Monday, 12 November 2018

Historia de un Cigarillo

(Diterjemahkan cerita pendek Historia de un Cigarillos )
(Karya : Felisberto Hernandez)

Untuk Antonio Soto (Boy)


Riwayat Sebatang Rokok


I

             Suatu malam aku mengambil kotak rokok dari dalam sakuku. Semua ini dilakukan hampir secara tak sengaja.Aku tidak menyadari bahwa rokok adalah rokok dan aku akan merokok. Untuk waktu yang lama dia telah memikirkan roh dalam dirinya; dalam roh manusia dalam hubungannya dengan pria lain; dalam roh manusia dalam hubungannya dengan hal-hal, dan aku tidak tahu apakah aku akan berpikir dalam semangat hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Tapi tanpa ingin, dia menatap sesuatu; kotak rokok. Dan sekarang aku menganalisis meninjau ingatanku. Dia ingat itu pertama dia mengancam untuk mengambil satu tetapi hampir menyentuh dengan jarinya. Lalu aku pergi untuk mendapatkan yang lain dan tidak mengambil yang tepat, ambil yang ketiga. Aku teralihkan pada saat mengeluarkan mereka dan aku tidak menyadari ketidakakuratanku. Tetapi kemudian aku berpikir bahwa ketika aku terganggu, mereka dapat menguasai aku sedikit, yang menurut hal kecil mereka, mereka memiliki sedikit semangat secara korelatif. Dan roh cadangan itu, dapat menjangkau mereka untuk melarikan diri, dan bahwa aku mengambil orang lain.


II



Malam yang lain aku berbicara dengan seorang teman. Kemudian aku terganggu dan aku merasakan hal lain tentang rokok. Ketika aku ingin merokok dan aku mengambil salah aku dari mereka, aku berpikir untuk mengambil salah satunya. Tanpa ingin menghindari mengambil salah satu yang rusak di ujungnya meskipun itu tidak akan mempengaruhi sehingga Anda tidak bisa merokok. Kecenderunganku adalah mengambil yang normal. Ketika aku menyadari ini, kukeluarkan rokok yang rusak lebih banyak dari kotak daripada yang lain. Undang rekanku. 
Aku melihat bahwa meskipun itu yang paling mudah untuk menggambar, dia memiliki perasaan yang sama tentang kesatuan yang normal dan lebih suka menggambar yang lain. Itu membuatku khawatir, tetapi ketika kami terus berbicara, aku lupa. Setelah sekian lama aku pergi merokok, dan pada saat mengeluarkan rokok saya ingat. Dengan banyak kejutan saya melihat bahwa yang rusak tidak ada di sana dan berpikir: << Aku akan merokok itu terganggu >> dan aku akan terbebas dari obsesi.


III


Pada malam yang sama di lain waktu ketika aku mengeluarkan kotak itu, aku menemukan yang berikut: rokok yang rusak itu tidak berasap, jatuh ke tanah dan mendatar di bagian bawah kotak. Jadi ketika aku melarikan diri berkali-kali, aku menjadi terobsesi lagi. Aku memiliki keingintahuan yang kuat untuk melihat apa yang akan terjadi jika aku merokok. Aku pergi ke teras, aku mengeluarkan semua yang ada di dalam kotak tanpa yang rusak; Aku masuk ke kamar dan menawarkannya kepada pasanganku , dia adalah satu-satunya dan aku harus merokok "itu". Dia disebut-sebut mengambilnya dan tidak mengambilnya. Dia menatapku dengan senyum. Aku bertanya kepadanya. «Apakah Anda memperhatikan?». Dia menjawabku: «tapi bagaimana aku tidak bisa memberikan akun». Aku kedinginan, tetapi dia segera menambahkan: "Hanya ada satu yang tersisa dan aku akan merokok sendiri". Lalu dia mengambil miliknya dan kami merokok dua paket yang sama.



IV


Keesokan paginya aku ingat bahwa malam sebelumnya aku telah meletakkan rokok yang rusak di meja samping tempat tidur. Meja cahaya tampak berbeda bagiku: aku punya aliansi dan asosiasi aneh dengan rokok itu. Tapi aku ingin bereaksi terhadapku. Aku memutuskan untuk membuka laci meja cahaya dan menghisapnya sebagai salah satu dari banyak. Aku membukanya aku ingin mengambil rokok aku secara alami sehingga jatuh dari tanganku. Aku menjadi terobsesi lagi. Aku bereaksi lagi. Tetapi ketika aku mengambilnya lagi, aku menemukan bahwa itu jatuh di lantai yang basah. Kali ini aku tidak bisa menghentikan obsesiku ; setiap kali menjadi lebih intens ketika mengamati suatu hal aktif yang sekarang terjadi di lantai: rokok menjadi semakin gelap ketika tembakau menyerap air.



