibilang jika aku Juan Pablo Castle, pelukis yang telah membunuh Maria Iribarne; Aku kira jika orang-orang akan ingat apa yang telah kuperbuat, dan mereka tak perlu penjelasan lain dari kepribadianku.


Sekalipun  setan tidak tahu apa yang orang-orang ingat, atau mengapa mereka melakukannya. Pada kenyataan, aku selalu saja berpikir tidak ada kumpulan kenangan, yang  mungkin sejenis penahan untuk spesies manusia. Sebuah ekspresi, "segala masa lampau lebih baik," tidak menunjukan jika sebelum beberapa hal buruk terjadi, untungnya, orang- orang cenderung untuk melupakannya. Tentunya, sebuah ekspresi seperti ini tidak selalu betul ; Aku, contohnya, adalah jenis pribadi yang cenderung mengingat hal-hal buruk, maka dari itu, akan hampir bisa dikatakan jika "segala masa lampau lebih buruk," seandainya ini bukan untukku semua masa kini terlihat lebih mengerikan dari masa lalu. Aku ingat amat banyak petaka, amat banyak wajah sinis, dan begitu banyak hal buruk yang bagiku, kenangan seperti cahaya menakutkan yang menyinari musium kotor yang memalukan. Berapa kali sudah aku dikecewakan berjam-jam, setelah membaca sebuah artikel di berita polisi! Tetapi kenyataan adalah bagian paling memalukan dari peradaban manusia yang tidak selalu muncul ada;  dalam beberapa upaya kriminal adalah orang-orang paling jujur dan kurang ofensif. Dan aku tidak bilang ini karena aku seorang pribadi yang baru saja membunuh seseorang; Ini jujur dan kejujuran yang mendalam. Jadi seseorang itu jahat? Baiklah, habisi mereka, dan ini adalah akhir darinya.  Ini apa yang kusebut sebuah perbuatan baik.  Baru saja berpikir betapa buruknya ini  jika  berada pada masyarakat, seandainya  individu meneruskan menyebarkan racunnya dan daripada menyingkirkannya, kita akan mencoba menghalangi aksinya dengan menyembunyikannya, mengamatinya,  atau tindakan-tindakan keji sejenis lainnya.  Sejauh kupeduli, harus kuakui jika sekarang aku menyesal  tidak mengambil keuntungan dari kesempatan melakukannya dari kelaparan dan kemudian mereka memaksanya memakan seekor tikus. Sejauh ini masih hidup. Tetapi itu bukan apa yang ingin aku katakan. Jika ada sebuah kesempatan, aku ingin mengatakan sesuatu kemudian ketimbang perkara tikus.


II
Seperti yang kukatakan, namaku Juan Pablo Castle. Seseorang mungkin berpikir jika itu membuatku ingin memberitahu kisah cerita kejahatanku  (Aku tak tahu apa aku akan membicarakan kejahatanku) dan mencoba mempublikasikannya. Aku tahu jika jiwa manusia cukup baik  untuk sebagian akan bisa memperkirakan itu sia-sia. Mereka  dapat berpikir  apa yang mereka inginkan : Aku tak peduli : untuk sekian lama sekarang waktunya keadilan, atau apa yang orang-orang piker, persoalan kecil untukku. Biarkan mereka membayangkan aku akan mengeluarkan cerita ini daripada sia-sia. Dalam analisa akhir, Aku adalah pribadi dari daging dan darah, rambut, dan kuku, seperti yang lain juga, dan aku akan merasa jika ini benar-benar salah untuk mereka untuk mengiraku, khususnya aku, memiliki keunggulan istimewa. Seorang manusia terkadang merasa dia sejenis superman, hingga dia menyadari jika ia jahat, kotor dan berbahaya. Dan aku tidak sedang membicarakan omong kosong : Aku tak berpikir jika ada satupun tanpa mesin kemajuan manusia yang terkenal ini. Ini membuatku tertawa mendengar orang-orang bicara tentang kesantunan Einstein, atau orang-orang semacam itu. Alasannya: Ini mudah menjadi santun ketika kamu adalah seorang selebriti. Maksudku, tampak santun. Sekalipun ketika seseorang berpikir jika ini tidak eksis sama sekali, seseorang dengan cepat  menemukan yang bentuk yang paling halus : Kesopanan yang sia-sia.