Tamat












Tuesday, 6 November 2018

Famiglia, Natalia Ginzburg

Saya berikhtiar untuk membaca lebih banyak penulis perempuan, dengan alasan sederhana saja, yakni mengimbangi bacaan-bacaan yang mayoritas diisi penulis laki-laki. Setelah membacanya, tentu ingin saya pelajari hal-hal yang sekiranya tak pernah saya lihat dan kenal dalam keseharian saya. Sesederhana itu saja perjumpaan dengan  Famiglia  milik Natalia Ginzburg.

Ditengah keisengan saya berburu buku baru yang penulisnya belum pernah saya baca, kali ini ada sebuah penemuan unik. Unik dalam cara berceritanya  tentang kesederhanaan yang tak pernah terlintas di benak saya. Sebuah buku berisi dua novella yang berisikan konflik, serta tragedi dalam suatu hubungan percintaan yang karam atau yang level yang lebih tinggi yakni keluarga.

 "Famiglia"  adalah judul salah satu novella Natalia Ginzburg yang saya pinjam yang mengisahkan kehidupan dua orang mantan kekasih pasca karamnya kisah cinta keduanya. Alih-alih memutuskan beranjak dari pahitnya putus cinta. Keduanya memilih untuk sisa-sisa romansa yang telah telah tebangun masih belum lenyap dari keduanya. Rutinitas ke bioskop, atau sekedar berjumpa satu sama lain masih mereka lakukan.

Makanan dan gastronomi sepertinya menjadi sebuah penanda status sosial kelas menengah kaum Romano. Di atas segalanya, gastronomi adalah sarana komunikasi bagi  sang protagonis, Carmine, yang kemampuannya untuk memahami dan mengekspresikan emosinya sangat buruk, jika tak bisa dibilang menyedihkan


"Bourghesia" berbicara tentang konflik eksistensial dalam kehidupan modern. Sang tokoh utama, Ilaria, ditimpa sebuah tragedi di dalam keluarganya. Sebuah keluarga di kehidupan modern memang tak luput dari konflik internal. Harta seolah tak menjadi penentu utama keutuhan keluarga yang ideal. Masalah eksistensial manusia pada tatanan yang lain memang pelik sebagaimana Ginzburg menggambarkan dalam kisahnya.


Ada semacam perasaan unik yang muncuk seusai selama membaca buku ini. Sejujurnya saya sudah sekian lama mengincar karya penulis yang satu ini. Beberapa kali saya mendengar karyanya diperbincangkan teman-teman saya, namun tetap saja hal itu belum membulatkan niat untuk memulai membaca karyanya. Novella Ginzburg kali ini seolah menggambarkan kehidupan yang didefinisikan dalam perspektif kematian, yang merupakan satu-satunya cara untuk mendefinisikan kehidupan.

D S













Monday, 29 October 2018

Il Sangue

(Diterjemahkan cerita pendek Il Sangue )
(Karya : Cesare Pavese)


Darah


             Kengerianku akan darah dimulai pada hari saat kau mengerti di kerumunan orang-orang yang selalu berbondong-bondong menuju orang-orang yang baru lewat, dan mengelilingi sebuah trem: ada sesuatu di tanah dekat trem dan aku berteriak << Jangan pergi, jangan pergi >> tapi aku tahu bahwa orang mati ditutupi mereka dengan kain tenda. Keluar seorang wanita pucat, didampingi oleh seorang penjaga, dan tidak memiliki jejak darah: aku kecewa dan aku sudah pergi ketika aku menyadari bahwa wanita itu hanya takut seperti aku; dan kakiku sudah bergetar karena orang-orang mulai bergerak, dan sekarang aku harus melihat rel. Trem telah kembali; noda darah itu sangat besar, mengisi ruang di antara rel, dan alur berlari.