(Bersambung)
Nb: Diperbarui secara berkala



Sunday, 22 April 2018

Las Hortensias

(Diterjemahkan dari novel Las Hortensias )
(Karya : Felisberto Hernandez)

Untuk Maria Luisa

I

          Di sebelah taman pernah ada sebuah pabrik dan kebisingan mesin-mesin diantara tanaman-tanaman dan pepohonan. Dan di bagian belakang kebun kau bisa melihat rumah sepatu yang gelap. Pemiliknya seorang pria tinggi. Saat senja, langkah pelan mereka tiba dari jalan ; dan ketika kumasuki taman dan berpikir kebisingan (suara) mesin, terlihat seperti langkah-langkah yang mengunyah pemberat.  Suatu malam pada musim gugur, saat membuka pintu dan memicingkan mata demi menghindari cahaya yang kuat dari aula, dia melihat istrinya berhenti ditengah ruma
h kecil itu; dan melihat langkah-langkahnya mengarah ke tengah teras dan ketika ia melangkah ke tangga, menumpahkan dirinya ke tengah teras, nampak baginya bahwa istrinya mengenakan gaun marmer besar dan tangan yang meraih pagar itu mengangkat gaun itu.

(Bersambung)
Nb: Diperbarui secara berkala

Sunday, 15 April 2018

Nocturno de Chile

         Pada Malam Hari di Chili       
   Oleh : Roberto Bolaño 
 (Diterjemahkan dari Judul Asli: Nocturno de Chile)
  Penerbit : Debolsillo