(Tamat)

......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Tuesday, 16 October 2018

El Criador de Gorilas, Roberto Arlt

Tulisan kali ini saya persembahkan kepada Eka Kurniawan. Setelah membaca artikel di blog pribadinya, yang membahas salah satu buku Arlt yang berjudul The Seven Madmen , maka saya memutuskan mengambil buku kumpulan cerpen Arlt yang berjudul El Criador de Gorilas (Peternak Gorila) di rak buku perpustakaan. Saya sempat berjanji kepadanya untuk mengulas salah satu buku Roberto Arlt. Seperti sebuah hutang, janji pun harus dibayar tuntas.

Sebetulnya judul lengkap buku ini adalah  El Criador de Gorilas, Un Viaje Terribile. Bagian satu lagi adalah sebuah sebuah novela berjudul Un Viaje Terribile (Sebuah Perjalanan mengerikan dalam bahasa Indonesia), karena kumpulan cerita pendek ini terasa amat istimewa bagi saya, dan tentu banyak hal tentang Artl yang kelak akan saya bahas di kesempatan berikutnya.

 Arlt terlalu istimewa untuk sekedar dibicarakan secara singkat. Karir kepenulisannya tak begitu cemerlang dibandingkan rekan-rekan senegaranya seperti Borges, Cortazar dan Sabato. Tentu hal itu tak dengan  mudah membuat dirinya terlupakan tanpa arti.  Perkenalan secara kebetulan ini ternyata mengantarkan saya pada karya-karya lainnya yang brilian.

Buku ini berisikan lima belas cerita pendek, yang ia tulis dalam perjalanannya dari Maroko menuju ke Spanyol. Dibuka dengan kisah berjudul La Factoria de Farjalla Bill Ali (Pabrik Farjalla Bill Ali) yang menceritakan tentang seorang peternak gorila. Farjalla Bill Ali digambarkan tak lebih dari seorang bajingan tengik.

Arlt ingin menghadirkan kaum-kaum yang tak terbias bahaya dalam setiap tokoh-tokoh pada kisahnya. Kisah berikutnya berjudul Halid Majid El Achicharrado (Hajid Malid Si Hangus), kisah tentang Enriqueta Dogson si orang gila, kemudian kejutan akan berlanjut dalam kisah peternak gorila (sesuai judulnya), cerita para penari padang pasir hingga kesinggahannya ke pulau Jawa pada salah satu kisahnya.


Kekagumannya terhadap Dostoevsky jelas tak bisa dipungkiri sebagaimana ia ceritakan dalam kumpulan artikel berjudul Aguafuertes Porte├▒as. Tokoh-tokoh dalam cerita Arlt adalah kumpulan manusia-manusia brutal, atau malah sekedar pecundang yang menginginkan sebuah pengakuan di dunia yang kejam.  Penulisnya sendiri juga tak jauh lebih malang dari tokoh-tokoh ciptaanya, tatkala karya-karyanya kerap dipenuhi kesalahan teknis sebagaimana di pengantar hal itu diakui editornya sendiri. Boro-boro mencapai ketenaran semasa hidupnya, Arlt tak pernah mendapatkannya hingga akhir hidupnya.

Disisi lain, kehidupan dalam semesta kisah-kisah Arlt jauh terbentang menembus batas-batas benua. Ia menaruh ketertarikan dan melihat keeksotisan kaum Muslim, dan Budha. Perjalanannya ke Maroko tampak begitu mempengaruhi sisi artistik Arlt. Afrika bukan saja satu-satunya ketertarikan dirinya karena ia juga bercerita tentang Jawa dimana seorang tokoh dalam kisahnya dikirim oleh ayahnya ke Singaraja.

 Ditengah krisis kepercayaan diri menciptakan karya yang lebih baik dari waktu ke waktu, Arlt hadir dengan cara bercerita yang tak biasa seolah memberi sisi lain bercerita bagi saya.  Tapi jelas satu hal yang pasti, bahwasanya  Roberto Arlt membuat saya kian cemburu dengan para penulis Argentina.  Ia bukan lagi seorang keturunan imigran yang berjuang mencari sebuah kehidupan yang lebih baik, karya-karyanya sudah sepantasnya disejajarkan bersama rekan-rekan seangkatannya. Dan pada akhirnya, Buenos Aires bukan lagi mimpi buruk saya seperti beberapa waktu silam.

D S

Tuesday, 9 October 2018

Soumission, Michel Houllebecq

"Tikus-tikus adalah mamalia cerdas, mereka akan menguraikan kita. Masyarakat mereka, bagaimanapun juga, baik lebih stabil daripada kita." ujar salah satu tokoh dalam kisah ini. Humor gelap macam itu kerap muncul dalam cerita ini. Perancis dalam perspektif Houllebecq terasa begitu getir, dan ia mencoba menyampaikan kisah satir ini yang tentu memancing banyak respon beragam dari apa yang coba disampaikannya.