Untuk Cantarina Lopez dan Lautaro Bolaño  


 "Lepaskan rambut palsu." - Chesterton


Sekarang aku sedang sekarat, namun banyak hal yang masih ingin kukatakan. Aku sempat merasa tenang dengan diriku. Tenang dan damai. Namun semuanya tiba-tiba muncul. Pemuda itu adalah pelakunya. Aku yang tadinya merasa tenang. Kini aku tidak lagi tenang. Ada beberapa poin yang harus dijelaskan. Jadi aku akan bersandar pada satu siku dan mengangkat kepalaku, kepalaku yang gemetar, dan menggali ke dalam sudut kenangan tindakan-tindakan yang membenarkannya dan karena itu menorehkan keburukan yang dialami  remaja belia itu menyebar dalam ketidak percayaanku pada suatu malam dalam gemuruh petir. Dugaanku memang tak pantas. Kaulah yang harus bertanggung jawab. Aku sudah mengatakan seumur hidup. Seseorang memiliki tanggung jawab atas kata-katanya dan keheningannya sekalipun, ya, untuk keheningannya, karena keheningan juga naik ke surga dan Tuhan mendengarkan mereka dan hanya Tuhan yang mengerti dan menghakimi mereka, jadi berhati-hatilah dengan keheningan tersebut. Aku bertanggung jawab atas semua. Keheninganku yang tak bercela. Untuk memperjelas. Tapi yang terpenting, jelaskanlah kepada Tuhan. Sisanya bisa kulupakan. Tuhan, tidak. Aku tidak tahu apa yang sedang kubicarakan. Terkadang aku terkejut bertopang siku. Aku berkeliaran dan bermimpi dan mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri. Namun kadang kala namaku sendiri saja aku lupa. Namaku Sebastian Urutia Laroix. Aku orang Chili. Nenek moyangku di pihak ayah berasal dari desa Basque, atau Euskadi, seperti yang sekarang disebutnya. Untuk pihak ibuku, berasal dari tanah lembut Prancis, dari sebuah desa yang namanya berarti "Hombre en tierra"  atau mungkin "Hombre a pie", bahasa Prancisku mengecewakan pada akhirnya. Namunku masih memiliki cukup kekuatan untuk mengingat dan membantah penghinaan pemuda kerempeng itu, terlempar ke wajahku suatu hari, ketika tanpa sedikit pun provokasi dan tiba-tiba, dia muncul di pintu rumahku dan menghinaku. Biarkan aku menjelaskannya. Tujuanku bukan untuk menimbulkan konflik, tidak pernah demikian, tujuanku adalah kedamaian dan tanggung jawab atas tindakan seseorang, untuk kata-kata dan keheningan seseorang. Aku orang yang masuk akal. Aku selalu pribadi yang masuk akal. Pada usia tiga belas tahun aku mendengar panggilan Tuhan dan memutuskan untuk masuk seminari. Ayahku menentang gagasan itu. Dia tidak benar-benar tidak fleksibel, tapi dia menentang gagasan itu. Aku masih ingat bayangannya menyelinap dari kamar ke kamar di rumah kami, seolah-olah itu adalah bayangan musang atau belut. Dan aku ingat, aku tidak tahu bagaimana, tapi faktanya adalah aku mengingat senyumku di tengah kegelapan, senyum anakku. Dan aku ingat adegan berburu di permadani. Dan sebuah piring logam tempat makan digambarkan dengan semua hiasan yang sesuai. Aku tersenyum dan gemetar. Dan setahun kemudian, pada usia empat belas tahun, aku memasuki seminari, dan ketika aku keluar lagi, jauh kemudian, ibuku mencium tanganku dan memanggilku Padre, dan ketika, dalam keherananku, aku memprotes, mengatakan jangan memanggilku Padre, aku putramu, atau mungkin jangan memanggilku putra-Mu namun si anak, dia mulai menangis atau terisak, dan kemudian aku pikir, atau mungkin pemikiran hanya terjadi pada ku saat ini, jika hidup adalah suksesi pemahaman yang menuntun kita pada sebuah pemahaman akhir, satu-satunya kebenaran. Dan sedikit lebih awal atau sedikit kemudian, kira-kira beberapa hari sebelum ditahbiskan menjadi imam atau beberapa hari setelah mengucapkan sumpah suci, aku bertemu dengan Farewell, Farewell yang terkenal, aku tidak ingat persis di mana, mungkin di rumahnya. Aku pergi ke rumahnya, walaupun mungkin aku melakukan ziarah ke kantor editorial surat kabar atau mungkin aku melihatnya untuk pertama kalinya di klubnya, suatu sore yang melankolis, seperti pada sore hari di Buenos Aires, meskipun di dalam jiwaku burung sedang bernyanyi dan kuncup merekah menjadi bunga, seperti yang dikatakan penyair, dan ada perpisahan, tinggi, satu meter dan delapan puluh sentimeter, meskipun tingginya setinggi dua meter, mengenakan setelan jas halus Inggris, sepatu buatan tangan, dasi sutra, kemeja putih yang tak bernoda seperti harapanku, manset emas, lencana bantalan dasi yang tidak ingin aku tafsirkan tapi yang maknanya sama sekali tidak lolos dariku, dan Farewell mengundangku untuk duduk di sampingnya, sangat dekat, atau mungkin sebelum itu dia membawaku ke perpustakaan atau klub perpustakaan, dan sementara kami melihat-lihat duri buku-bukunya, dia mulai menjernihkan tenggorokannya, dan saat dia berdeham, dia mungkin telah mengawasiku dari sudut matanya, meskipun aku tidak dapat memastikannya, karena aku terus memusatkan perhatian pada buku-buku itu, dan kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak saya mengerti atau sesuatu yang tidak dimiliki memori aku, dan setelah itu kami duduk lagi, dia di Chesterfield, aku di atas kursi, dan kami membicarakan buku-buku yang duri yang telah kami lihat dan belaian, jari-jari mudaku yang segar dari seminari, jari-jari tebal Farewell sudah agak bengkok, tidak mengherankan mengingat usianya dan tinggi badannya, dan kami berbicara tentang buku-buku itu. dan penulis buku-buku itu, dan suara Farewell seperti suara seekor burung pemangsa besar yang melayang di atas sungai, gunung, lembah, dan jurang, tidak pernah bingung dengan ekspresi yang tepat, kalimat yang sesuai dengan pemikirannya seperti sarung tangan, dan ketika dengan naif dari seorang pemula, aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi seorang kritikus sastra, bahwa aku ingin mengikuti jejaknya, bahwa bagi aku tidak ada sesuatu di bumi yang bisa lebih memuaskan daripada membaca, dan untuk mempresentasikan hasil bacaanku dalam prosa yang bagus, saat aku bilang itu, Farewell tersenyum dan meletakkan tangannya di bahuku (sebuah tangan yang terasa seberat seperti jika terbungkus dalam tungkai besi atau benda yang lebih berat) dan dia bertemu dengan pandangan aku dan mengatakan bahwa ini bukan jalan yang mudah.








(Terjemahan bersambung)

Nb: Diperbarui secara berkala

Friday, 30 March 2018

Kafka on The Shore, Haruki Murakami

Sudah cukup lama saya tak membaca buku-buku Murakami. Seingat saya ada dua buku Murakami yang yang telah saya baca berkali-kali dan selalu menyenangkan untuk dibaca kembali. Salah satunya adalah Kafka On The Shore. Sebuah kisah tentang bocah lima belas tahun  yang memutuskan minggat dari rumah dan tinggal di sebuah perpustakaan. Kau bisa menyebutnysebuah karya picaraesque jika melihat banyak elemen-elemen itu dalam kisah ini.


Sang tokoh utama merupakan bocah lima belas tahun bernama Kafka Tamura, memutuskan minggat dari rumah. Sesederhana itu sebenarnya asal muasal kisah ini bermula. Kemudian masa lalu sang tokoh mengantarkannya pada sebuah pertemuannya dengan wanita yang cukup misterius di sebuah perpustakaan misterius, lagu yang tak kalah misterius, dan perpustakaan yang kelak menjadi persinggahan selama perlariannya. 

Bukan Murakami namanya jika tak membuat semacam perayaan terhadap penulis-penulis panutannya. Kali ini Kafka tampaknya menjadi sosok yang dijadikan elemen (dari judul pun siapapun akan bertanya-tanya) dalam kisah ini. Rasanya penulis kelahiran Ceko yang tersohor itu akan mengangkat alisnya di peristirahatannya saat membaca buku ini.

Yang membuat saya menarik pada novel ini ketika bocah tersebut berkali-kali berada pada sebuah keadaan yang membuatnya mengira jika seorang perempuan misterius yang dijumpainya adalah ibunya. Bagi anak lima belas tahun dengan masa lalu perih seperti Kafka tentu hal ini tak ubahnya sebuah pencarian tanpa henti. Ibu bagi setiap anak adalah cinta pertama yang tak akan bisa terelakan. Hingga kapanpun. Dan Kafka benar-benar berada dalam sebuah pusaran badai kehidupannya sendiri.

Sebesar-besarnya badai dalam kehidupan, musik dan buku memang akan selalu menjadi pemandu hidup seseorang. Setidakny kedua hal itu tak ubahnya virus-virus kecil yang merasuki pikiran yang sedang kalut dengan kejamnya dunia dan lingkungan sekitar. Hasilnya tentu saja sebuah pintu baru yang akan dimasuki. Dalam konteks ini tentu si protagonis, Kafka Tamura.

Yang membuat kisah ini kian menarik adalah beberapa karya film, musik dan buku yang kerap muncul di beberapa adegan. Murakami tampaknya tak sungkan memberikan rekomendasi film klasik karya Francois Truffaut (400 blows), karya sastra klasik timur tengah The Arabian Nights, hingga buku  Ernest Hemingway.

 400 Blows adalah film yang tentang seorang anak laki-laki yang tak mampu menikmati masa-masa kecilnya. Kehidupan Paris yang penuh gemerap kaum borjuis, terlalu awal merenggut masa kecilnya. Tunggu.  Sedikit ada persamaan nasib antara Antoine Doinel dengan Kafka Tamura yang tak memiliki masa kecil yang ideal layaknya bocah-bocah seusia mereka. 

Untuk kesekian kali saya akan mengatakan buku ini tak pernah membosankan. Dengan hampir lebih dari empat ratus delapan puluh halaman didalamnya, selalu ada hal baru yang bisa ditemukan. Berulang-ulang tanpa terasa berlebihan. Mengambil kutipan dalam buku ini "Kau akhirnya akan terlelap. Dan ketika kamu bangun, itu betul. Kau adalah bagian dari sebuah dunia yang baru."

D S

Thursday, 15 March 2018

Aunt Julia and the Scriptwriter, Mario Vargas Llosa

Apa konflik cinta terbesar yang kerap terjadi antara pria dan wanita ? Yang sering ada mungkin masalah perbedaan suku, agama, dan budaya. Hal-hal macam itu biasanya kerap menjadi ganjalan bagi kelangsungan hubungan asmara dua orang muda mudi, atau pria dan wanita dari berbagai usia. Mario Vargas Llosa kali ini membagi pengalaman kisah cintanya yang bisa dibilang cukup tak biasa juga bagi siapapun saya rasa.

Seorang seorang penulis skrip tak pernah menyangka jika ia kelak akan jatuh  hati pada bibinya sendiri. Berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, pada akhirnya pun sang penulis kemudian memutuskan menikah dengan sang bibi (meskipun tak memiliki ikatan darah). Jelas hal  itu bukan lagi kisah cinta yang terjal, melainkan namun sudah menjadi sebuah aib. Bukan saja  bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya, sebagaimana semua drama itu tersaji sepanjang cerita dalam novel ini.