Kelihaian Houellebecq jelas terlihat dalam eksplorasinya mengangkat tema-tema "ekstrim". Jelas itu akan berpotensi menimbulkan kontroversi, (bagi mereka yang mungkin menganggapnya terlalu vulgar dan sensitif) namun jika siapapun yang membacanya bisa melihat lebih luas, ini adalah semacam karya satir dengan balutan erotisme yang coba dihadirkan Houellebecq lengkap dengan humor gelapnya.. Soumission kian mempertegas keberadaanya sebagai penulis kontemporer perancis yang asik. Setidaknya bagi saya.

Kelak di masa depan , kelompok partai muslim memenangkan pemilihan presiden. Sang tokoh utama, Francoise, seorang profesor literatur tengah mengalami penurunan gairah hidup di usianya yang memasuki setengah abad. Karirnya perlahan meredup sebagai seorang pengajar, kehidupan sosialnya tak kalah memprihatinkan dengan kebiasaannya meniduri wanita-wanita mengantarkan dirinya sebagai "pemain handal" di setiap pergantian kalender tahun ajaran universitas.

Francoise seorang profesor literatur ; seorang spesialis yang karya-karya Huysmans; seorang womanizer mumpuni yang jatuh hati oleh seorang wanita yahudi. Sang profesor dengan pesona yang kuat tak memiliki kesulitan menggaet wanita-wanita yang ia inginkan. Ia bisa dengan mudah beranjak dari satu wanita ke wanita lainnya dengan personanya. Hal itu terjadi sebelum ia jatuh hati dengan Maryam, wanita yahudi, yang kelak membuatnya jatuh kepayang.

Jelas Houllebecq tak sedang bermaksud memprovokasi seantero negeri dengan berbagai hal yang terpampang dalam kisah Soumission ini, namun ini jelas menjadi sebuah penanda bahwasannya Perancis yang kini ia lihat perlahan telah berubah. Dari situ tampaknya ia tak ambil pusing menerima segala perbedaan dan memilih untuk merefleksikan pergesaran nilai-nilai budaya dengan semua balutan humor-humor hitam yang menghiasi kisah ini.


Terlepas dari segala polemik dan pertentangan terhadap Houllebecq dan karyanya, jelas karya ini kianmenempatkan dirinya pada penulis Perancis yang menjanjikan. Kecenderungannya memasuki area-area "tabu" mulai dari seksualitas, politik dan agama, sekiranya menjadikan karyanya  istimewa dari penulis-penulis kebanyakan. Ia berbicara dengan satir, vulgar dan sinis ketimbang menjadi penulis yang sopan dalam bertutur. Dan sesederhana itu Soumission dari Michel Houllebecq mengganggu pikiran saya dan akan terus menghinggapi untuk waktu yang panjang.

D S



Tuesday, 2 October 2018

El Cuarto Umbroso

Diterjemahkan dari cerita pendek:
El Cuarto Umbroso

Karya:
Rodrigo Rey Rosa


"Kamar yang Teduh"


           Dia sempat tinggal bersama kakak perempuannya, di dalam sebuah bangunan yang kini telah tiada. Dia memiliki untuk dirinya pintu yang menghadap ke jalan adalah mulut terowongan  dimana dia menolak masuk. Itu sudah cukup baginya untuk berjalan dari dinding ke dinding di ruang segi empatnya, dengan bantuan batang yang membuatnya berosilasi tanpa henti. Beberapa malam dia terbangun dengan lengan terulur, melindungi wajahnya, atau meraih meraih sesuatu yang ada di depannya. Di dekatnya ada saudara perempuannya, yang menyentuhnya untuk menenangkannya.
         Apa yang dia ketahui tentang dunia yang ia pelajari melalui saudara perempuannya. Dia biasa membaca untuknya, dan telah mengambil tangannya untuk membuatnya merasakan tepi meja. Dia telah mengajarinya untuk menggeser sentuhan di permukaan benda-benda lain, untuk melihat kualitasnya. Meskipun dia tidak memahami penampilan aslinya, yang keempat, dari waktu ke waktu, telah menjadi dunia yang kongkrit dan terbatas. Dia merasakan bentuk alamnya: lantai yang kotor, dapur, pot gelap, jendela di seberang.

                                                                                                                                         Tamat