Marito, sang protagonis, memilih untuk memberontak demi cintanya. Dalam hal ini, terkadang kecurigaan saya kian menjadi. Bahwasanya seseorang yang sedang dimabuk asmara akan melakukan hal-hal diluar nalar manusia normal. Dalam konteks kali ini tentu sebuah hasrat untuk menikahi perempuan yang dicintainya yakni sang bibi. Mungkin semua hal itu akan terdengar begitu naif pada akhirnya, apalagi bagi seorang mahasiwa hukum di Peru yang tengah memiliki mimpi meniti karirnya kepenulisannya di Perancis.


Dalam karya ini Mario Vargas Llosa mungkin bisa menjadi semacam penasehat bagi siapapun tanpa memandang gender. Ketika otoritas pemerintahan setempat tak memungkinkan menjalankan upacara pernikahan, Marito (panggilan untuk Mario kecil) memutuskan  melangsukankan pernikahan di sebuah desa yang memungkinnya mewujudkan hal itu.  Disana ada sebuah celah kecil di dalam hukum untuk merealisasikan kisah cinta mereka itu. Tentu kisah ini akan menjadi sebuah kisah yang langka. Siapapun bisa menjadikannya sebuah pelajaran dari berbagai sisi.

Mario Vargas Llosa seolah memperlihatkan sebuah kenyataan jika setiap manusia bisa saja jantuh cinta dengan siapapun.  Dengan perempuan yang lebih tua darinya atau lelaki yang lebih muda dari dirinya. Perkara hati memang tak pernah bisa ditebak.  Hampir mustahil memperkirakan kapan perasaan itu datang, dan perilaku orang-orang yang sedang jatuh hati memang kadang memicu berbagai akal untuk memuluskan segala rencana gila mereka, hingga  tak jarang hal itu membuat siapapun bisa membuatnya mengambil sebuah keputusan nekat. Pada akhirnya novel ini membawa saya kemana-mana. Sebuah kisah cinta tanpa sedikitpun mencoba mengumbar bualan klise yang kelewat manis.

D S







Thursday, 8 March 2018

A Soldier's Pay, William Faulkner

Novel ini memberikan sedikit harapan. Setelah melakukan percobaan beberapa kali, ini yang paling lumayan bisa saya cerna alur cerita dan maksud ceritanya. Jika membaca As I Lay Dying dan Sound and the Fury adalah sebuah introduksi dengan Faulkner dan membuat pusing kepala, saya menganggapnya sebagai perkenalan dengan cara yang salah. Kali ini upaya perkenalan itu berjalan sedikit lebih  baik dari kedua judul itu. Sebuah kisah tentang seorang tentara yang terluka di medan perang yang kembali ke kampung halamannya,

Donald Mahon, terluka parah dalam sebuah perang di Georgia. Ia pulang menempuh perjalanan kereta dengan kondisi yang menyedihkan. Tak ada yang menyangka ia akan kembali dari medan perang.  Kepulangannya ke rumah benar-benar menjadi sebuah kejutan. Semua keluarga dan kerabatnya telah mengira ia gugur di medan perang, termasuk sang kekasih. Semua hal pribadi yang terhenti dalam kehidupan Mahon, perlahan-lahan muncul kembali kehadapannya. 

Kepulangan Mahon pada akhirnya menjadi sebuah ironi. Sang ayah yang sudah merasa stoic mengingat kepergian putranya ke medan perang, perlahan menjadi optimis jika anaknya akan kembali pulih seperti sedia kala. Sang kekasih yang semula berharap jika Mahon akan menjadi seorang pahlawan perang justru tak menemukan apapun dalam kepulangannya itu. Yang ada hanya kondisi Mahon yang penuh luka dan trauma pasca perang.

Perang pada akhirnya adalah sebuah mimpi buruk tak berujung. Dampak yang ditimbulkan dalam diri Mahon benar-benar telah meruntuhkan dinding kepercayaan dirinya. Isolasi diri Mahon menjadi sebuah alienasi bagi dirinya dan bagi dunia. Penderitaan tampaknya belum berakhir untuk Mahon dalam kondisi fisik dan mental yang terguncang, hingga kemunculan perempuan yang sempat memiliki affair dengan Mahon. 

Cara bercerita Faulkner pada akhirnya jauh lebih liar untuk bisa diterima jika satu mengharapkan sebuah keteraturan alur cerita dan plot yang terstruktur, karena arus kesadaran yang coba dibangun Faulkner memang membuat proses pembacaan ini berjalan dengan lebih lambat pada akhirnya jika tak ingin kehilangan petunjuk dan maksud sang penulisnya. Ia menawarkan sebuah inovasi yang akan selalu segar untuk dinikmati berulang-ulang dari pecahan kristal ide yang dihamburkan di dalam ceritanya.

D S